hati.hati

Dari Nu’man bin Basyir, yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Mulim, “Sesungguhnya yang halal itu sudah jelas dan yang haram itu sudah jelas, diantara perkaranya ada perkara syubhat yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Barangsiapa berhati-hati dengan barang syubhat, ia telah memelihara agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjatuh ke dalam syubhat, maka ia telah terjerumus ke dalam yang haram. Seperti seorang penggembala yang menggembala di sekitar daerah larangan, lambat laun akan masuk ke dalamnya. Ketahuilah setiap raja memiliki daerah larangan, sedangkan daerah larangan Allah adalah apa-apa yang diharamkanNya. Ketahuilah dalam jasad itu ada segumpal daging, apabila dia baik maka baiklah seluruh jasad, dan apabila dia buruk maka buruklah seluruh jasad. Ketahuilah, dia adalah hati “.

Rasulullah telah memperingatkan kita untuk berhati-hati dari hal-hal yang syubhat ( Adapun penjelasan tentang syubhat dan pembagiannya, silakan dibaca dalam pembahasan lain ). Perkara syubhat ini menyangkut hal-hal yang masuk tubuh kita (yang kita konsumsi), apa-apa yang masuk perut kita, juga apa-apa yang masuk otak kita. Tubuh ini adalah tubuh kita. Segala yang masuk ke dalamnya akan menjadi tanggungjawab kita. Otak ini otak kita. Apa-apa yang dikonsumsinya juga menjadi tanggungjawab kita. Maka, mari kita pelihara tubuh kita dari hal-hal yang bisa merusaknya.

Kita ingat betapa Abu Bakr ra sangat berhati-hati dalam perkara ini. Dikabarkan oleh ‘Aisyah yang diabadikan dalam Shahih Bukhari, bahwa suatu ketika Abu Bakr pernah mencicipi makanan yang diberikan oleh budaknya. Maka budak tersebut bertanya kepadanya, ” apakah engkau tahu darimana aku mendapatkan makanan ini?”. “Darimana engkau mendapatkannya” tanya Abu Bakr. Budaknya menjawab, “Dulu, zaman jahiliyah aku pernah meramal untuk seseorang, sebenarnya aku tidak pandai meramal, namun aku cuma menipunya. Lalu orang itu menemuiku dan memberi upah kepadaku. Inilah hasilnya, apa yang engkau makan sekarang”. Mendengar itu, Abu Bakr langsung memasukkan tangannya ke dalam mulutnya untuk memuntahkan makanan yang terlanjur masuk kerongkongannya, dan ia memuntahkan semua makanannya itu.

Banyak sekali kisah para pendahulu kita yang menceritakan tentang sikap hati-hati ini. Silakan dicari sendiri. Berhati-hati tentu tidak sama dengan sikap berlebihan yang malah akan mempersulit diri sendiri. Misal, dalam hal fiqh, ketika akan shalat kita meributkan kesucian pakaian kita. Jangan-jangan tadi ujung rok kita mengenai najis, kan nyeret-nyeret.Jangan-jangan. Jangan-jangan. Itu yang namanya berlebihan. Ya kalau ada alternatif yang mudah, tidak masalah. Tapi kalau hanya akan mempersulit diri, apalagi mengurangi keutamaan ibadah? Nah lho. Dalam hadits riwayat Muslim, ini disebut at-tanathu’. “Celakalah al-mutanathi’un“. Berlebih-lebihan seperti ini hanya akan membawa kepada kehancuran atau minimal mendekatinya.

Sebagai penutup, mari kita memohon kepada Allah untuk bisa memperbaiki kerusakan hati kita, agar seluruh jasad bisa menzhahirkan kebaikan sebagaimana yang ada didalamnya.

Retorika Dakwah: Bekal untuk Para Da’i (copast*)

Agar pembicaraan sang da’i menarik perhatian dan berkesan, perlu diperhatikan hal-hal berikut :

1. Pahami dan kuasi pembahasan secara baik. Perlu setiap da’i menyiapkan kisi materi pembicaraan da rujukan yang diperlukan agar ketika berbicara tida kehilangan control.

2. Amalkan ilmu yang disampaikan dan diajarkan. Beri contoh dari diri sendiri tentang apa yang hendak disampaikan, hal ini untuk menutup zhan (prasangka) orang lain bahwa Anda “omong kosong”.

