Diam

Diamnya perempuan itu artinya mengiyakan, mbak. Saya masih ingat perkataan bapak2 pelaksana waskon itu yang saya tanggapi dengan ber-hehe ria. Mungkin benar, untuk kasus-kasus tertentu saja. Selebihnya, saya lebih memaknai diam itu sebagai bahasa penolakan, bahasa ketidaksukaan. Tidak berarti abstain, diam adalah pernyataan. Tidak selamanya ketidaksetujuan dinyatakan dengan kata-kata, bukan?

Jika ada orang yang berpandangan salah, apakah kita serta merta harus meluruskannya dengan langsung mengatakan seperti ini dan seperti itu – sementara kita belum begitu dekat dengannya- ? Saya rasa tidak.

Bagaimana menurutmu, kawan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s