Silaturahim, kenapa malu?

Untuk kedua kalinya postingan imam menjawab kegundahan saya belakangan ini (halah!). Tentang silaturahim. Tepatnya pada kalimat, “silaturahmi, kenapa malu?”. Saya suka berkunjung ke mana-mana, ke rumah siapa gitu, tanpa alasan. Kadang malah mencari-cari alasan. Mampir, atau apalah.
Mulai dari tiba-tiba datang ke rumah sahabat lama, tanpa mengabari dulu. Walaupun sekali dua kali kecele karena ybs tidak ada di rumah, tapi kunjungan ini bukan berarti sia-sia… Bisa silaturahim dengan keluarganya juga menyenangkan… ^^
Atau meng-sms temen-temen SMP atau SMA. Kalau temen2 SD udah kehilangan kontak :-(.

Saya juga senang mendapatkan saudara-saudara baru dari dunia multiply ini. Dari maya menuju nyata. Lewat personal message, tuker nomer telepon seluler, kontek-kontekan deh. (yang merasa, ngacung! hehe).

Apalagi menambah saudara di dunia nyata…. Seperti Pak Arif yang pernah saya ceritakan di jurnal sebelumnya. Saya banyak bertanya tentang kegiatan-kegiatan di Madiun dan mendatangi majelis ta’lim di tempat beliau. Meski beliau mengatakan “sesama muslim memang kan harus saling membantu, mbak”, tetapi tetap saja sempat terbetik sedikit malu mencecar beliau dengan hal tsb, kan baru kenal. “Silaturahim, kenapa malu?” kalimat ini kembali menenangkan ^^ (imam jangan geer)

Sama seperti terharunya saya (halah!lebay) ketika seorang bapak-bapak wepe menyodorkan sebuah buletin bernama Ukhuwah, “ini, mbak, saya punya tiga” katanya. Kalau di kampus, hal seperti ini rasanya biasa aja, tapi disini… feelnya beda. Saya baca buletin itu. Ternyata buletin itu diterbitkan oleh LMI (Lembaga Manajemen Infaq), mirip LAZ. (Harusnya semua pegawai Kemenkeu dikasih ini… eh, iya gak?). LMI ini didirikan para alumni STAN yang bekerja di lingkungan Departemen Keuangan (dulu). Waaah… malamnya saya langsung ke lokasi alamat sekretariat LMI. Sekali lagi, tanpa tujuan mau ngapain, lewat aja. Haha… Saya masih belajar bagaimana memperluas jaringan. ^^

Ah, siapa yang tidak tertarik akan tawaran Rasul mengenai manfaat silaturahim… memperluas rizki dan memanjangkan umur… Bumi terasa menjadi begitu nyaman dan damai…

Tentang sabar… dan mengeluh…

Abul Hasan suatu ketika melihat seorang wanita yang bersinar dan berseri-seri wajahnya…
“Demi Allah, aku belum pernah melihat wajah secerah ini. Pasti ia sedang tidak resah atau risau…”
“apa katamu? Demi Allah, akupun terbelenggu…”

“apa yang engkau risaukan?”
“di rumah aku bersama 3 orang anak. Suatu ketika anakku yang paling besar menunjukkan cara menyembelih kambing kepada adiknya dengan menyembelih adiknya tersebut. Kemudian karena ketakutan, ia kabur dari rumah dan akhirnya dimakan seekor serigala…
Ayahnya pergi mencarinya dan akhirnya meninggal karena kehausan…
Ketika aku mencari suamiku, anakku yang yang paling kecil merangkak ke periuk berisi air panas. Airnya tumpah, dan habislah kulitnya…
Kabar ini terdengar sampai anak pertamaku yang sudah menikah dan tinggal di daerah lain, menyebabkan ia pingsan, dan akhirnya meninggal…
Kini… aku hidup sebatang kara….

