kisah Abu Yazid

Mari kita dengar sejenak tentang kisah Abu Yazid (belum genap berusia 10 tahun) pada sepotong malam ketika ia menghafal Al-Muzammil di hadapan ayahnya…

Abu Yazid : “yaa ayyuhal muzzammil qumillaila illa qaliila…..( wahai orang2 yang berselimut, bangunlah dua waktu malam kecuali sedikit)
Ayah, siapa yang dikatakan orang yang berselimut dalam ayat ini?

Ayah : anakku, yang dimaksud adalah nabi Muhammad

Abu Yazid : ayah, kenapa engkau tidak melakukan shalat tahajjud, sebagaimana yang rasul lakukan?

Ayah : anakku, bangun malam itu hanya diwajibkan khusus pada nabi saja, tapi tidak untuk ummatnya

Abu yazid : (terdiam) (melanjutkan hafalannya)
Inna rabbaka ya’lamu annaka taqumu adna min tsulutsayil laili wa nishfahu wa tsulutsahu wa thaifatun minalladzina ma’aka (sesungguhnya Rabbmu mengetahui bahwa engkau berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, seperdua malam atau sepertiganya, bersama kelompok orang yang bersamamu)
Ayah, aku mendengar dalam ayat ini, ada kelompok orang yang mendirikan shalat bersama Rasulullah, siapa mereka itu?

Ayah : anakku, mereka itu para sahabat radhiyallahu ‘anhum

Abu Yazid : kalau begitu ayahku, apakah baik jika kita meninggalkan apa yang dilakukan Rasulullah dan para sahabatnya?

Ayah : (tercenung) Engkau benar anakku

Malam harinya,

Ayah : (akan melakukan shalat malam)

Abu Yazid : (terbangun) ayah, tolong ajarkan aku bagaimana caranya berwudhu dan aku ingin shalat bersamamu

Ayah : anakku, tidurlah… kamu masih kecil…

Abu Yazid : ayah, jika nanti pada hari manusia tercerai berai, dan masing2 orang diperlihatkan amal mereka selama hidupnya, saya akan berkata kepada Allah, “aku telah meminta pada ayahku utnuk mengajariku bagaimana caranya berwudhu, agar aku bisa melakukan shalat bersamanya. Tapi ayahku hanya mengatakan ‘tidurlah… kamu masih kecil’”

Ayah : (terkejut) tidak, demi Allah wahai anakku. Aku tidak ingin hal itu terjadi

Disarikan dari Mencari Mutiara di Dasar Hati- Muhammad Nursalim dari Anba Nujaba Al-Abna, syaikh Ibnu Zufr Al-Makky

Diam

Diamnya perempuan itu artinya mengiyakan, mbak. Saya masih ingat perkataan bapak2 pelaksana waskon itu yang saya tanggapi dengan ber-hehe ria. Mungkin benar, untuk kasus-kasus tertentu saja. Selebihnya, saya lebih memaknai diam itu sebagai bahasa penolakan, bahasa ketidaksukaan. Tidak berarti abstain, diam adalah pernyataan. Tidak selamanya ketidaksetujuan dinyatakan dengan kata-kata, bukan?

Jika ada orang yang berpandangan salah, apakah kita serta merta harus meluruskannya dengan langsung mengatakan seperti ini dan seperti itu – sementara kita belum begitu dekat dengannya- ? Saya rasa tidak.

Bagaimana menurutmu, kawan?

catatan 12 Maret

Tri utami nurul hidayah” saya mendengar nama saya dipanggil, “nilainya 50. Coba lagi paling cepat sabtu depan ya…” lanjut bapak-bapak berseragam itu. Nge~ek. Ya sudahlah. Saya hanya benar 15 dari 30 soal yang diujikan. Padahal syarat minimal lulus adalah benar 18. Sebelum keluar dari ruangan itu, saya sempat melihat tulisan besar terpampang di tembok “Pungli Usir, Calo minggir!”. Hmm.. Baguslah.

