Wanita dan Kereta

“Pegawai pajak kok naik kereta ekonomi…” kawan saya menirukan komentar seseorang ketika ia menyampaikan rencana kepulangannya. Saya nyengir krik-krik aja mendengarnya.
Pertama, kami belum resmi jadi pegawai pajak.
Kedua, kalau memang pegawai pajak, dosa gitu naik kereta ekonomi? *sigh

Saya pribadi sudah terbiasa dan akrab dengan kereta ekonomi. Rasanya benar-benar merakyat. Hanya sesekali naik kereta bisnis atau bis yaitu pada masa-masa mudik lebaran atau tahun baru. Alasan pertama, saya tidak tahan AC, masuk angin dan mabuk, jadi perjalanan bis lebih dari 20 jam akan menjadi siksaan berat buat saya. Kedua, pertimbangan ekonomis. Otak saya akan secara otomatis mengkonversi dengan cepat selisih harga tiket kepada bentuk barang/perolehan lain yang lebih bermanfaat. ^^ (mending selisihnya buat ini atau itu… haha. dasar wanita!).

Tetapi kemudian ada beberapa hal yang saya pertimbangkan. Sebagaimana kita tahu, seorang wanita tidak dianjurkan (bahkan ada ulama’ yang melarang) untuk safar (bepergian jauh) tanpa disertai mahram, kecuali untuk urusan sangat penting dan bisa dipastikan aman. Padahal saya sering pergi sendirian atau berdua saja dengan kawan saya. Kalau sedang beruntung, bisa saja mendapatkan tempat duduk dengan partner yang enak (ibu-ibu atau mbak-mbak). Tetapi kalau sedang kurang beruntung, bisa saja tidak mendapatkan tiket duduk, atau duduk tapi berpartner dengan mas-mas, bapak-bapak, ikhtilath sangat sulit dihindari. Belum lagi kalau mereka perokok, seperti yang terjadi kemarin. Pernahkan membayangkan anda berada diantara 6-7 orang perokok yang merokok dalam waktu bersamaan? Saya dan kawan saya harus membekap mulut dan hidung setiap saat sampai hafal berapa menit sepuntung rokok bisa habis.

Akhirnya saya mulai mempertimbangkan komentar seseorang tadi, bukan karena ‘pegawai pajak’nya, tapi karena saya adalah seorang perempuan. Bagaimana pendapatmu, kawan?

Advertisements

penyikapan

bismillah…
coretan ini dibuat di tengah hirukpikuk registrasi online cpns djp…
hari-hari dengan atmosfer menegangkan…
dan memang, kedewasaan seseorang dalam menghadapi sebuah permasalahan diuji di sini. nampak sekali… tidak sedikit yang ngomel-ngomel mencak-mencak… mengeluh. dan saya akui juga, sekali dua kali lisan ini juga sempat mengeluarkan keluhan itu.


… dan mendadak menjadi egois… sibuk dengan permasalahan sendiri, tak peduli dengan permasalahan orang lain…

ayolah.. semua ini hanya masalah teknis… bukan masalah pokok.. berfikir dimulai dari otak kanan. ok? 🙂

coretan ahad

Bercerminlah, tapi bukan untuk takjub pada bayang-bayang seperti Narcissus, atau telaganya. Menjadikan sesama peyakin sebagai cermin berarti melihat dengan seksama. Lalu saat kita menemukan hal-hal yang tak berkenan di hati dalam bayangan, kita tahu bahwa yang harus kita benahi bukanlah sang bayang-bayang. Kita tahu, yang harus dibenahi adalah diri kita yang sedang mengaca. Yang harus diperbaiki btkan sesama yang kita temukan celanya, melainkan pribadi kita yang sedang bercermin padanya.
Itu saja.


sukaaa. banget. nukilan ini saya ambil dari Dalam Dekapan Ukhuwahnya pak Salim A. Fillah.

jujur, dulu saya adalah tipe orang yang memilih-milih teman. kadang, sedikit saja saya kurang sreg dengan sesuatu dalam diri seseorang, itu bisa menjadi dinding yang saya ciptakan sendiri yang menjauhkan kami. ah…

itu juga yang menjadi salah satu alasan kenapa saya menghapus permanen akun fesbuk. ya, karena saya merasa lebih bisa mengenali kepribadian orang melalui tulisannya, atau status2 yang dibuatnya. hal itu membuat saya enggan mengenal orang lebih lanjut, karena akan membuat saya illfeel. astaghfirullah.. ampuni hamba ya, Allah…

puncaknya, ketika saya membaca tulisan pak priyayi yang berjudul Mentransliterasikan Cinta, kalau gak salah. Semakin saya sadar selama ini saya begitu pelit. Hanya bisa mencintai orang-orang tertentu saja. Menyedihkan…

ah, saya akan berusaha mencintai semua orang di sekeliling saya, tanpa pilah-pilah, terlepas dari bagaimana kekurangan2 mereka. ah, sombong sekali saya selama ini. orang-orang menerima keadaan saya apa adanya. bahkan membuat saya merasa menjadi orang yang paling dicintainya, paling dekat dengannya.

