TKW oh TKW

Belakangan, kita sering lihat di media tentang kasus penganiayaan TKW, khususnya yang bekerja di Arab Saudi. Sebenarnya kita mafhum bahwa tidak pernah ada kewajiban bagi seorang istri untuk mencari maisyah, tapi kita juga tentu sepakat untuk tidak menyalahkan mereka yang memilih bekerja seperti ini untuk menghidupi keluarganya. Keadaanlah yang memberikan pilihan itu.

Saya, sama seperti anda dan mereka, tentu mengecam penyiksaan dan kesewenangan yang dilakukan para majikan itu, yang ironisnya adalah umat muslim….

Padahal Rasulullah SAW mengajarkan bagaimana adab kita kepada khadimat sebagaimana sabdanya :”Mereka (hamba sahaya) adalah saudaramu dan pembantumu. Maka siapa yang merasa saudaranya di bawah kekuasaanmu harus memberi makan dari apa yang dimakannya dan diberi pakaian dari apa yang dipakainya dan jangan memaksa kepada mereka apa –apa yang tidak dapat mereka kerjakan. Kalau kamu menyuruh mereka mengerjakan pekerjaan yang berat maka bantulah mereka” (HR. Bukhari dan Muslim). Betapa mulianya ajaran ini…

Dan praktiknya… menyedihkan memang. Tapi ada hal lain yang cukup menarik perhatian saya. Ketika media makin gencar melakukan pemberitaan mengenai masalah ini dan seringkali menyoroti tentang Arab Saudi sebagai Negara Islam, ketika para pendemo makin garang … entahlah… saya merasa ada pendiskreditan Islam disini. Aksi teatrikal dengan pelaku penyiksaan adalah seorang yang berhijab rapi, sementara dipihak yang lain adalah orang2 dengan aurat terbuka… huh… rasanya aneh.

Juga tentang kasus pemerkosaan TKW… mereka kemudian menuding bahwa hukum yang diterapkan di Arab yang mengharuskan 4 orang saksi itu tidak memihak kepada perempuan…

Saya bukannya membela Arab Saudi, sama sekali tidak… Namun, kita perlu waspada terhadap pihak-pihak yang memanfaatkan momen ini untuk menjatuhkan Islam…

Sebuah pemerintahan Islam bukan berarti orang-orang di dalamnya tidak pernah berbuat dosa sama sekali… jadi, salahkan masing-masing individunya, bukan sistem pemerintahannya…

Advertisements

wong ndeso 2

Saya hanya tertawa nyengir ketika kemarin mendengar cerita guru SMP saya. “Mosok to, wingi ki ana murid sing gak mlebu ujian gara2 sunat (khitan, -te). Jare bapakke gak ana dino apik meneh. Ujian kok dikalahhne ‘hari baik’ ki yok opo…”
Karena geregetan, pak guru yang sekaligus wali kelas tersebut memberikan 4 mata pelajaran untuk 1 hari ujian susulan. *tertawa nyengir lagi
“aku ke wis bingung, nduk” lanjut beliau, “udah gak tau lagi bagaimana menghadapi wong-wong ndesomu” . (Loh kok nyalahin saya, pak?)
“kemaren ada anak yang pinter banget, olimpiade aja sering menang (fyi. untuk ukuran SMP di desa seperti ini, ini luar biasa). setelah lulus disuruh kerja sama orangtuanya. aku wis menawarkan segala bantuan mulai dari biaya sekolah sampai pemondokan, tetep aja gak boleh”. Saya hanya diam.

gambar Gunung Bayangkaki
Pola pikir, itu yang menghambat perkembangan desa ini. Pendidikan belum menjadi prioritas.Saya pernah menuliskan disini. Aktivitas warganya masih begitu monoton, yang generasi umur menengah keatas bertani (itupun sekedar untuk menghidupi keluarga tanpa berfikir untuk mengembangkannya) dan mengurus ternak. Yang muda mencari penghidupan ke kota. Ada yang jadi perawat, ada yang memilih ‘ngabdi’ di pondok. Itu sebagian kecil, mayoritas kerja ke kota sebagai PRT atau kuli. Tidak ada kegiatan keagamaan, tidak ada pengajian ibu-ibu, tidak ada karangtaruna, masjid sepi. Paling yang ada yasinan bapak-bapak tiap malam jum’at.

