sungguh menakjubkan


sungguh menakjubkan urusannya
saat mendapat nikmat, ia bersyukur… dan itu baik untuknya.
saat mendapat musibah, ia sabar… dan itu baik untuknya.
saat kuat, ia dicintai Tuhannya… dan itu baik untuknya
saat lemah, digugurkan dosanya… dan itu baik untuknya
saat berhasil, ia memuji Tuhannya… dan itu baik untuknya
saat gagal, ia belajar dari kesalahannya… dan itu baik untuknya

ada yang mau menambahkan? (nambah bayar sendiri! )

siapakah dia? dialah orang mukmin… keistimewaannya tak dimiliki orang kafir. meski keduanya sama2 merasa sakit, tapi seorang mukmin teristimewakan dengan pengharapan pahala dan kedekatan dengan Tuhannya.


gambar dari sini

karena itulah orang mukmin itu tidak takut dan tidak bersedih hati… karena ia percaya (lagi2 quote ini)

Lebay

Dia masih ingat ketika kemarin kalian berdua (kau dan dia) duduk mengenaskan di kursi penumpang sebuah bis – yang keadaannya tak kalah mengenaskan- jurusan Pati-Purwodadi, tengah hari itu. Kalian sama-sama tak tau seperti apa bumi Purwodadi itu, dan apakah benar darisana kalian akan bisa sampai ke Solo atau tidak. Tapi satu hal yang sama-sama kalian yakini waktu itu, bahwa kalian percaya, dan kalian tidak akan pernah takut, selain kepada Allah tentunya.

Tapi ternyata kepercayaan itu tidak mampu menyingkirkan egoisme kalian. Kelelahan fisik, setelah sehari sebelumnya melewati jalur kuping Semarang, makin memakluminya. Kalian duduk disana, tepat dibelakang pak sopir, sementara orang-orang berjubel memadati ruang-ruang yang tersisa ;Ibu-ibu, anak-anak, simbah-simbah. Seolah-olah sudah kompromi sebelumnya, kalian sama-sama pura-pura tak melihatnya.Diam. Tenggelam dalam keberpuraan masing-masing.

Dari Purwodadi, kalian bertolak ke Solo. Perjalanan inilah yang membuatnya semakin mengagumimu. Kau melakukan hal yang sulit dia lakukan, mengajak ngobrol anak-anak. Dia memang memberikan pangkuannya untuk mereka, tapi dia tak pernah bisa mengajak mereka bercerita. Dunia anak-anak seolah begitu jauh darinya. Seperti sebuah misteri yang sulit sekali terpecahkan. Meski demikian, dia tak akan menampakkan muka culun penuh kekaguman kepadamu. Karena gengsi tentu.

Tapi sepertinya, dia emang lebay. Sedikit-sedikit terharu, terharu kok sedikit-sedikit…

Bayangpun, konsentrasinya di perjalanan bisa hilang beberapa saat hanya karena melihat seorang lelaki kecil berseragam biru putih menggandeng tangan nenek-nenek melewati zebra cross. Kesadarannya baru kembali setelah klakson bersahutan dari belakang, lampu ijo woyyy!

Lebay, kan?!

Dia tahu, sebenarnya jiwanya tak sebegitu sosialisnya. Namun kadang, emosi melankolisnya begitu kuat menyeruak. Entahlah, mungkin karena pengaruh masa lalunya. Padahal kenyataannya keterharuannya tak beranjak dari tataran hati aja, tidak pernah mewujud dalam laku.


catatan ini dibuat setelah membaca note ini : http://www.facebook.com/home.php?sk=group_178209705546430&ap=1#!/note.php?note_id=10150098043364421

dewasa?

“Memang kenapa gak jadi datang?”
“Gak diizinin sama orangtua kalau sendirian”.
“Owh…”
Saya jadi berfikir, betapa beruntungnya saya, bapak ibu hampir tidak pernah melarang saya bepergian. Baik izinnya udah dari jauh hari atau mendadak, baik perginya jauh atau dekat, baik sama-sama teman atau sendirian, baik udah dikasih uang saku atau belum. Cukup sedikit kata untuk meyakinkan mereka bahwa anaknya ini akan baik-baik saja.
Walaupun begitu, syaithan itu memang begitu jahat. Dia membisikkan kata-kata yang tak perlu saya dengar… “Kamu gak iri melihat orangtua mereka begitu mengkhawatirkan anak-anaknya….?” Jyaaah… akan kubunuh kau syaithaaaaan……! Orangtuaku mengizinkanku karena menganggap aku udah dewasa… bisa bertanggungjawab atas tindakan yang kulakukan….!!!

