ceroboh

“ojek, mbak?”
“becak, mbak?”
“kemana, mbak?”
“pondok, ya?”

Kalimat-kalimat itu sungguh familiar di telinga saya. Itu jugalah salah satu alasan yang membuat saya agak malas ke stasiun. Ya, oke, saya tahu, mereka mencari nafkah untuk keluarga mereka. Bahkan tidak jarang saya membayangkan anak istri mereka menunggu sang ayah dengan perut keroncongan di rumah. *halah! Lebay. Tapi jujur, berondongan pertanyaan itu membuat saya tak nyaman, padahal saya sudah bilang, “dijemput, pak”.

Singkat cerita, saya menggunakan jasa salah seorang dari mereka, bukan jasa ojek, tapi jasa telepon selular dengan tarip yang sama dengan tarip ojeknya. Saya menyerah setelah muter-muter dengan satu tas punggung dan dua tas jinjing di tangan kanan dan kiri saya mencari wartel tapi tidak ketemu.

Kenapa saya mencari wartel???
Karena henpon saya ilang, saudara-saudara…. Ini kali keempat hp saya ilang. Terakhir februari kemarin.
Kenapa saya seceroboh ini…. Lagi-lagi…
Berapa kali bapak saya mewanti-wanti biar saya hati-hati…?
Berapa kali saya harus menunda kebutuhan saya yang lain karena harus beli hp lagi…?
padahal saya tahu orangtua saya bekerja keras untuk itu…

Ah, sekali dua kali wajar. Lha ini empat kali dalam 3 tahun???
Masih mengulang kesalahan yang sama.
Kenapa saya tidak juga belajar…
Saya akan jauh lebih ikhlas kalau ini terjadi bukan karena kecerobohan saya…
Ada yang punya ide bagaimana caranya mengurangi kecerobohan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s