Apa yang bisa saya lakukan? Waktu SD saya sudah mengabiskan buku-buku cerita di perpustakaan tentang perjuangan seseorang dalam membangun desanya. Dan saya benar-benar terpengaruh hingga bermimpi bisa melakukan sesuatu untuk desa ini (saya izinkan kalian tertawa ). Cita-cita lugu seorang anak kecil. Utopis dan abstrak. Untuk tetap bertahan dalam keadaan seperti ini saja rasanya susah. Tidak mudah, kawan, untuk survive dalam masyarakat yang serba belum tertata seperti ini. Saya sempat memuntahkannya disini.
Apalagi sebentar lagi saya mesti kerja entah dimana… Lengkap sudah.

wong ndeso 1

tidak heran mengapa mbak vina histeris “wua, akhirnya ute bisa berhubungan dengan dunia luar…”, karena memang beliau tahu bahwa ponsel saya akan hampir 100% inactive selama di rumah. bukan karena rusak, tapi karena jaringan untuk provider indosat sangat lemah. sinyal paling satu atau dua biji doang. kalo telkomsel lumayanlah. tapi yang paling kuat itu sinyal smart, ya yang menyupport onlenisasi saya sekarang ini…
oh tidak, kawan…! jangan kasihan sama saya. kasihan saja sama orang2 yang mau bikin kolam renang di gedung DPR… mereka lebih pantas.
selain akses komunikasi, akses perhubungan juga masih sulit. desa saya terletak di lereng bukit (gak ada namanya) pojok selatan kabupaten ponorogo. jarang sekali ada angkutan umum dari kecamatan masuk desa saya. kalau ada hanya hari-hari tertentu, biasanya hari pasaran. itupun kebanyakan truk-truk yang mengangkut hasil pertanian atau sapi atau kambing. inilah salah satu penyebab anak-anak di desa saya jarang melanjutkan sekolah. susah cari angkutan. paling banter setingkat SMA. itupun terbatas anak-anak yang orangtuanya mempunyai kendaraan sendiri, misal motor.
seperti yang terjadi pada tetangga saya. dulu ia pernah masuk SMK di kecamatan. harusnya sekarang kelas 2. tapi ia tidak sanggup tiap hari mikir bagaimana cara berangkat dan pulang sekolah. akhirnya ia sekarang pergi ke surabaya, seperti kebanyakan teman-temannya yang lain, kerja.
ah, kalau kalian diberi nikmat tidak merasakan hal seperti ini, lafazhkan tahmid sekarang juga. ini nyata, kawan…
kalau saya, dulu kan ngekost. hehe…

wong ndeso 3

Saya hanya tertawa nyengir ketika kemarin mendengar cerita guru SMP saya. “Mosok to, wingi ki ana murid sing gak mlebu ujian gara2 sunat (khitan, -te). Jare bapakke gak ana dino apik meneh. Ujian kok dikalahhne ‘hari baik’ ki yok opo…”
Karena geregetan, pak guru yang sekaligus wali kelas tersebut memberikan 4 mata pelajaran untuk 1 hari ujian susulan. *tertawa nyengir lagi
“aku ke wis bingung, nduk” lanjut beliau, “udah gak tau lagi bagaimana menghadapi wong-wong ndesomu” . (Loh kok nyalahin saya, pak?)
kemaren ada anak yang pinter banget, olimpiade aja sering menang (fyi. untuk ukuran SMP di desa seperti ini, ini luar biasa). setelah lulus disuruh kerja sama orangtuanya. aku wis menawarkan segala bantuan mulai dari biaya sekolah sampai pemondokan, tetep aja gak boleh”. Saya hanya diam.