————– > ah, sanggupkah kita bersabar jika mendapat cobaan seperti wanita tsb???
Sanggupkah kita masih bermuka cerah??? Sanggupkah kita untuk tidak mengeluh???
tiada seorangpun yang dapat membedakan sabar dan mengeluh, melainkan ia menemukan diantaranya dua jalan yang berbeda…
Sabar… memperbaiki yang lahir…
Maka itu lebih baik dan terpuji akibatnya….
Sedangkan mengeluh hanyalah kesia-siaan belaka…

(saya lupa sumbernya darimana, menemukan catatan ini di arsip lama)

coretan magang

Magang untuk CPNS DJP dimulai tanggal 6 Desember kemarin. Berdasarkan jadwal yang diberikan Kepegawaian Pusat, bulan Desember belum dilaksanakan On the Job Training, tapi baru orientasi lapangan. Sedangkan OJT baru dimulai bulan Januari.
Tapi jangan minta penjelasan kepada saya apa itu orientasi lapangan, apa itu OJT, dan apa bedanya. Saya gak ngerti.
Ada 9 magangers lain selain saya di KPP ini. Lima D3 STAN, 4 dari S1. Pertama kali pembagian seksi, tak menyangka, saya mendapat jatah di Seksi Pelayanan. Awalnya saya berfikir kalau disuruh memilih akan memilih PDI (Pengolahan Data dan Informasi), karena saya fikir yang akan saya hadapi hanya berkas dan monitor, dan gak akan banyak melibatkan perasaan.

Hari pertama di TPT (Tempat Pelayanan Terpadu), saya sudah langsung disuruh menempati loket 5, melayani WP langsung. Tugasnya antara lain, menerima pelaporan dari WP. Kalo tanggal-tanggal ini, TPT rame banget karena SPT masa dilaporkan paling lambat tanggal 20 bulan setelah masa pajak.
Terang aja, saya ang ing eng awalnya. Selama 3 semester belajar pajak tak banyak membantu saya mengerti teori perpajakan . Tapi akhirnya, pekerjaan ini bisa dipelajari dengan cepat. Sangat teknis. Kalo ada WP curhat (tanya-tanya), langsung pertanyaannya saya lempar ke loket informasi di sebelah saya. Jadi pekerjaan saya hanya nerima SPT, SSP, melayani permintaan Salinan SPPT dll, input data umum, mencetak LPAD dan BPS, dan tersenyum. Sudah.
Namun, ini bukan sekedar tentang menyelesaikan pekerjaan, kawan. Ini adalah pelayanan. Dan berhadapan langsung dengan WP, menghadapi manusia. Perasaan akan sering dilibatkan disini. Mbak ayu pernah menceritakannya here. Seperti kemarin, saya dimarahin bapak-bapak WP yang meminta salinan SPPT. Nilai Pajaknya lebih dari 500rb, jadi harus minta tandatangan basah (asli) kepala kantor, bukan cap. Bapak ini tidak mau menunggu lama, dan tidak mau tahu.. dan bla bla bla… (tapi bukan ini insiden yang saya maksud di journal sebelumnya).
Berhadapan langsung dengan WP. Kalimat ini yang agaknya harus saya garisbawahi. Kita tahu, dimana-mana, orang-orang yang ditempatkan di frontliners mesti berpenampilan menarik. Lihat saja karyawan-karyawan bank. Bahkan bank sekecil tingkat kecamatan pun, pegawainya tak mau kalah. Kemarin pas ke B*I, bank langganan para PNS, otak saya spontan membandingkan pegawai-pegawainya dengan pegawai di TPT (baca :saya). Nge~ek…
Tapi, apalagi yang bisa menampakkan kebanggaan saya akan Islam selain identitas ini…? Ya, saya bangga dengan Islam dan segala identitasnya.
Dan di kantor ini, saya juga masih akan berpenanpilan sama seperti ketika saya kuliah. Pakaian yang kata orang- kedodoran, dengan tas ransel hitam yang biasa saya pakai. Sesekali tapi menggunakan tas samping ala ibu-ibu. Tapi sungguh, pake tas kek gini gak nyaman buat saya yang biasa banyak bergerak. Dan… tanpa polesan make up atau parfum.
Ya, selama kuliah.. penampilan seperti ini OK2 saja.
Tapi ketika ngantor…?
Bagi saya sih, tetap tidak masalah. Tapi bagi orang-orang di sekitar saya? entahlah…

*** mencium “bau-bau” kami (para magangers- terutama yang di tepete) akan disindir tentang “dandan”…

mencari cinta

Jum’at kemarin, selepas pulang dari kantor, saya langsung melajukan Ipul mencari Perumahan Widodo Kencana. Alamat ini adalah hasil searching saya untuk keyword “DPD PKS Madiun”. Siang tadi, di kantor, insiden yang, alhamdulillah, bisa membuat saya menangis, seolah-olah malah membuat saya semakin bertekad untuk mencari alamat kantor tersebut. Tujuan saya kesana, teman2 juga bisa menebaknya, mendapatkan kembali liqaat.

