standar penilaian 2

bismillah..
sudah berapa kali dibahas bahwa kita adalah da’i/yah, bukan hakim. saya yakin pemahaman ini sudah nglothok di kepala kalian. tapi pada praktiknya… ?

dalam tulisan saya yang lalu, saya pernah mengupas tentang standar penilaian. masing-masing dari kita punya standar tersendiri untuk menilai sesuatu. tetapi alangkah bijaknya jika standar ini tidak semena-mena. baik menurut 1 orang belum tentu baik menurut orang lain. tidak semua yang putih itu benar-benar cerah, dan yang hitam tak semuanya benar-benar pekat. ada potensi abu-abu di sana.

punya standard, silakan. sah-sah saja. harus malah. standar seorang presiden yang ideal, standar guru, standar kader, standar da’i, maupun standar orang baik. boleh. silakan. tapi tolonglah bijak menggunakan standar.

misal, kita punya standar untuk seorang kader da’wah, layaknya begini dan begitu. tapi, ketika pada kenyataannya ia berada di bawah standar -yang kita tetapkan sendiri tsb, ya ingat kembali bahwa kita bukanlah hakim. seorang da’i di satu sisi juga otomatis adalah seorang mad’u di sisi lain. ia berhak diingatkan, dinasehati, dan diarahkan, bukan serta merta langsung diadili. apalagi jika diadili dengan tidak bijak, misal di-illfeel-i, kemudian memandangnya sebelah mata atau tidak menganggapnya. bukankah hal ini malah akan membuatnya jauh dari petunjuk dan mematikan potensi kebaikannya…

do ur best

rabu, 22 september 2010…
seperti dua hari sebelumnya, saya kembali curi-curi waktu diantara sela mahasiswi baru yang mengikuti registrasi KM, untuk ‘ngeteh’ bareng kawan-kawan saya. ya, ngeteh dengan tanda kutip, karena memang tidak pernah ada teh yang sesungguhnya di sana. hanya meminjam istilah iklan, mari ngeteh, mari bicara.. 🙂

perbincangan dimulai dari sebuah buku berjudul 10 Bersaudara Bintang Al Qur’an. buku ini saya dapatkan ramadhan kemaren secara cuma-cuma dari ma’had tempat saya belajar. banyak yang sudah mereview dan membahas tentang buku ini. karena itu, saya tak hendak mengupasnya. (lagian saya juga belum selesai membacanya.. hihi..)

jujur, saya merinding membaca profil 10 bintang ini. subhanallah, prestasi mereka bejibun. mulai dari prestasi dalam menghafal Al Qur’an ini sampai prestasi akademik lain.

sementara saya lagi-lagi merinding mengetahui prestasi-prestasi anak tersebut, kawan saya, sebut saja namanya v.i.n.a sibuk mencari-cari foto dan profil orangtuanya. kemudian berkata, ” yang dahsyat itu orangtuanya, te. mungkin wajar mereka, anak-anaknya tsb, bisa seperti sekarang karena memang lingkungan keluarga sangat kondusif…

… lagian juga kalau kita kayaknya telat untuk bisa seperti mereka, tapi belum telat kan menjadi orangtua macam pak tamim dan bu wiwi ini… hehe” sambil memamerkan giginya kepada saya. (kata2nya versi ingatan saya)

“yang bisa kita lakukan adalah menjadi diri kita yang terbaik.. melakukan hal terbaik yang bisa kita lakukan.. ” lanjutnya.

oke-oke. saya mengerti. tapi bukan berarti ini menjadi rasionalisasi atas minimnya prestasi kita. tetap semangat, raih prestasi!!!

(catatan 20 hari menjelang xxx)

titip rindu buat ayah (Ebiet)

di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
benturan dan hempasan terpahat di keningmu
kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras
namun kau tetap tabah…
meski nafasmu kadang tersengal
memikul beban yang makin sarat
kau tetap bertahan

engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kìni kurus dan terbungkuk
namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia..

21 (sudah ada tulisan)

ternyata kedewasaan itu seperti kupu-kupu, makin dikejar, makin terbang menjauh…

menjadi wanita dewasa adalah tema yang belakangan menjadi obsesi kami.. (kami?). acuan yang biasa kami pakai sebagai standar adalah diantaranya : anggun – mulai dari cara bicara, cara duduk, cara berjalan, cara tertawa, sampai model pakaian dan model jilbab. tahukah saudara saudari, kami menyebut jìlbab paris yang tepinya bermanik-manik bling-bling sebagai jilbab wanita dewasa…
walaupun hal-hal tsb hanya menjadi guyonan kami tatkala bersama, tetapi kadang tanpa sadar telah menggiring pemikiran… menggesernya sedikit demi sedikit… makin kepada ketidakjelasan.

dan benarlah, kedewasaan itu bukanlah untuk dikejar…
yah, mungkin ia akan hadir tanpa disadari..
orang dewasa tak pernah merasa dirinya dewasa…

#catatan 21 hari menjelang batas waktu harus kutemukan jawaban sebuah teka-teki

pelajaran moral 5 syawal

di manapun dan kapanpun, selalu saja ada hikmah yang bisa kita ambil untuk sekedar merefleksikan diri. (fatih laptopmini).
——
selasa, 05 syawal 1431 H adalah waktu yang kami (saya dan kawan-kawan SMA) agendakan untuk bershilaturahim dengan bapakibu guru SMA. semoga shilaturahim ini tak sekedar tradisi dan bersalam-salaman saja. tapi benar-benar bisa menyambung (shilat) persaudaraan, mendatangkan rizqi, dan memperpanjang umur…

karena tema shilaturahim ini adalah tema alumni dan guru-guru, maka objek perbincangan tak akan jauh dari seputar keadaan SMA sekarang dan tentu perkuliahan kami. cerita detil di-skip aja.