3. Pilih pembicaraan yang sesuai dengan keadaan dan kebutuhan. Setiap da’i hendaknya pandai melihat fenomena yang berkembang di tengah hadirin, juga latar belakang sosial kultural meraka. Hal ini agar lebih mendekati kebutuhan audiens dan membangkitkan spirit keagamaan mereka.

4. Sampaikan informasi segar sesuai dengan perkembangan yang sedang berlangsung. Fenomena kekinian yang terjadi bisa menjadi informasi menarik bagi hadirin, karenanya perlu disampaikan sesuai kebutuhan dan bisa menjadi paenambah materi yang disampaikan.

5. Beri ilustrasi hidup klasik atau kontemporer. Manusia seringkali menerima suatu pesan dengan gamblang dan jelas apabila diberi penjelasan berupa ilustrasi atau gambaran yang sesuai dengan pesan itu. Karenanya, seorang da’I mesti pandai-pandai maencari ilustrasi yang tepat untuk disampaikan mendukung pesan-pesannya.

6. Berikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi. Rata-rata umat Islam saat ini menghadapi problema yang kompleks, seperti problema keluarga, ekonomi, keamanan, musibah, dsb. Da’i yang cermat mengamati persoalan umat, semestinya memiliki target dakwah selain sampainya pesan, yakni hendaknya bisa memberi solusi alternatif bagi pemecahan mereka. inilah sebenarnya yang bdinantikan audiens, jika da’i mampu begitu, niscaya kecintaan umat kepada Islam makin mantap seiring keyakinan mereka bahwa islam adalah agama “solusi”.

7. Sesuaikan tingkat dan gaya bahasa dengan tingkat ntelektual audiens. Tak bisa dipungkiri bahwa pesan dakwah kadang gagal dan ditolak gara-gara da’i tidak melihat kadar intelektual audiens. Berbicara terlalu ilmiah di depan masyarakat awam yang kurang terpelajar, atau berbicara yang “bertele-tele” tanpa ada greget ilmiahnya di depan kaum terpelajar juga membuat audiens jengah. Karena itu, da’I tidak boleh egois, mesti memperhatika kondisi audiens dalam hal daya berpikir mereka.

8. Sertakan dalil dan argument yang kuat. Stateman atau pernyatan da’i, walaupun sudah menjadi hal umum yang dibenarkan agama, alangkah baiknya jika diberi penguat berupa dalil atau nash yang mendukung pernyataa itu. Argument juga penting untuk menekankan pernyataan sehingga audiens mencatatnya dalam hati dan benak mereka bahwa apa yang disampaikan itu benar adanya.

9. Disiplin dengan waktu yang telah disepakati. Sebaik-baik pembicaraan adalah yang pendek namu efektif sedang seburuk-buruk pembicaraan adalah yang panjang bertele-tele tapi menyesatkan. Karena itu alangkah bijaknya da’I menepati waktu yang telah ditetepkan untuk berkhutbah baginya.

dari sini:
http://pusdai.wordpress.com/2008/07/03/retorika-dakwah-bekal-untuk-para-dai/

*sedang sangat membutuhkan materi ini

nyepam edisi mendengar

udah berapa hari gak mosting jurnal yak? ehm, baru 5 hari, tapi keknya lama banget. kebiasaan banyak nyampah sih.
sekarang nulis apa ya…
oh ya, hari ini tanggal 20, batas akhir pelaporan spt masa, bukan ppn. tpt masih rame sampe hampir maghrib. meski pekan ini jatah rolling di seksi eksten, tapi tadi bantuin di tepete. bantuin ngeklipin lpad. haha, gapapa, gak boleh menyepelekan pekerjaan sederhana. :=)
ya ampun ute, ceritanya gak mutu banget deh.

jadi, intinya adalah, sore ini saya banyak mendengar keluhan dari orang-orang. ya, kembali mendengar. karena tema saya pekan ini adalah “belajar mendengar”. tapi kalo yang didengarkan keluhan dan ditambah bumbu-bumbu ngomongin orang kek gini gimana. paling cuma bisa bilang gini doang….
“beliaunya lagi bad mood kali”
“mungkin beliau dilema juga mau begini begini begitu begitu”
senjata ampuh, mangguk-mangguk dan senyum.
maaf, tidak bisa menjadi kawan bicara yang menyenangkan…

dan alhamdulillah, adzan menyelamatkan.

copast, indonesia mengajar

Rizki, My Genius Student

Erwin “Wiwin” Puspaningtyas Irjayanti (Pengajar Muda di Kab. Majene, Sulawesi Barat)


