coretan magang

Magang untuk CPNS DJP dimulai tanggal 6 Desember kemarin. Berdasarkan jadwal yang diberikan Kepegawaian Pusat, bulan Desember belum dilaksanakan On the Job Training, tapi baru orientasi lapangan. Sedangkan OJT baru dimulai bulan Januari.
Tapi jangan minta penjelasan kepada saya apa itu orientasi lapangan, apa itu OJT, dan apa bedanya. Saya gak ngerti.
Ada 9 magangers lain selain saya di KPP ini. Lima D3 STAN, 4 dari S1. Pertama kali pembagian seksi, tak menyangka, saya mendapat jatah di Seksi Pelayanan. Awalnya saya berfikir kalau disuruh memilih akan memilih PDI (Pengolahan Data dan Informasi), karena saya fikir yang akan saya hadapi hanya berkas dan monitor, dan gak akan banyak melibatkan perasaan.

Hari pertama di TPT (Tempat Pelayanan Terpadu), saya sudah langsung disuruh menempati loket 5, melayani WP langsung. Tugasnya antara lain, menerima pelaporan dari WP. Kalo tanggal-tanggal ini, TPT rame banget karena SPT masa dilaporkan paling lambat tanggal 20 bulan setelah masa pajak.
Terang aja, saya ang ing eng awalnya. Selama 3 semester belajar pajak tak banyak membantu saya mengerti teori perpajakan . Tapi akhirnya, pekerjaan ini bisa dipelajari dengan cepat. Sangat teknis. Kalo ada WP curhat (tanya-tanya), langsung pertanyaannya saya lempar ke loket informasi di sebelah saya. Jadi pekerjaan saya hanya nerima SPT, SSP, melayani permintaan Salinan SPPT dll, input data umum, mencetak LPAD dan BPS, dan tersenyum. Sudah.
Namun, ini bukan sekedar tentang menyelesaikan pekerjaan, kawan. Ini adalah pelayanan. Dan berhadapan langsung dengan WP, menghadapi manusia. Perasaan akan sering dilibatkan disini. Mbak ayu pernah menceritakannya here. Seperti kemarin, saya dimarahin bapak-bapak WP yang meminta salinan SPPT. Nilai Pajaknya lebih dari 500rb, jadi harus minta tandatangan basah (asli) kepala kantor, bukan cap. Bapak ini tidak mau menunggu lama, dan tidak mau tahu.. dan bla bla bla… (tapi bukan ini insiden yang saya maksud di journal sebelumnya).
Berhadapan langsung dengan WP. Kalimat ini yang agaknya harus saya garisbawahi. Kita tahu, dimana-mana, orang-orang yang ditempatkan di frontliners mesti berpenampilan menarik. Lihat saja karyawan-karyawan bank. Bahkan bank sekecil tingkat kecamatan pun, pegawainya tak mau kalah. Kemarin pas ke B*I, bank langganan para PNS, otak saya spontan membandingkan pegawai-pegawainya dengan pegawai di TPT (baca :saya). Nge~ek…
Tapi, apalagi yang bisa menampakkan kebanggaan saya akan Islam selain identitas ini…? Ya, saya bangga dengan Islam dan segala identitasnya.
Dan di kantor ini, saya juga masih akan berpenanpilan sama seperti ketika saya kuliah. Pakaian yang kata orang- kedodoran, dengan tas ransel hitam yang biasa saya pakai. Sesekali tapi menggunakan tas samping ala ibu-ibu. Tapi sungguh, pake tas kek gini gak nyaman buat saya yang biasa banyak bergerak. Dan… tanpa polesan make up atau parfum.
Ya, selama kuliah.. penampilan seperti ini OK2 saja.
Tapi ketika ngantor…?
Bagi saya sih, tetap tidak masalah. Tapi bagi orang-orang di sekitar saya? entahlah…

*** mencium “bau-bau” kami (para magangers- terutama yang di tepete) akan disindir tentang “dandan”…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s