Pola pikir, itu yang menghambat perkembangan desa ini. Pendidikan belum menjadi prioritas.Saya pernah menuliskan disini. Aktivitas warganya masih begitu monoton, yang generasi umur menengah keatas bertani (itupun sekedar untuk menghidupi keluarga tanpa berfikir untuk mengembangkannya) dan mengurus ternak. Yang muda mencari penghidupan ke kota. Ada yang jadi perawat, ada yang memilih ‘ngabdi’ di pondok. Itu sebagian kecil, mayoritas kerja ke kota sebagai PRT atau kuli. Tidak ada kegiatan keagamaan, tidak ada pengajian ibu-ibu, tidak ada karangtaruna, masjid sepi. Paling yang ada yasinan bapak-bapak tiap malam jum’at.


gambar Gunung Bayangkaki

Apa yang bisa saya lakukan? Waktu SD saya sudah mengabiskan buku-buku cerita di perpustakaan tentang perjuangan seseorang dalam membangun desanya. Dan saya benar-benar terpengaruh hingga bermimpi bisa melakukan sesuatu untuk desa ini (saya izinkan kalian tertawa ). Cita-cita lugu seorang anak kecil. Utopis dan abstrak. Untuk tetap bertahan dalam keadaan seperti ini saja rasanya susah. Tidak mudah, kawan, untuk survive dalam masyarakat yang serba belum tertata seperti ini. Saya sempat memuntahkannya disini.
Apalagi sebentar lagi saya mesti kerja entah dimana… Lengkap sudah.


pasar dan angkutan umum

Pasar lokal… dulu saya paling males ke pasar… apalagi pasar di daerah saya benar-benar crowded… jalan aja pake ngantri (kadang)… saya juga gak pinter nawar… jadi biasanya saya lebih suka ke swalayan atau mini market atau franchise semacam -mart2 gitu. tapi ngomong2, kalo terus2an seperti ini, kasihan juga pasar lokal… lama2 tergusur… sekarang pasar gak serame dulu. makanya…kembali ke pasar, yuukk…

Angkutan umum… bising, panas, sesak, bau bahan bakar… bikin mual… tapi ada yang lebih tidak saya sukai ketika naik angkutan umum, yaitu kalau penumpangnya sepi. Lha kok? otak saya cepat sekali berimajinasi… membayangkan pak sopir seharian bolak-balik dengan penumpang segelintir.. haduh… jangankan untung, break event point aja gak nyampek… “semoga di depan ada penumpang… semoga di depan ada penumpang… semoga di depan ada penumpang” harap saya setiap saat.

catatan 10 november : episode bukan pahlawan

Kita semua ada di dunia ini untuk menolong orang lain. Mengapa orang lain ada disini, aku tidak tahu -W.H. Auden


Kita tidak akan selalu bisa bermanfaat bagi orang lain, untuk setiap saat, untuk setiap keadaan, karena kita cuma manusia biasa dengan keterbatasan yang tak terbatas. Mungkin Allah menganugerahkan ketidakbergunaan itu karena tahu bahwa hati kita sangat lemah akan pujian dan penghargaan. Allah tidak menginginkan kita tergelincir dalam penyakit hati. Pun, semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk agar kita bisa bermanfaat bagi orang lain.