The Old Man said, Everyday has its miracle. I am not the Old Woman, but I believe it too: EVERYDAY HAS ITS MIRACLE”

Kisah ini hadir di layar komputermu setelah seorang guru di SD terpencil berlari-lari riang selama 45 menit sembari membawa parang bersama 3 muridnya yang menggenggam bambu runcing untuk menghalau babi–jika sewaktu-waktu ketemu–menuju “Bukit Harapan”, demikian bukit itu diberi nama baru-baru ini karena di bukit itu telah ditemukan sinyal GPRS. Diketik dengan penuh kesabaran di atas keyboard HP Nokia E63, inilah kisah yg ingin diceritakan oleh guru SD terpencil itu:


Tentang Rizki.

Teman-temannya, murid kelas 3, bercerita tentang dia kepada saya: anak itu, namanya Rizki. Rizki Ramlan. 9 tahun. Sejak 4 bulan belakangan, dia tak pernah berangkat ke sekolah. Tanpa alasan. Namun desas desus menyebutkan, bahwa ia malas bangun pagi. Dengan kehadirannya yang tak lebih dari 20 kali dalam 1 semester, teman2nya mengenal ia sebagai anak pandai. Rizki, ia tinggal di Tamaluppu.




Tentang Tamaluppu.


Ialah sebuah tempat yg lebih terpencil dari Passau–tempat terpencil dimana saya tinggal saat ini.


Ini adalah statistik tentang Tamaluppu (T) Vs. Passau (P).


*Jumlah rumah: 13 (T) Vs. 60 (P).


*Listrik: sama sekali tidak ada (T) Vs. genset desa dr jam 19.00-22.00 (P).


*Sinyal GSM: sama sekali tidak ada (T) Vs. Maksimal utk SMS di spot tertentu (P)


*Jarak dari jln.poros Majene-Mamuju: 6-7 km / 1,5-2 jam perjalanan (T) Vs. 3 km / 45 menit perjalanan (P).


*Dapat dicapai menggunakan: hanya dengan jalan kaki dari Passau (T) Vs. Motor, jika tidak turun hujan (P)


Tentang Ide Mengajar di Tamaluppu

Pada hari dimana saya mengemukakan ide bahwa saya ingin seminggu 2x memberi pelajaran tambahan bagi anak-anak di Tamaluppu, banyak orang menganjurkan untuk tidak usah, karena itu jauh, susah, repot. Anak2 Tamaluppu juga lebih pemalu dari anak2 super pemalu di Passau. Buat apa? Kenapa tidak menyuruh mereka saja yang ke sini utk mendapatkan pelajaran tambahan?

Saya bergeming. Hanya tersenyum dan dengan halus menjawab keberatan orang2, “saya akan tetap ke sana, meski sendirian.”


Tentang Tamaluppu yang Saya Kenal.

Sudah tiga minggu ritual ini berjalan: Jam 3 sore, setiap Selasa dan Jumat, pergi ke Tamaluppu mengajar anak-anak di sana. Kami belajar dimana saja: di rumah Ali (murid kelas 6), di halaman langgar, di bawah pohon kelapa (yg sedang tidak berbuah). Saya mengenang Tamaluppu dalam beberapa potongan memori:

–ialah suatu tempat dimana 8 dari 63 mu
rid saya tinggal. Yang jika hari hujam, dipastikan anak2 itu tidak akan berangkat sekolah.

Sebab jika hari hujan, jalan setapak yg sedianya mereka lewati berubah menjadi sungai dan air terjun.

Anak2 itu berangkat ke sekolah dengan membawa bambu runcing, sebab di perjalanan dari Tamaluppu menuju Passau, seringkali mereka musti berhadapan dengan babi hutan.


Antara Saya dan Rizki Ramlan

Saya tidak pernah mengenal anak itu. Menyentuhnya. Berbicara dengannya. Saya tidak mampu. Ia begitu tak tersentuh. Begitu jauh. Setiap kali saya berusaha mendekatinya sehabis saya mengajar anak2 Tamaluppu yang lain, ia selalu lari. Menjauh. Mengintai saya dari tempat yang menurutnya paling aman sedunia: persembunyiannya. Saya mengalah. Saya memilih tidak memaksa.


Hingga pada suatu sore yg berhujan deras, yg tak henti-henti sampai petang dan malam tiba, saya memutuskan untuk menerima kesopanan orangtua Ali yg menawarkan saya bermalam di rumah mereka.