saya mencintai kalian semua…

memang butuh kesungguhan

Saya yakin kawan-kawan sudah sangat hafal dan mengerti tentang sebuah hadits yang berkenaan dengan program hidup kita.
“Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka”

Hadits diatas memang banyak dikenal sebagai hadits dhaif. Para ulama banyak yang masih berselisih pendapat mengenai kebolehan mengamalkan hadits dhaif seperti ini. Sebagian memperbolehkan jika tidak berkaitan dengan aqidah dan ahkam, yaitu jika dipakai untuk fadhaailul amal (keutamaan amal) dengan syarat-syarat tertentu. Sebagian lagi mengatakan tidak. Saat ini kita tidak akan membahas ini karena kadar ilmu saya belum cukup…^^. Tetapi, saya cenderung kepada pendapat yang membolehkan. Karena hadits (yang dhaif) ini menurut saya cukup memotivasi kita untuk memperbaiki diri. Semoga ini tidak termasuk memudah-mudahkan… ^^

Berbicara tentang perbaikan diri, saya ingat sebuah ayat dalam al-Qur’an, dalam surah al-insyiqaq : 19 “Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan)”. Ini menggambarkan sebuah proses peningkatan (bukan penurunan), baik secara fisik maupun psikis, yang zhahir maupun yang bathin. Ini adalah sebuah keniscayaan.

jujur, dinding-dinding hati saya bergetar melihat semangat beberapa sahabat saya dalam memperbaiki diri mereka. Rasanya malu melihat kesungguhan mereka. Saya, dan juga anda kawan, pasti pernah bertekad, atau setidaknya berniat untuk mengupgrade diri. Ketika semangat lagi full-fullnya, ketika ruh lagi bergelora-bergeloranya, azzam memuncak, tersusunlah entah itu program, target, mimpi, bahkan kesepakatan-kesepakatan dengan partner dsb. Pun saya demikian, mempunyai MoU dengan sahabat saya yang kami buat saat ‘ngeteh’. Target telah dibuat, tentu dengan spesifikasi masing-masing, perjanjian pun ditandatangani. Awal-awal, semua berjalan sesuai rencana. Tapi semakin lama….. ahhh. Kenapa sulit sekali menjaga komitmen….???

Selain target yang disepakati bersama, ada pula program yang sengaja dibuat pribadi. Tapi sepertinya saya akan menyimpulkan bahwa saya akan lebih optimal jika ada tekanan. Sulit sekali membangun kesadaran diri. Kenapa semangat yang dulu sempat menyala-nyala untuk terus memperbaiki diri, untuk terus meningkatkan kualitas diri, jadi kian meredup seperti ini….

ayo, kawan… bantu saya biar kembali ber…
s e ma n g a t!

belum terlambat

Disela-sela asyik membuka-buka info pemberkasan, deg… benarkah ini…? Sayup-sayup terdengar suara perempuan mengaji dari balik korden. Lamat-lamat makin saya perhatikan, akhirnya saya yakin bahwa ibu saya yang sedang membaca alqur’an. Sejenak konsentrasi saya buyar, mata berkaca-kaca. Saya mencoba lebih khusyu’ mendengarkan. Ya, dan bolehlah saya menebak, itu adalah surah Yasiin.

Saya tidak begitu ingat kapan terakhir kalinya ibu saya ‘ngaji’. Waktu saya masih SD kalau tidak salah. Sekitar 3 tahun lalu saya masih memancing-mancing beliau untuk membaca. Ya apapun, majalah atau koran yang saya beli (waktu itu saya juga belum akrab dengan alqur’an). Tapi beliau selalu bilang bahwa penglihatan beliau sudah agak berkurang. Makanya setelah itu saya jarang menyinggung-nyinggung masalah membaca lagi.

Tapi malam ini, saya mendengar sendiri ibu saya mengaji. Terbata-bata memang. Karena selain karena masalah susah melihat tulisan-tulisan kecil, beliau memang masih belajar membaca. Ya, tidak apa-apa ibu tidak mau membaca tulisan latin, yang penting beliau masih mau membaca Al-Qur’an. Ini kebahagiaan luar biasa bagi saya. Allah mahabesar. Dia selalu memberikan jalan bagi hamba-Nya jika hamba tersebut bersungguh-sungguh ingin melakukan kebaikan .

i love u, mom….
Terimakasih ya, Allah…

ceroboh

“ojek, mbak?”
“becak, mbak?”
“kemana, mbak?”
“pondok, ya?”

Kalimat-kalimat itu sungguh familiar di telinga saya. Itu jugalah salah satu alasan yang membuat saya agak malas ke stasiun. Ya, oke, saya tahu, mereka mencari nafkah untuk keluarga mereka. Bahkan tidak jarang saya membayangkan anak istri mereka menunggu sang ayah dengan perut keroncongan di rumah. *halah! Lebay. Tapi jujur, berondongan pertanyaan itu membuat saya tak nyaman, padahal saya sudah bilang, “dijemput, pak”.