Untuk mengobati sakit hati saya (halah), saya berniat mengunjungi beberapa tempat. Pertama yang saya kunjungi adalah rumah ibu kos saya semasa SMA. Kosan ini makin rame. Karena itulah, saya sempat bermimpi membangun perguruan tinggi di dekat rumah saya. Alasannya… biar rumah saya bisa dijadikan kos-kosan, biar orangtua saya ada yang nemenin. Hehe… mimpi kali yee…

Memang beberapa perguruan tinggi yang ada di kota ini cukup menambah daya tarik bagi para penuntut ilmu dari kota-kota sebelah, seperti Ngawi, Madiun, dan Magetan. Ya… untuk ukuran kota sekecil ini, hal tsb cukup membanggakan lah.. Salah satunya Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Letaknya persis di seberang SMA saya. Dulu, Masjid kampus ini, Masjid Al-Mannar menjadi tempat favorit anak-anak untuk melaksanakan shalat Dhuha. Di seberang perempatan, tidak jauh dari situ ada STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) Ponorogo. Dulu kalau ada orang nanya tentang kuliah saya, saya jawab STAN, orang nangkepnya STAIN kemudian komentar, “STAIN kok jauh-jauh ke Jakarta”. -,-“

Ada juga ISID (Institut Studi Islam Darussalam) Gontor, Insuri (Institut Agama Islam Sunan Giri), Universitas Merdeka, STKIP PGRI, Akbid Harapan Mulya, Akper… dan apa lagi ya…
Sebagian besar perguruan tinggi disini bernafas keislaman. Sebenarnya pondok ada lebih banyak lagi. Dari pondok modern hingga pondok salafi (bukan nama harakah ) yang jumlahnya lebih banyak dan tersebar dimana-mana.

Tujuan selanjutnya adalah Latansa Buku. Latansa Buku ini adalah salah satu badan usaha yang dikelola para santri Gontor, selain Latansa Sport, Latansa Bakery, dan latansa-latansa lain, yang notabene merupakan toko buku terlengkap di Ponorogo. Tapi ternyata, buku-buku yang saya cari tak saya temukan disana.

Cantiknya, di perjalanan pulang, kaki dan tangan saya mendadak lemas melihat pak polisi dan para jajarannya beroperasi memeriksa kelengkapan berkendara. Ya iyalah, gila aja. Dalam peraturan terbaru, denda untuk pengendara yang belum memiliki SIM sebesar Rp 500 ribu. Bisa gak makan 1 bulan nih.

Tapi, mujur tak dapat ditampik, pak polisi tidak menyetop saya. Karena memang yang di setop yang ke arah berlawanan dengan saya… haha… tuingtuing. Sebenarnya saya sudah menyiapkan alasan jika ditanya mengenai SIM, “nih, pak” (menunjukkan nilai hasil gagal ujian), “setidaknya saya sudah setengah jalan menuju tobat” meski saya yakin alasan ini tak bisa diterima… hehe… emangnya bisa dianalogikan dengan kisah si pembunuh genap 100 orang?

Sore setelah selesainya agenda pekanan, saya mengunjungi seorang sahabat dekat saya semasa SMA sekaligus teman sebangku saya. Ya Allah, ternyata begitu banyak hal yang terjadi pada dirinya… Tiga bulan lalu ayahnya meninggal, dan sebulan yang lalu beliau menikah. Dan sekarang beliau sedang menghadapi ujian lain dari Allah. Berilah kesabaran dan kekuatan padanya, Ya Allah..
Hanya mendengar saja, itu cukup. Bukankah selama ini kamu sudah meyakini sebuah postulat bahwa terkadang wanita itu hanya butuh didengar…?! Kemana saja selama ini kamu, te…? Batin saya merutuk.