Singkatnya malam itu, Rizki yg malu-malu itu, pada suatu kesempatan saat saya habis salat isya, dari balik pintu dia melemparkan: selembar kertas yg bulat karena diremas, dua lembar, tiga lembar, sampai 6 lembar. Lalu, dia lari.

Dia berlari dan menjauh. Tak tersentuh untuk kesekian kalinya.


Saya membuka kertas2 itu. Isinya, membuat saya mematung:

Coretan soal2 matematika yg tiga minggu ini kuajarkan pada anak-anak Tamaluppu, kelas 4, kelas 6.

Di kertas yg lain, coretan soal yg dia buat sendiri, dan dia jawab sendiri. Dan 80% jawabannya adalah benar: materi kelas 4, materi kelas 6. Rizki, kelas 3, sudah 4 bulan tidak masuk sekolah.


Aku tertegun. Mematung.


Dalam nyala obor, aku menulis di sesobek kertas: “Pintar sekali kamu! Sekolah di mana?”. Kuremas kertas itu.

Lalu keluar rumah: mencari sosoknya di kegelapan dan menemukannya sedang mengintaiku dari bawah tangga. Kulempar kertas itu di tempat yg terlihat namun agak jauh darinya, lalu pergi seolah-olah yg barusn kulempar adalah sampah.


Tak lama, dari jendela yg sengaja kubuka, masuklah segumpal kertas:

“Tidak sekolah. Tidak ada yang diajarnya. Tidak ada gurunya.”

Aku tersenyum. Benar dugaanku bahwa dia akan membalas suratku. Tanpa sempat menutup jendela, aku tertidur. Tak tahu bahwa seorang anak meringkuk di bawah jendela, menanti ada balasan atas segumpal kertas yg dilemparnya. Hanya karena dia berpikir bahwa jendela itu masih terbuka. Ketika pagi, baru aku sadar: jendela terbuka, aku melongok, menemukan tubuh kecil meringkuk di atas bangku dari bambu. Tertidur. Tangannya menggenggam kertas, dan pulpen.


Tentang suatu hari bernama Selasa, 14 Desember 2010, sekira pukul 15.30 WITA

Hari hampir hujan. 30 menit perjalanan dari Passau sudah saya tempuh. 15 menit lagi, saya tiba di Tamaluppu. Antara ya dan tidak, sembari menatap langit berawan pekat, saya memutuskan melanjutkan perjalanan. Tak sampai 5 menit, hujan turun. Langsung sangat deras. Saya berteduh di bawah pohon jambu mete, bersama kakak angkat saya yang juga guru sukarela, Kak Yani. Semenit, dua menit.



Di kejauhan, di bawah butiran air yg menyamarkan pandangan mata, samar-samar kulihat sesosok bocah. Bertelanjang dada, bercelana yang warnanya seperti coklat. Parang di tangan kirinya, daun pisang di tangan kanannya. Dia mendekat. Semakin dekat dan dia menuju kami. Menuju saya. Mengulurkan daun pisang di tangan kanannya, satu untuk saya, satu untuk Kak Yani.

Aku dan Kak Yani saling bertatapan.


Aku bertanya yg segera diterjemahkan oleh Kak Yani yang intinya, “ngapain kamu di sini? Dari kebun?”


Dia tak menjawab.

Dadanya naik turun. Naik, turun. Naik, turun. Naik turun dengan cepat. Air hujan, mungkin, telah mengaburkan–jika benar–air matanya.


Dia menangis.


Ya, dia menangis.


Lalu, dengan bahasa Mandar yg kacau, saya bertanya, “mangappai i’o sumangiq, Rizki? Mengapa kamu menangis, Rizki?”


Aku mengulurkan tangan. Meraih tubuh basan kuyupnya. Dan untuk pertama kalinya, ia diam. Tak berlari. Tak menjauh. Rizki, akhirnya, aku dapat menyentuh tubuh kecilnya.


Lalu tiba-tiba, Tiba-tiba saja, dia menyambutku. Memeluk pinggangku. Melingkarkan tangannya yang masih memegang parang di pinggangku.

“Puang, yakkuq meloq massikola.”

Dalam hujan, dia menenggelamkan kepalanya di perutku, mengalahkan derasnya suara hujan dengan suaranya, “Puang, saya mau sekolah.”


Dia memelukku. Erat.


Aku mematung. Haru. Sakit. Sesak. Bahagia. Sesak oleh perasaan bahagia.


