mencari cinta

Jum’at kemarin, selepas pulang dari kantor, saya langsung melajukan Ipul mencari Perumahan Widodo Kencana. Alamat ini adalah hasil searching saya untuk keyword “DPD PKS Madiun”. Siang tadi, di kantor, insiden yang, alhamdulillah, bisa membuat saya menangis, seolah-olah malah membuat saya semakin bertekad untuk mencari alamat kantor tersebut. Tujuan saya kesana, teman2 juga bisa menebaknya, mendapatkan kembali liqaat.

Hujan, ditambah kemampuan mengendarai motor saya yang belum memadai, ditambah saya yang lupa tidak mengenakan helm, ditambah suasana hati saya yang sedang kalut karena peristiwa di kantor tadi, menambah suasana dramatis senja itu.

Kata Pak Is –satpam kantor-, perumahan tersebut di sekitar sini. Setelah bertanya kepada bapak penjual bakso, ternyata salah. “lampu merah ke timur, mbak” katanya. Segera bergegas kesana. Tanya orang lagi, “kejauhan, mbak” katanya. Putar balik, tanya orang, “ wah, mboten wonten niku, mbak…. Eh, tapi memang 2 tahun lalu di sini ada, mbak”. Wah, gugel gak apdet, batin saya.
sekarang kalo gak salah pindah ke jalan sulawesi” lanjut ibu itu.
Setelah saya menanyakan letak jalan sulawesi, bergegas saya kesana setelah terlebih dulu ambil helm di kos.

Sesampainya di sana… liat kiri kanan, tidak ada tanda-tanda. Sampai ujung jalan. Sepertinya perjalanan kali ini belum berhasil, batin saya. Saya berniat pulang. Adzan maghrib berkumandang.

Tapi, kemudian saya berubah pikiran, saya kembali lagi. Saya tidak mau pulang dengan tangan hampa. Berhubung jalan di sekitar ini satu arah, jadi mesti muter-muter. Kalo di total, saya sudah melewati jalan ini 3x. Saya tanya ke bapak pengayuh becak, “di barat SD itu, mbak…”. Ternyata, gelap, sepi, tidak ada tanda2 kehidupan di sana.

Saya menyerah, dan membawa Ipul ke masjid. Hampir saja Ipul tidak bisa dikendalikan ketika melewati tikungan yang curam dan licin karena masih gerimis.. tapi alhamdulillah, kami selamat.

Masjid AL-IKHLAS, tulisan ini yang terpampang di dinding bangunan putih itu. Shalat maghrib, alhamdulillah belum ketinggalan jama’ah. Subhanallah, bagus banget bacaan imamnya. Seusai shalat,

dari mana, mbak?” tanya ibu2 di samping saya setelah melihat pakaian batik khas pegawai hari jum’at yang saya pakai.
“panjaitan, bu” saya menyebutkan nama jalan kantor dan kos.
“lho, saya juga tinggal disana… bla… bla. Saya kesini nganterin anak saya ngaji

Mendengar satu kata ajaib, “ngaji”, itu, mata saya langsung berbinar-binar, harapan itu masih ada *halah!, dan kemudian melontarkan pertanyaan membabi buta kepada ibu tersebut.
Sesaat kemudian, sementara di luar sana masih hujan deras… saya sang sang ibu terdiam mendengarkan suara ustadz mengajari anak-anak di balik hijab hijau itu.
haa dzaa shi raa thun
Haa dzaa la saahiru”
Lamat-lamat, suara ini mengingatkan pada FHQ yang pernah saya ikuti di sebuah masjid di bilangan Bintaro. Ah,

Dua Jumlah (kalimat) tadi oleh Ustadz -yang kemudian saya sebut Pak Arif- diulang terus menerus. Bahkan sampai isyak, dan pertemuan selesai, 2 jumlah tadi masih dijadikan peer untuk santri-santri itu. “pertemuan depan harus bisa” kata pak arif.

Seusai shalat isyak, saya bergegas menemui Pak Arif di serambi samping masjid. melihat kedatangan saya tiba-tiba beliau bilang,
Lho, mbak yang kemarin…
Belum selesai saya terbengong, beliau melanjutkan
saya kemarin kan ke kantor pajak, itu mbak, buat NPWP
Saya masih belum ingat, sambil senyum-senyum, “eh, iya, ya, pak?
saya sebenarnya juga agak bertanya-tanya, mbak… kok disana banyak akhwat berjilbab”.
Memang di TPT, ada 4 diantara 5 perempuan- yang berjilbab. Dan secara keseluruhan, di kantor ini, hampir semua pegawai perempuan berjilbab. Tapi, tidak perlu saya jelaskan bagaimana jilbabnya.
Saya kemudian menanyakan tentang tahsin yang beliau kelola…. Akhirnya perbincangan terjadi cukup panjang lebar. Sampai akhirnya…

mbak, P*S?” menyebutkan nama sebuah partai.
yang bener calon PNS, pak…” sambil senyum-senyum.
nggak, maksud saya, ngajinya…”
Saya tersenyum mringis mengiyakan.
memang, kalo seperti mbak ini, harus segera gabung sama saudara-saudaranya, biar gak lemah… ehm, gini aja, biar saya carikan halaqah yang deket sama kantor, mbak… nanti saya sms-kan…
Saya girang…
anak-anak KAMMI juga sering kemari. Dulu, kantor P*S juga di depan sana, mbak. Sekarang udah enggak. Nanti kalo ada acara-acara juga akan saya kabari…”
Hampir saja saya melompat kegirangan kalo gak ingat di depan saya ada bapak2 dan ini masjid. hehe..
Akhirnya saya pamit pulang.

MADIUN KOTA GADIS
Saya senyum-senyum sendiri melihat tulisan besar diatas jalan Soedirman ini. Gerimis masih merintik…

Jum’at, 11 Muharram 1432 H
## Sabtu-ahad ini, saya dapet undangan MUSDA ke-2 P*S, dari Pak Arif tadi. Di sanalah saya akan dipertemukan dengan Bu Retno…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s