pelajaran moral pertama yang saya ambil adalah : kadang tanpa sadar perbuatan yang kita lakukan, walaupun sebenarnya biasa-biasa saja, telah menzhalimi orang. dalam satu forum, mengajak bicara 1 orang dan mengacuhkan orang lain adalah menzhalimi orang-orang lain tersebut.
“jika kalian sedang bertiga, maka janganlah dua orang berbisik tanpa seorang yang lain, sehingga kalian membaur dalam pergaulan manusia, sebab yang demikian itu akan membuatnya sedih” (HR Bukhari, Fathul Baari : 11/83). ini juga berlaku ketika sedang berempat, dan tiga orang mengabaikan yang keempat.

pelajaran moral kedua adalah jangan terlalu banyak bercerita tentang diri sendiri. walaupun cerita itu tentang kebadungan atau kenakalan masa lalu, tapi aroma-aroma kebanggaan akan diri sendiri itu akan tetap tercium. dan ini yang benar-benar harus saya resapi.

positif

hidup itu jangan dibikin susah, kawan…
ia hanya senda gurau dan permainan, walaupun memang bisa melenakan.
bahagia dengan apa yang ada…
jangan dipusingkan dengan sesuatu yang tidak ada.
berperasaan positif, itu kunci. yup, positif, dan kita akan bahagia….

Selamat Berbahagia….

wong ndeso 2

tidak heran mengapa mbak vina histeris “wua, akhirnya ute bisa berhubungan dengan dunia luar…”, karena memang beliau tahu bahwa ponsel saya akan hampir 100% inactive selama di rumah. bukan karena rusak, tapi karena jaringan untuk provider indosat sangat lemah. sinyal paling satu atau dua biji doang. kalo telkomsel lumayanlah. tapi yang paling kuat itu sinyal smart, ya yang menyupport onlenisasi saya sekarang ini…

oh tidak, kawan…! jangan kasihan sama saya. kasihan saja sama orang2 yang mau bikin kolam renang di gedung DPR… mereka lebih pantas.

selain akses komunikasi, akses perhubungan juga masih sulit. desa saya terletak di lereng bukit (gak ada namanya) pojok selatan kabupaten ponorogo. jarang sekali ada angkutan umum dari kecamatan masuk desa saya. kalau ada hanya hari-hari tertentu, biasanya hari pasaran. itupun kebanyakan truk-truk yang mengangkut hasil pertanian atau sapi atau kambing. inilah salah satu penyebab anak-anak di desa saya jarang melanjutkan sekolah. susah cari angkutan. paling banter setingkat SMA. itupun terbatas anak-anak yang orangtuanya mempunyai kendaraan sendiri, misal motor.

seperti yang terjadi pada tetangga saya. dulu ia pernah masuk SMK di kecamatan. harusnya sekarang kelas 2. tapi ia tidak sanggup tiap hari mikir bagaimana cara berangkat dan pulang sekolah. akhirnya ia sekarang pergi ke surabaya, seperti kebanyakan teman-temannya yang lain, kerja. ah, kalau kalian diberi nikmat tidak merasakan hal seperti ini, lafazhkan tahmid sekarang juga.

ini nyata, kawan…

kalau saya, dulu kan ngekost. hehe…

jamak

bahtera tidak diciptakan untuk sekedar berlabuh di dermaga, kereta tak diciptakan untuk berdiam di stasiun, bis pun tidak diciptakan untuk parkir di terminal……………..
demikian pula seorang ‘alim (berilmu). ia tak diciptakan sekedar mendapatkan ilmu, tapi juga dituntut untuk menunaikan hak atas ilmu yang dimilikinya. diamalkan, dan tentu diajarkan pula. tapi nyatanya, lima belas tahun ‘makan bangku’ sekolah seolah tak cukup menyiapkan saya untuk outstanding di masyarakat.
ah, ini klise. kalian pasti sudah menangkap arah pembicaraan saya kemana.
dulu saya sempat sombong, yakin akan mampu mempertahankan eksistensi dengan prinsip kemandirian saya. toh saya terbiasa ber’sollo karier’, begitu pikir saya waktu itu. namun, kenyataan memporak-porandakan keangkuhan itu. nyatanya, saya layaknya hanya seperti seekor domba yang takut diterkam serigala tatkala sendirian.

sayonara

23 Ramadhan, malam hari.
mendadak rencana mudik berubah, bukan jumat, tapi kamis. artinya, besok pagi… dan berhubung masa sewa kost juga berakhir, mau tidak mau harus beberes dan segera enyah dari sini . ?.

ngepack buku2. wuah, ternyata buku saya banyak juga. terkumpul 7 kardus. itu buku2 kuliah sejak tingkat 1 selain yang udah dihibahkan ke adik tingkat. sebagian buku2 teks, modul2, soal2, buku2 catatan, buletin2, selebaran2, dll. bengong. dahsyat. buku sebanyak ini tapi kok saya gak pinter2 juga ya. hiks. inget ujian kompre tiga hari terakhir. betul2 merasa bodoh. selama ini apa yang saya pelajari… tiga tahun. sedih.