Teringat olehku tentang pagi itu, ketika bocah itu masih meringkuk tertidur di bangku bambu bersama segenggam kertas dan pulpen, saat kuletakkan segenggam kertas di dekat kepalanya, “Pergilah ke sekolah. Aku guru di sana. Akan kuajar kau tentang rahasia-rahasia yang ingin kau tahu. Semua rahasia. Pergilah ke sekolah.”


Pagi ini, 15 Desember 2010

Kebahagiaan adalah ketika dari jendela rumahm saya melihat anak-anak Tamaluppu tiba di sekolah. Ada Rizki di sana. Dengan seragam kusut robek-robeknya. Saat aku masuk halaman sekolah, ia tengah memegang raket badminton.

Saat ia kutatap, ia melengos. Pura-pura tak melihat. Dia masih malu-malu.


Saat kudekati, ia kembali berlari.

Ia kembali menjauh.

Ia kembali tak tersentuh.

Tapi aku tahu, hari-hari esok, dia akan melemparkan bola-bola kertasnya kepadaku. Lagi. Seperti tadi siang ketika tiba-tiba ia melemparku segenggam kertas, “Kapan Tamaluppu akan mengalami musim salju seperti di Amerika?”



***


Salam hangat dari Bukit Harapan


http://www.indonesiamengajar.org/index.php?m=program.pelatihan


hiks… tak sanggup berkata-kata…

Lagu untuk matahari

Dakara ima ai ni yuku, sou kimetanda
Poketto no kono kyoku wo kimi ni kikasetai
Sotto boryumo wo agete tashikamete mitayo

OH GOODBYE DAYS ima
Kawari ki ga suru
Kinou made ni SO LONG
Kakkou yokunai yasashisa ga soba ni aru kara
LA LA LA LA LA WITH YOU

Katahou no EARPHONE wo kimi ni watasu
Yukkuri to nagare komu kono shunkan
Umaku aisete imasu ka?
Tama ni mayou kedo

OH GOODBYE DAYS ima
Kawari hajimeta mune no oku ALLRIGHT
Kakkou yokunai yasashisa ga soba ni aru kara
LA LA LA LA NOW WITH YOU

Dekireba kanashii omoi nante shitaku nai
Demo yattekuru deshou, oh
Sono toki egao de “YEAH HELLO MY FRIEND”
Nante sa ieta nara ii noni

Onaji uta wo kuchizusamu toki
Soba ni ite I WISH
Kakkou yokunai yasashisa ni aeta yokatta yo
LA LA LA LA GOODBYE DAYS
———–
sedikit gambaran : lagu di atas adalah soundtrack film taiyou no uta (bener gak?). menceritakan tentang seorang gadis yang menderita penyakit yang akan membuatnya meninggal jika terkena sinar uv. jadi ia tak boleh terkena sinar matahari. malamnya adalah siang dan siangnya adalah malam. dan endingnya dia meninggal. mirip cerita 1 liter of tears.

dulu, orang-orang heboh dengan film korea, dan saya stay cool, gak mau tahu.
bahkan sampai dosbing yang mau saya curi hatinya pun suka film korea, saya tetap tenang.
tapi belakangan, karib yang hampir lebih dari 13 jam dalam sehari saya bersamai (satu kos, satu ruang di kantor) adalah pecandu berat film korea dan film animasi.
Dia, yang setiap kali kami berbincang selalu dengan antusias dan menggebu2 menceritakan kisah2 tragis, menyedihkan, mengharukan, menjijikkan, melucukan (halah), akhirnya mau tidak mau membuat saya sedikit berusaha ‘membersamai’ perbincangan itu.
Ya iyalah, melihat semangatnya yang luar biasa dalam bercerita, saya tak tega membiarkannya tanpa reaksi balik dari saya.
“ehm…
“ooh…
“waah…
meskipun hanya itu partisipasi yang bisa saya berikan. hehe

Dan, sesekali saya tertarik juga untuk ikut nonton….
ah, mencoba mengintip dunia yang telah membuatmu seperti sekarang… sosok yang diam-diam kukagumi, luv u, say

hati-hati, iman dalam bahaya

Tatkala waktu shalat tiba, dan kita masih asyik jalan-jalan di pusat perbelanjaan tanpa merasa bersalah (T.T), hati-hati, kawan, iman kita dalam keadaan terancam…
“al-imanu yazidu wa yanqush, jaddidu!”. Perkataan Rasulullah ini sering kita penggal hanya sampai “… yanqush”, dan akhirnya menjadi pembenaran ketika kita futur (wajar…gitu?).
jaddidu, maka perbaharuilah!
sebelum kita beranjak pada cara memperbaharuinya, akan lebih baik jika kita mengetahui dulu gejala-gejala melemahnya iman tersebut…

11. mengatakan apa yang tidak dilakukan <<– Shaff : 3
ia memerintahkan orang lain melakukan kebaikan, sementara ia sendiri tidak melakukannya, amat besar kebencian Allah pada orang2 seperti ini.

