Perjalanan untuk menjadi lebih baik

Jangan sekali-kali kau menganggap jalan (merubah diri menjadi baik) itu mudah
Seseungguhnya lisan akan cenderung diam, jika jiwa tidak bergejolak. Dalam diam itu, engkau akan lebih bisa meraba keburukan. Jika engkau sudah bisa merabanya, maka jiwa akan luluh dan hancur, lalu menyadari bahwa dirimu berada di jalan yang berlawanan dari kehendak Allah swt. Setelah itu, ingatkanlah jiwa dengan kekeliruan-kekeliruan yang dilakukan, satu persatu. Kenalilah apa akibat setiap kekeliruan itu, sampai benar-benar disadari.

Jika engkau menyadari diri telah lalai dan melakukan dosa, jadikan dirimu bisa berlama-lama mengingat dosa itu, dan besar-besarkan ingatan tentang akibat dari kelalaian itu. Munculkan waham seolah kita tidak melakukan ketaatan apa-apa kecuali kemaksiatan itu. Lupakanlah ketaatan yang pernah engkau lakukan. Sampai engkau yakin akan hancur bila tidak segera bertaubat. Sampai suara hati kita berteriak dan menangis.

Tapi jika jiwamu tidak bangkit, dan airmata tidak mengucur juga, sampaikanlah kepada hati dan jiwa bahwa engkau tetap harus melepas diri dari kemaksiatan itu. Dan langkah ini takkan terjadi kecuali jika engkau tinggalkan semua sebab kemaksiatan, meninggalkan semua orang, semua teman, semua benda yang menjadi sebab dan tangga maksiat. Beritakan kepada jiwa, bahwa engkau tidak akan bisa bertaubat dengan sah kecuali dengan meninggalkan semua itu.

Jika jiwamu masih belum bisa melakukan itu dan menolaknya, maka hancurkan kekerasan jiwa itu dengan memperbanyak puasa, hinakanlah ia dengan rasa lapar. Karena sesungguhnya jiwa jika mengalami sakit karena lapar, ia akan tunduk, mau mendengar dan cenderung pasrah untuk menerima apa saja.

Jika engkau mendapati jiwa ingin menunda-nunda untuk kembali, dan membayangkan waktu panjang dan pendek, bawalah ia secara paksa untuk mengingat tak ada ajal yang bisa diperkirakan. Bahwa mungkin saja ajal itu datang kepada jiwa sebelum ia menunaikan keinginan kembalinya. Lalu ulangi lagi, katakan kepada jiwamu tentang hukuman dan kengerian.

Ajarkan ia berdzikir untuk mengganti kelalaian dan kelupaan. Paksa dai untuk teliti dan berfikir daripada ceroboh dan terburu-buru. Beri dia kelezatan bermunajat kepada Allah swt, nikmatnya membaca kitab-Nya serta mempelajari ilmu pengetahuan. Kenali dia denga sirah-sirah orang shalih dan bagaimana akhlak mereka. Lakukan itu untuk mengisi kekosongan karena ia telah meninggalkan suasana kebathilan, lingkungan orang-orang yang merusak.

Sesungguhnya mencapai puncak itu sulit, tapi bertahan di puncak itu lebih sulit.

(Shaidul Khatir -Ibnul Jauzi)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s