hati.hati

Dari Nu’man bin Basyir, yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Mulim, “Sesungguhnya yang halal itu sudah jelas dan yang haram itu sudah jelas, diantara perkaranya ada perkara syubhat yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Barangsiapa berhati-hati dengan barang syubhat, ia telah memelihara agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjatuh ke dalam syubhat, maka ia telah terjerumus ke dalam yang haram. Seperti seorang penggembala yang menggembala di sekitar daerah larangan, lambat laun akan masuk ke dalamnya. Ketahuilah setiap raja memiliki daerah larangan, sedangkan daerah larangan Allah adalah apa-apa yang diharamkanNya. Ketahuilah dalam jasad itu ada segumpal daging, apabila dia baik maka baiklah seluruh jasad, dan apabila dia buruk maka buruklah seluruh jasad. Ketahuilah, dia adalah hati “.

Rasulullah telah memperingatkan kita untuk berhati-hati dari hal-hal yang syubhat ( Adapun penjelasan tentang syubhat dan pembagiannya, silakan dibaca dalam pembahasan lain ). Perkara syubhat ini menyangkut hal-hal yang masuk tubuh kita (yang kita konsumsi), apa-apa yang masuk perut kita, juga apa-apa yang masuk otak kita. Tubuh ini adalah tubuh kita. Segala yang masuk ke dalamnya akan menjadi tanggungjawab kita. Otak ini otak kita. Apa-apa yang dikonsumsinya juga menjadi tanggungjawab kita. Maka, mari kita pelihara tubuh kita dari hal-hal yang bisa merusaknya.

Kita ingat betapa Abu Bakr ra sangat berhati-hati dalam perkara ini. Dikabarkan oleh ‘Aisyah yang diabadikan dalam Shahih Bukhari, bahwa suatu ketika Abu Bakr pernah mencicipi makanan yang diberikan oleh budaknya. Maka budak tersebut bertanya kepadanya, ” apakah engkau tahu darimana aku mendapatkan makanan ini?”. “Darimana engkau mendapatkannya” tanya Abu Bakr. Budaknya menjawab, “Dulu, zaman jahiliyah aku pernah meramal untuk seseorang, sebenarnya aku tidak pandai meramal, namun aku cuma menipunya. Lalu orang itu menemuiku dan memberi upah kepadaku. Inilah hasilnya, apa yang engkau makan sekarang”. Mendengar itu, Abu Bakr langsung memasukkan tangannya ke dalam mulutnya untuk memuntahkan makanan yang terlanjur masuk kerongkongannya, dan ia memuntahkan semua makanannya itu.

Banyak sekali kisah para pendahulu kita yang menceritakan tentang sikap hati-hati ini. Silakan dicari sendiri. Berhati-hati tentu tidak sama dengan sikap berlebihan yang malah akan mempersulit diri sendiri. Misal, dalam hal fiqh, ketika akan shalat kita meributkan kesucian pakaian kita. Jangan-jangan tadi ujung rok kita mengenai najis, kan nyeret-nyeret.Jangan-jangan. Jangan-jangan. Itu yang namanya berlebihan. Ya kalau ada alternatif yang mudah, tidak masalah. Tapi kalau hanya akan mempersulit diri, apalagi mengurangi keutamaan ibadah? Nah lho. Dalam hadits riwayat Muslim, ini disebut at-tanathu’. “Celakalah al-mutanathi’un“. Berlebih-lebihan seperti ini hanya akan membawa kepada kehancuran atau minimal mendekatinya.

Sebagai penutup, mari kita memohon kepada Allah untuk bisa memperbaiki kerusakan hati kita, agar seluruh jasad bisa menzhahirkan kebaikan sebagaimana yang ada didalamnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s