12. senang melihat orang lain susah, dan susah melihat orang lain senang
saya mau sedikit bercerita tentang ini…
terkadang, ketika kita terjerembab, mengetahui orang lain juga terperosok adalah kebahagiaan… (jahatnyaaa….)
contohnya, ketika ujian. hehe….

13. melihat sesuatu dari sisi halal-haramnya saja, mengabaikan perihal makruh.
dari segi aqidah, makruh itu berarti dibenci Allah, jadi bukan sekedar “gakpapa”.

14. menyepelekan kebaikan-kebaikan kecil.
cerita tentang seorang wanita dan anjing tentu sudah sangat tidak asing di telinga kita.
dan, bukankah kita -seperti dikatakan fudhail bin ‘iyadh- tidak pernah tahu akan masuk surga dari pintu mana?

15. tidak mau memperhatikan urusan kaum muslimin
ah, betapa menyedihkannya ketika Rasul tidak mau mengakui kita sebagai bagian dari umatnya…
“Siapa saja yang bangun pagi dengan gapaiannya bukan Allah maka ia bukanlah (hamba) Allah, dan siapa saja yang bangun pagi namun tidak memperhatikan urusan kaum muslimin maka ia bukan dari golongan mereka.” (HR. Al Hakim dalam Al Mutadrak, At Thabrani dalam Al Mu’jamul Awsath, Abu Nu’aim dalam Syu’abul Iman dengan sanad dha’if)
Pernah diceritakan dalam Riyadush Shalihin bab persaudaraan, suatu ketika seorang ahli ibadah ditanyai oleh Allah,
“mengapa kamu selama di dunia membiarkanKu kelaparan dan kedinginan”
“bagaimana mungkin Engkau lapar atau dingin, ya Allah?”
“taukah kau, tatkala saudaramu sakit, Aku disana. Tapi kau membiarkannya, tidak menyelimutinya hingga kedinginan. Dan tatkala saudaramu kelaparan, kau juga membiarkannya…”

16. mudah memutuskan tali silaturahim
Ah, manusia, selalu merasa disertai empat hal : apes, kurang, lupa, dan salah. Inilah yang harus dimengerti orang-orang yang bersaudara. Ni’mat kebaikan apalagi setelah Iman dan Islam, selain ni’mat persaudaraan…
pergesekan, benturan, dengan saudara pasti pernah terjadi. masalahnya adalah tergantung seberapa luas ‘samudra’ kita menampungnya…

17. tidak tergugah hatinya untuk berkhidmat (mengabdi) kepada Islam.
Ia diibaratkan seperti lelaki dayus yang tidak peduli siapa yang menemui istri dan anak2nya.
Karena bencana tak hanya akan menimpa ahli ma’siyat, tetapi juga yang membiarkan kema’siyatan tsb.
“Dan jagalah diri kamu dari dosa (yang membawa bala bencana) yang bukan saja akan menimpa orang-orang yang zhalim di antara kamu secara khusus (tetapi akan menimpa kamu secara umum). Dan ketahuilah bahawa Allah Maha Berat azab siksaNya” (al-Anfal[8]:25)

18. Resah, takut, dan putus asa tatkala mendapat mushibah, tapi lupa diri ketika mushibah itu dicabut. kita menyebutnya karakter instan.

19. banyak berbantah-bantahan dalam hal furu’, dan melalaikan yang ushul.

20. menyibukkan diri dengan keduniawian
kita sibuk dengan dunia, padahal dunia tak mempedulikan kita. mengapa tak mempedulikan yang memiliki dunia saja?

21. sibuk (terobsesi) dengan diri sendiri
masih tenang-tenang saja ketika anggota keluarga gak shalat???
masih bersantai tatkala saudara kita gak bisa ngaji???

Rabu, 05 Januari 2011 (01 Shafar 1432 H)
Masjid Al-Ikhlas
18.xx-19.00