Hujan, ditambah kemampuan mengendarai motor saya yang belum memadai, ditambah saya yang lupa tidak mengenakan helm, ditambah suasana hati saya yang sedang kalut karena peristiwa di kantor tadi, menambah suasana dramatis senja itu.

Kata Pak Is –satpam kantor-, perumahan tersebut di sekitar sini. Setelah bertanya kepada bapak penjual bakso, ternyata salah. “lampu merah ke timur, mbak” katanya. Segera bergegas kesana. Tanya orang lagi, “kejauhan, mbak” katanya. Putar balik, tanya orang, “ wah, mboten wonten niku, mbak…. Eh, tapi memang 2 tahun lalu di sini ada, mbak”. Wah, gugel gak apdet, batin saya.
sekarang kalo gak salah pindah ke jalan sulawesi” lanjut ibu itu.
Setelah saya menanyakan letak jalan sulawesi, bergegas saya kesana setelah terlebih dulu ambil helm di kos.

Sesampainya di sana… liat kiri kanan, tidak ada tanda-tanda. Sampai ujung jalan. Sepertinya perjalanan kali ini belum berhasil, batin saya. Saya berniat pulang. Adzan maghrib berkumandang.

Tapi, kemudian saya berubah pikiran, saya kembali lagi. Saya tidak mau pulang dengan tangan hampa. Berhubung jalan di sekitar ini satu arah, jadi mesti muter-muter. Kalo di total, saya sudah melewati jalan ini 3x. Saya tanya ke bapak pengayuh becak, “di barat SD itu, mbak…”. Ternyata, gelap, sepi, tidak ada tanda2 kehidupan di sana.

Saya menyerah, dan membawa Ipul ke masjid. Hampir saja Ipul tidak bisa dikendalikan ketika melewati tikungan yang curam dan licin karena masih gerimis.. tapi alhamdulillah, kami selamat.

Masjid AL-IKHLAS, tulisan ini yang terpampang di dinding bangunan putih itu. Shalat maghrib, alhamdulillah belum ketinggalan jama’ah. Subhanallah, bagus banget bacaan imamnya. Seusai shalat,

dari mana, mbak?” tanya ibu2 di samping saya setelah melihat pakaian batik khas pegawai hari jum’at yang saya pakai.
“panjaitan, bu” saya menyebutkan nama jalan kantor dan kos.
“lho, saya juga tinggal disana… bla… bla. Saya kesini nganterin anak saya ngaji

Mendengar satu kata ajaib, “ngaji”, itu, mata saya langsung berbinar-binar, harapan itu masih ada *halah!, dan kemudian melontarkan pertanyaan membabi buta kepada ibu tersebut.
Sesaat kemudian, sementara di luar sana masih hujan deras… saya sang sang ibu terdiam mendengarkan suara ustadz mengajari anak-anak di balik hijab hijau itu.
haa dzaa shi raa thun
Haa dzaa la saahiru”
Lamat-lamat, suara ini mengingatkan pada FHQ yang pernah saya ikuti di sebuah masjid di bilangan Bintaro. Ah,

Dua Jumlah (kalimat) tadi oleh Ustadz -yang kemudian saya sebut Pak Arif- diulang terus menerus. Bahkan sampai isyak, dan pertemuan selesai, 2 jumlah tadi masih dijadikan peer untuk santri-santri itu. “pertemuan depan harus bisa” kata pak arif.

Seusai shalat isyak, saya bergegas menemui Pak Arif di serambi samping masjid. melihat kedatangan saya tiba-tiba beliau bilang,
Lho, mbak yang kemarin…
Belum selesai saya terbengong, beliau melanjutkan
saya kemarin kan ke kantor pajak, itu mbak, buat NPWP
Saya masih belum ingat, sambil senyum-senyum, “eh, iya, ya, pak?
saya sebenarnya juga agak bertanya-tanya, mbak… kok disana banyak akhwat berjilbab”.
Memang di TPT, ada 4 diantara 5 perempuan- yang berjilbab. Dan secara keseluruhan, di kantor ini, hampir semua pegawai perempuan berjilbab. Tapi, tidak perlu saya jelaskan bagaimana jilbabnya.
Saya kemudian menanyakan tentang tahsin yang beliau kelola…. Akhirnya perbincangan terjadi cukup panjang lebar. Sampai akhirnya…

mbak, P*S?” menyebutkan nama sebuah partai.
yang bener calon PNS, pak…” sambil senyum-senyum.
nggak, maksud saya, ngajinya…”
Saya tersenyum mringis mengiyakan.
memang, kalo seperti mbak ini, harus segera gabung sama saudara-saudaranya, biar gak lemah… ehm, gini aja, biar saya carikan halaqah yang deket sama kantor, mbak… nanti saya sms-kan…
Saya girang…
anak-anak KAMMI juga sering kemari. Dulu, kantor P*S juga di depan sana, mbak. Sekarang udah enggak. Nanti kalo ada acara-acara juga akan saya kabari…”
Hampir saja saya melompat kegirangan kalo gak ingat di depan saya ada bapak2 dan ini masjid. hehe..
Akhirnya saya pamit pulang.