Singkat cerita, saya menggunakan jasa salah seorang dari mereka, bukan jasa ojek, tapi jasa telepon selular dengan tarip yang sama dengan tarip ojeknya. Saya menyerah setelah muter-muter dengan satu tas punggung dan dua tas jinjing di tangan kanan dan kiri saya mencari wartel tapi tidak ketemu.

Kenapa saya mencari wartel???
Karena henpon saya ilang, saudara-saudara…. Ini kali keempat hp saya ilang. Terakhir februari kemarin.
Kenapa saya seceroboh ini…. Lagi-lagi…
Berapa kali bapak saya mewanti-wanti biar saya hati-hati…?
Berapa kali saya harus menunda kebutuhan saya yang lain karena harus beli hp lagi…?
padahal saya tahu orangtua saya bekerja keras untuk itu…

Ah, sekali dua kali wajar. Lha ini empat kali dalam 3 tahun???
Masih mengulang kesalahan yang sama.
Kenapa saya tidak juga belajar…
Saya akan jauh lebih ikhlas kalau ini terjadi bukan karena kecerobohan saya…
Ada yang punya ide bagaimana caranya mengurangi kecerobohan?

catatan wisuda part 1

hari ini, orangtua temen2 saya mulai berdatangan. mereka akan menghadiri prosesi wisuda besok. orangtua saya tidak datang, karena saya tidak ikut wisuda. salah satu kawan saya, ketika mengetahui keputusan saya ini, terheran-heran, “ya ampun, te. ini tuh momen bersejarah yang mungkin hanya akan terjadi sekali seumur hidup. ayolah, te… bla bla bla”. saya tetap bersikekeuh, “buat apa?”.

sebenarnya saya yang merayu bapak biar diizinkan tidak ikut wisuda. bapak sudah cukup berumur dan sering sakit-sakitan. walaupun beliau sebenarnya sanggup datang ke jakarta, tapi saya tidak tega. sementara, ibu saya kurang memungkinkan pergi meninggalkan bapak dan pekerjaan-pekerjaan di rumah. dan rasanya juga ‘kurang gimana gitu’ kalau kakak saya yang datang, karena jika kelulusan ini boleh dipersembahkan kepada manusia, maka ianya untuk ibu bapak saya.

peka

seandainya kita mau sedikit saja mencoba merasa apa-apa yang terjadi di sekitar kita, seandainya kita mau sedikit saja merasa apa yang dirasa orang lain… seandainya kita mau sedikit saja membuka indera-indera kita…

banyak orang baik di dunia ini, tapi sedikit diantaranya yang bisa peka, yang bisa tanggap apa yang dibutuhkan oleh saudaranya. ya, tidak wajib memang. tapi,.. haruskah menjelaskan kembali sesuatu yang sudah nyata di depan mata…?

iri, dengki, dan ikhlas (lagi)

pernahkah kalian merasa iri, kawan? tak perlu dijawab. jawabnya hampir pasti, pernah.

iri itu menginginkan sesuatu yang dimìliki orang lain. kalo berhubungan dengan pihak ketiga namanya cemburu. dan kalo diikuti perasaan tidak senang namanya dengki. iri dan dengki adalah salah dua sifat tidak terpuji. normatif sekali. kita semua mempelajarinya sejak SD. tapi praktiknya tidak semudah itu, kawan.

susah melihat orang senang, dan senang melihat orang susah. ekstrem. ya sudah, kita turunkan. merasa lega ketika mengetahui orang lain tidak lebih baik dari kita (lhoh? sami mawon) atau bahwa kita tidak lebih buruk dari orang lain. diakui atau tidak, perasaan ini sering muncul.

di sini keikhlasan kita diuji. ah, lagi-lagi tentang ikhlas. ya karena ini adalah kata favorit saya. mengulang kalimat yang pernah saya tuliskan dahulu, ikhlas adalah ketika kita merasa senang jika kebaikan terlaksana di tangan orang lain sebagaimana terlaksana di tangan kita. ini tidak mudah, kawan…

catatan 2 oktober

belakangan ini, untuk kedua kalinya saya membaca “bagaimana menyentuh hati”nya abbas as-sisiy. sudah setahun lebih sejak pertama kali saya baca ternyata belum banyak mengurangi keruwetan di kepala saya tentang hakikat menyentuh hati, basa basi, dan lebay. terkadang saya merasa perbedaannya begitu tipis hingga membuat saya bingung membedakannya.

saya paling tidak suka basa-basi. ingin sekali bisa melakukan semuanya secara alami, dari hati… tapi menunggu komando dari hati, kapan?

mungkin, ketika jasad ini saya paksakan, hati ini akan bisa mengikuti…
mmm, yah bisa jadi, sesuatu yang selama ini saya yakini berasal dari nurani saya ternyata berasal dari kesombongan saya… bisa jadi.

waktunya saya belajar…