Seperti yang terjadi lagi kali ini. Teman SMA saya yang sekarang masih kuliah semester 8 di salah satu institut di Surabaya kebetulan sedang pulang ke rumah. Kami terakhir ketemu lebih dari 2 tahun yang lalu. Beliau mengajak saya main ke Telaga Ngebel. Setau saya, inilah satu-satunya tempat wisata di Ponorogo, dan itupun belum saya kunjungi sama sekali. Mengingat ini adalah kesempatan langka, tanpa pikir panjang, saya mengiyakan.
Yang harus dipikirkan adalah bagaimana izin ke orangtua, mengingat medan perjalanan kesana cukup sulit. Berada di ketinggian xxx dpl, jalanan menuju kesana dipenuhi tikungan dan tanjakan. Tapi ternyata, seperti sebelum-sebelumnya, saya mendapatkan izin dengan mudah. Horrayyy….

Seperti keadaan telaga-telaga pada umumnya, pemandangan disana masih begitu asri dan alami – dan cukup sepi. Yang kami jumpai hanya pasangan muda-mudi mojok di sepanjang tepian telaga. Dan akhirnya, kami-pun ikut-ikutan berkhalwat sambil cekikikan bernostalgila… Ah, senangnya….

Dan ada satu kuliner khas yang tidak boleh terlewatkan, Nila Bakar dengan Nasi Tiwul. Dua porsi nila bakar plus teh hangat dipatok harga 25 ribu. Ya lumayan… Tapi gakpapa, mumpung semalam baru dapet uang tunggu yang pertama… ^^

iman dan takut

Rasa takut itu manusiawi, bahkan juga hewani. Ia muncul sebagai bagian dari mekanisme mempertahankan diri ketika ada gelagat yang membahayakannya.
Shahabat seagung Abu Bakar-pun pernah sangat ketakutan dalam peristiwa hijrahnya dengan Rasulullah, khawatir orang Quraisy memergoki persembunyian mereka. “Ya Rasulullah, sekiranya ada salah seorang melihat ke bawah, maka akan melihat kita”
“Diam, ya Abu Bakar. Kita berdua dan Allah ketiganya” jawab Rasulullah.
Hadits ini dishahihkan oleh Bukhari.

Keyakinan -ada Allah bersama kita- inilah yang akan menghilangkan segala bentuk ketakutan kepada selain-Nya. Kita beriman kepada Allah, kita yakin kepada Allah, kita percaya kepada Allah, maka

“Janganlah takut pada mereka, tapi takutlah kepada-Ku, jika kalian orang-orang yang beriman.” (Qs. Ali-Imran: 175).

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak mereka bersedih hati. (QS. Al-Baqarah : 277)
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. “ ( Qs Yunus : 62-63 )

———————–
Keimanan dan rasa takut kepada apapun-selain-Allah berbanding terbalik. Ah, bagaimana kabar imanku sekarang? Kenapa rasa takut yang tak beralasan itu muncul? Duhai hati, ingatlah Allah, mohonlah pada-Nya agar diberi keselamatan… bukan melarikan diri dengan memaksakan mata terpejam dan berharap pagi tidak segera datang.

(catatan lama)

bukan dudulz

Terakhir saya mengalami insomnia saat masih SMA. Benar-benar menyiksa. “Udah, kamu jangan berfikir gak bisa tidur! Makin gak bisa tar...” teman saya berkali-kali menyugesti demikian. Sejak masuk kuliah, sampai sekarang, alhamdulillah tidak pernah merasakan lagi susah tidur. Yang ada malah sebaliknya. Pelor, orang bilang demikian, tiap nempel molor.

Dan belakangan, pelornya ini makin parah. Malah gak nempel-pun, bisa molor. Kemarin, nunggu absen siang sambil duduk2 di aula kantor, ketiduran. Sampe orang-orang gak tega bangunin. (fyi. untuk DJP Jatim, absennya 4 kali. masuk-istirahat2x-pulang). Tadi malem, 5 menit menjelang adzan isya’, ketiduran, masih diatas sajadah. Tadi pagi, sambil nunggu adzan shubuh, kira-kira 3 menit lagi, sambil baca-baca buku, ketiduran lagi. Errrrr… Parahhhh… Agak siangan dikit, buka buku, ketiduran lagiiiii…. (udah kehabisan ekspresi). Saya mulai ilfil pada diri sendiri. Mulai anti melihat tempat nyaman. Mulai menghindari pewe. Baca buku? Koridor atau balkon sana!

Kalau dipikir-pikir, kerjaan saya tuh gak capek-capek amat. Pekan ini di TPT. Sepanjang hari cuma duduk di loket. Kurang olahraga? mungkin…