MADIUN KOTA GADIS
Saya senyum-senyum sendiri melihat tulisan besar diatas jalan Soedirman ini. Gerimis masih merintik…

Jum’at, 11 Muharram 1432 H
## Sabtu-ahad ini, saya dapet undangan MUSDA ke-2 P*S, dari Pak Arif tadi. Di sanalah saya akan dipertemukan dengan Bu Retno…

live my life

pagi-pagi berangkat ke kantor, kerja, petang pulang, istirahat, dan selesai?
menghadapi dinding-dinding kamar kos, tembok-tembok kantor, pegawai-pegawai kantor, wp, itu saja?
akhir pekan pulang ke rumah… bersantai, kemudian kembali ke kosan, doang?
oh tidak!
meski bangun pagi-pagi adalah ibadah, berangkat kerja adalah ibadah, menyapa rekan kerja adalah ibadah, senyum kepada wepe adalah ibadah, pulang ke rumah adalah ibadah…
tapi….
ada sudut rapuh di hati yang ingin dikuatkan
ada bagian gelap di otak yang minta diterangi
ada ruang hampa di jiwa yang mengharap tuk diisi
ada kerinduan jabat erat dan salam hangat dari para perindu surga
ah…

*** lagi gugling… nyari-nyari info majelis ilmu di madiun…
gakdapetdapet… T.T
ada yang bisa membantu…?

Merdeka!

Sharing is caring
Berpegang pada prinsip inilah makanya saya banyak membuat coretan, entah apakah bisa disebut sebagai sharing atau tidak. Karena nyata-nyata, tulisan saya banyak curhatnya, banyak emosinya yang meluap-luap.

Entahlah… emosi ini mudah sekali terpancing dan mudah sekali berubah-ubah. Cepat marah mengetahui suatu kejadian, cepat juga melo terbawa suasana lain. Perasaan ini begitu mudah terpengaruh kejadian di luar. Hasbiyallah wa ni’mal wakil -perkataan abul anbiya’, Allahu sh shamad-kalamallah, yang selama ini dijadikan motto hidup ternyata baru sebatas cita-cita. Ternyata tidak mudah menjadikan Allah satu-satuNya tempat bergantung, tempat bersandar…. Jiwa ini belum merdeka. Jiwa ini masih seringkali bersandar pada makhluq. Jiwa ini masih dibatasi ulah-ulah makhluq yang menyakitinya. Ah, harusnya jiwa ini tak mempedulikannya dan menari di atas semua batas.

Apa yang mereka lakukan kepadaku?” kata Ibnu Taimiyah ketika dipenjara, “Jiwaku merdeka dalam genggaman Allah. Jika aku dipenjara, jadikanlah ia rehat. Jika dibuang, jadilah ia tamasya. Jika dibunuh, apalagi yang lebih kurindukan selain menemui Allah...”

replanning

sepertinya saya memang mesti menunda rencana pedekate dengan kampung halaman. Lha kok pedekate? iya, karena sudah 6 tahun saya meninggalkan kampung ini (baca : tinggal di tempat lain), yang menyebabkan hubungan kami kurang hangat *halah!

…..yeah, menunda, dan merombak kembali rencana-rencana yang semula sudah menyembul-nyembul di kepala… lantaran kemarin saya terlalu pede akan magang di ponorogo. ah, betapapun sempurna rencana itu di mata saya, ternyata Allah mempunyai rencana lain… kota Madiun-lah akan menjadi tambatan hati saya, dan KPP Pratamanya yang akan menjadi tambatan sepatu saya…*loh? -setidaknya untuk 1 tahun ke depan.
sekitar 60 km jarak dari rumah kesana … samadengan 120 km pulang-pergi.. ah, hanya akan menghabiskan waktu dan tenaga di jalan jika ditempuh tiap hari. jadi? tunggu episode selanjutnya…