catatan 12 Maret

Tri utami nurul hidayah” saya mendengar nama saya dipanggil, “nilainya 50. Coba lagi paling cepat sabtu depan ya…” lanjut bapak-bapak berseragam itu. Nge~ek. Ya sudahlah. Saya hanya benar 15 dari 30 soal yang diujikan. Padahal syarat minimal lulus adalah benar 18. Sebelum keluar dari ruangan itu, saya sempat melihat tulisan besar terpampang di tembok “Pungli Usir, Calo minggir!”. Hmm.. Baguslah.

Untuk mengobati sakit hati saya (halah), saya berniat mengunjungi beberapa tempat. Pertama yang saya kunjungi adalah rumah ibu kos saya semasa SMA. Kosan ini makin rame. Karena itulah, saya sempat bermimpi membangun perguruan tinggi di dekat rumah saya. Alasannya… biar rumah saya bisa dijadikan kos-kosan, biar orangtua saya ada yang nemenin. Hehe… mimpi kali yee…

Memang beberapa perguruan tinggi yang ada di kota ini cukup menambah daya tarik bagi para penuntut ilmu dari kota-kota sebelah, seperti Ngawi, Madiun, dan Magetan. Ya… untuk ukuran kota sekecil ini, hal tsb cukup membanggakan lah.. Salah satunya Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Letaknya persis di seberang SMA saya. Dulu, Masjid kampus ini, Masjid Al-Mannar menjadi tempat favorit anak-anak untuk melaksanakan shalat Dhuha. Di seberang perempatan, tidak jauh dari situ ada STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) Ponorogo. Dulu kalau ada orang nanya tentang kuliah saya, saya jawab STAN, orang nangkepnya STAIN kemudian komentar, “STAIN kok jauh-jauh ke Jakarta”. -,-“

Ada juga ISID (Institut Studi Islam Darussalam) Gontor, Insuri (Institut Agama Islam Sunan Giri), Universitas Merdeka, STKIP PGRI, Akbid Harapan Mulya, Akper… dan apa lagi ya…
Sebagian besar perguruan tinggi disini bernafas keislaman. Sebenarnya pondok ada lebih banyak lagi. Dari pondok modern hingga pondok salafi (bukan nama harakah ) yang jumlahnya lebih banyak dan tersebar dimana-mana.

Tujuan selanjutnya adalah Latansa Buku. Latansa Buku ini adalah salah satu badan usaha yang dikelola para santri Gontor, selain Latansa Sport, Latansa Bakery, dan latansa-latansa lain, yang notabene merupakan toko buku terlengkap di Ponorogo. Tapi ternyata, buku-buku yang saya cari tak saya temukan disana.

Cantiknya, di perjalanan pulang, kaki dan tangan saya mendadak lemas melihat pak polisi dan para jajarannya beroperasi memeriksa kelengkapan berkendara. Ya iyalah, gila aja. Dalam peraturan terbaru, denda untuk pengendara yang belum memiliki SIM sebesar Rp 500 ribu. Bisa gak makan 1 bulan nih.

Tapi, mujur tak dapat ditampik, pak polisi tidak menyetop saya. Karena memang yang di setop yang ke arah berlawanan dengan saya… haha… tuingtuing. Sebenarnya saya sudah menyiapkan alasan jika ditanya mengenai SIM, “nih, pak” (menunjukkan nilai hasil gagal ujian), “setidaknya saya sudah setengah jalan menuju tobat” meski saya yakin alasan ini tak bisa diterima… hehe… emangnya bisa dianalogikan dengan kisah si pembunuh genap 100 orang?

Sore setelah selesainya agenda pekanan, saya mengunjungi seorang sahabat dekat saya semasa SMA sekaligus teman sebangku saya. Ya Allah, ternyata begitu banyak hal yang terjadi pada dirinya… Tiga bulan lalu ayahnya meninggal, dan sebulan yang lalu beliau menikah. Dan sekarang beliau sedang menghadapi ujian lain dari Allah. Berilah kesabaran dan kekuatan padanya, Ya Allah..
Hanya mendengar saja, itu cukup. Bukankah selama ini kamu sudah meyakini sebuah postulat bahwa terkadang wanita itu hanya butuh didengar…?! Kemana saja selama ini kamu, te…? Batin saya merutuk.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s