Ah, seharusnya saya tidak mengatakan hal itu, karena kalian akan mudah menebak bahwa saya “sedang tidak berguna”. Kalian akan menyangka saya sedang menghibur diri. Sama ketika saya bilang bahwa uang itu bukan segalanya, pasti kalian akan mudah menebak bahwa saya sedang tidak punya uang. Atau, ketika saya bilang bahwa IP itu tidak penting, kalian akan menebak IP saya kecil. Ya sudahlah, saya menyerah… kalian benar… saya sedang menghibur diri dari merasa tak berguna…

*dilarang mengomentari gambar
!
gambar dari sini

cara langit

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap orang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah…(QS An-Nur: 2)

Saya tertegun tatkala berusaha merampungkan Shahih Sirah Nabawiyah al-Mubarakfury (telat sekali… setelah sekian lama terputus-putus dan tersendat-sendat). “Penggal kepalanya…!”, “kejar, dan bunuh…!”, kata-kata seperti ini begitu mewarnai kisah perjalanan sang pembawa wahyu tersebut. Rasulullah juga tidak sedikit mengirimkan satuan pasukan untuk menyerang kafilah dagang Quraisy dan mengambil harta rampasannya; menyerang kelompok yang melakukan makar dan penghianatan, memenggal yang laki-laki, menawan yang perempuan, dan merampas harta benda mereka.

Perang dan perang. Jujur, naluri manusia saya merinding. Saya takut darah. Sifat compromistic dan permissive saya sedikit bereaksi. Saya tahu ini adalah cara yang dikehendaki langit. Hukum tidak didasarkan pada belaskasihan. Tetapi, saya masih begitu lemah dalam ini. Bahkan hukum qishash dan rajam masih terdengar ngeri di telinga saya. Hhhh, agama ini mudah, tak seharusnya lantas memudah-mudahkan, te…!

Wanita dan Kereta

“Pegawai pajak kok naik kereta ekonomi…” kawan saya menirukan komentar seseorang ketika ia menyampaikan rencana kepulangannya. Saya nyengir krik-krik aja mendengarnya.
Pertama, kami belum resmi jadi pegawai pajak.
Kedua, kalau memang pegawai pajak, dosa gitu naik kereta ekonomi? *sigh

Saya pribadi sudah terbiasa dan akrab dengan kereta ekonomi. Rasanya benar-benar merakyat. Hanya sesekali naik kereta bisnis atau bis yaitu pada masa-masa mudik lebaran atau tahun baru. Alasan pertama, saya tidak tahan AC, masuk angin dan mabuk, jadi perjalanan bis lebih dari 20 jam akan menjadi siksaan berat buat saya. Kedua, pertimbangan ekonomis. Otak saya akan secara otomatis mengkonversi dengan cepat selisih harga tiket kepada bentuk barang/perolehan lain yang lebih bermanfaat. ^^ (mending selisihnya buat ini atau itu… haha. dasar wanita!).

Tetapi kemudian ada beberapa hal yang saya pertimbangkan. Sebagaimana kita tahu, seorang wanita tidak dianjurkan (bahkan ada ulama’ yang melarang) untuk safar (bepergian jauh) tanpa disertai mahram, kecuali untuk urusan sangat penting dan bisa dipastikan aman. Padahal saya sering pergi sendirian atau berdua saja dengan kawan saya. Kalau sedang beruntung, bisa saja mendapatkan tempat duduk dengan partner yang enak (ibu-ibu atau mbak-mbak). Tetapi kalau sedang kurang beruntung, bisa saja tidak mendapatkan tiket duduk, atau duduk tapi berpartner dengan mas-mas, bapak-bapak, ikhtilath sangat sulit dihindari. Belum lagi kalau mereka perokok, seperti yang terjadi kemarin. Pernahkan membayangkan anda berada diantara 6-7 orang perokok yang merokok dalam waktu bersamaan? Saya dan kawan saya harus membekap mulut dan hidung setiap saat sampai hafal berapa menit sepuntung rokok bisa habis.

Akhirnya saya mulai mempertimbangkan komentar seseorang tadi, bukan karena ‘pegawai pajak’nya, tapi karena saya adalah seorang perempuan. Bagaimana pendapatmu, kawan?

Selamat Datang

bismillah… untuk ke sekian kalinya saya memutuskan untuk membuat akun lagi, setelah multiply, facebook, twitter, blogspot, plurk…. ya, sekarang di wordpress… semoga tidak nganggur seperti yang sudah-sudah… semoga bermanfaat…