Perjalanan untuk menjadi lebih baik

Jangan sekali-kali kau menganggap jalan (merubah diri menjadi baik) itu mudah
Seseungguhnya lisan akan cenderung diam, jika jiwa tidak bergejolak. Dalam diam itu, engkau akan lebih bisa meraba keburukan. Jika engkau sudah bisa merabanya, maka jiwa akan luluh dan hancur, lalu menyadari bahwa dirimu berada di jalan yang berlawanan dari kehendak Allah swt. Setelah itu, ingatkanlah jiwa dengan kekeliruan-kekeliruan yang dilakukan, satu persatu. Kenalilah apa akibat setiap kekeliruan itu, sampai benar-benar disadari.

Jika engkau menyadari diri telah lalai dan melakukan dosa, jadikan dirimu bisa berlama-lama mengingat dosa itu, dan besar-besarkan ingatan tentang akibat dari kelalaian itu. Munculkan waham seolah kita tidak melakukan ketaatan apa-apa kecuali kemaksiatan itu. Lupakanlah ketaatan yang pernah engkau lakukan. Sampai engkau yakin akan hancur bila tidak segera bertaubat. Sampai suara hati kita berteriak dan menangis.

Tapi jika jiwamu tidak bangkit, dan airmata tidak mengucur juga, sampaikanlah kepada hati dan jiwa bahwa engkau tetap harus melepas diri dari kemaksiatan itu. Dan langkah ini takkan terjadi kecuali jika engkau tinggalkan semua sebab kemaksiatan, meninggalkan semua orang, semua teman, semua benda yang menjadi sebab dan tangga maksiat. Beritakan kepada jiwa, bahwa engkau tidak akan bisa bertaubat dengan sah kecuali dengan meninggalkan semua itu.

Jika jiwamu masih belum bisa melakukan itu dan menolaknya, maka hancurkan kekerasan jiwa itu dengan memperbanyak puasa, hinakanlah ia dengan rasa lapar. Karena sesungguhnya jiwa jika mengalami sakit karena lapar, ia akan tunduk, mau mendengar dan cenderung pasrah untuk menerima apa saja.

Jika engkau mendapati jiwa ingin menunda-nunda untuk kembali, dan membayangkan waktu panjang dan pendek, bawalah ia secara paksa untuk mengingat tak ada ajal yang bisa diperkirakan. Bahwa mungkin saja ajal itu datang kepada jiwa sebelum ia menunaikan keinginan kembalinya. Lalu ulangi lagi, katakan kepada jiwamu tentang hukuman dan kengerian.

Ajarkan ia berdzikir untuk mengganti kelalaian dan kelupaan. Paksa dai untuk teliti dan berfikir daripada ceroboh dan terburu-buru. Beri dia kelezatan bermunajat kepada Allah swt, nikmatnya membaca kitab-Nya serta mempelajari ilmu pengetahuan. Kenali dia denga sirah-sirah orang shalih dan bagaimana akhlak mereka. Lakukan itu untuk mengisi kekosongan karena ia telah meninggalkan suasana kebathilan, lingkungan orang-orang yang merusak.

Sesungguhnya mencapai puncak itu sulit, tapi bertahan di puncak itu lebih sulit.

(Shaidul Khatir -Ibnul Jauzi)

pengawet kesadaran

Suatu ketika, seorang kawan mengirim sms yang bunyinya seperti ini, “kenapa iman itu naik turun?”
Saya jawab aja sekenanya, “mungkin seperti hati, kalau gak dibolak-balik dia bisa gosong. hehe”
Beberapa hari kemudian beliau mengirim lagi sms, “gw tau jawabannya, ta deh kapan2 gw ceritain”
sampe sekarang belum diceritain…-,-“
(kalo ybs baca ini, boleh deh jelasinnya disini)
—-
Setelah difikir-fikir, iya ya, kenapa “pagi beriman, malam makshiyat”?
yang saya tanyakan, mengapa begitu cepat???
apa gak bisa, tanggal 1 beriman, tanggal 5 makshiyat?
—-
Adakah ramuan pengawet keimanan?
Adakah yang bisa menjaga kesadaran agar bisa bertahan -sedikit lebih lama?
Kalau ada yang tau resepnya, bagi-bagi ke saya ya…..

[PR]

Akhirnya saya putuskan untuk mengerjakan tugas timpukan dari Anas. Meski muncul dilema-dilema. Ah, saya takut secara tidak sadar saya menuliskan hal-hal yang baik-baik, padahal itu tidak pernah ada pada diri saya. Atau, kalaupun ada satu atau dua yang benar, saya takut itu riya’. Bukankah ia samar sesamar semut hitam diatas batu hitam?
Sebenarnya, lebih mudah bagi saya menemukan keburukan-keburukan saya. Tapi, artinya itu mengumbar aib dong.. Hehe…
Yo mbohlah… saya coba share yang paling netral…
1. Thank and link to the person who awarded me this award
Terimakasih saya ucapkan kepada rekan saya, Anas, yang telah merantaikan tugas ini salah satunya kepada saya. Semoga kebaikan dan keberkahan menyertai aktivitas timpuk-menimpuk ini.
2. Share 7 things about myself
a.
Sesuai award yang diberikan kepada saya, mp-er yang begitu lugas dan sederhana dalam menyampaikan gagasannya -sesederhana site ini, maka saya meletakkan ‘masalah bahasa‘ saya pada poin pertama. Hehe… Sepertinya sudah bosan saya mendeklarasikan ini. Jadi cukup segini aja yak…

b. Saya mencintai jalanan. Dari sana saya banyak menangkap misteri kehidupan. Disana mata bisa lebih dekat melihat, telinga lebih terasah mendengar… Dan mp3 “Punk Rock Jalanan” masih setia nangkring di playlist saya.

c. Left hemisphere dominant & predominantly visual learner
itu hasil test keseimbangan otak. Dari dulu sampai sekarang hasilnya sama. Saya dulu sempat berusaha melatih kemampuan otak kanan saya. Sampe mempraktikkan saran-saran dari Fatih (Laptopmini). Mulai dari melatih mendengarkan suara-suara harmoni seperti detik jarum jam, sampai merem di saat lampu merah, dan nyoba melek tiap 10 detik sekali, apakah hitungannya pas. Ternyata selalu terlambat itungan saya… Hehe…

Sifat2 orang yang dominan otak kiri dan pembelajar visual diantaranya : kesulitan dalam hal verbal (ini lagi), cenderung berfikir acak/tidak teratur (seperti ketika ngerjain soal ujian, acak, dari belakang ke depan trus ke belakang lagi… gak jelas lah), mengandalkan logika… , lebih cepat memahami bangun ruang dan peta (sifat laki2 banget), sulit multitasking, lebih mudah menghafal dari membaca tulisan daripada mendengar suara.

d. Sanguin-phlegmatis
Tidak perlu dijelaskan lah ya…

e. Dry Humor
Kadang bercanda dengan kalimat sedikit yang menggigit. Bikin “krik.. krik…” Hehe

f. Tersetting ndeso…
Mulai dari hobi, makanan kesukaan, dsb.

g. Terakhir, (maafkanlah… saya ngapik-ngapiki diri sendiri) on time.
Untuk hal yang satu ini, saya agak saklek.

Hehe.. makin lama makin gak ada penjabaran.

Ehm, tapi tujuh keknya cukup deh. Udah yak?
Sebagian besar sudah saya tuliskan waktu dapet timpukan yang ’10 fakta tentang saya’ itu. Bagi
yang waktu itu beruntung mendapatkan share dari saya, mohon maaf mesti mengulangi mendengar celoteh ini lagi.

3. Pay it forward to 8 bloggers that i have recently discovered.
Hmm… siapa ya… tar deh, nyusul insyaallah.

Alhamdulillah, satu kewajiban sudah gugur…