pelajaran tentang tsabat

ku teruskan perjalanan panjang yang begitu melelahkan… dan ku yakin Kau tak ingin aku berhenti…

—-@
keteguhan, mungkin itu yang dimaksud mas sabrang dalam liriknya di atas. tsabat, bahasa gaulnya. ah, betapa susahnya meneguhkan diri. saya merasakannya… kalian mungkin juga, kawan. mereka yang di sana-sana juga.

dan tidak sedikit yang akhirnya kalah dan pasrah. gugur, tidak menepati janji kepada Allah.. al-ahzab : 23.
coba kita lihat bagaimana bani israil menghadapi ujian tsabat ini…

ada suatu masa ketika mereka pernah tinggal di palestina, mereka berada pada masa2 kelam dan teraniaya. hingga akhirnya mereka tak tahan dan meminta kepada nabi mereka untuk mengangkat seorang pemimpin yang akan memimpin mereka berperang. awalnya nabi ragu karena tahu tabiat mereka yang enggan disuruh perang. tapi mereka meyakinkan nabinya dan akhirnya diangkatlah thalut. — > al-baqarah 246

ujian pertama datang. thalut adalah seorang rakyat yang miskin. mereka menolaknya. —> al-baqarah 247

kemudian nabi menjelaskan kepada mereka tentang kemampuan thalut yang layak menjadi pemimpin mereka —> al-baqarah 248

ujian kedua datang. Allah menguji mereka, melarang mereka minum air sungai ketika melewatinya… tetapi kebanyakan mereka melanggar. dan akhirnya hanya yang patuhlah yang diajak berangkat perang.

ujian ketiga datang. mereka yang berjumlah sedikit itu takut melawan tentara jalut. mereka lari dari peperangan dan hanya sedikit dari yang sedikit yang tetap berperang—> al-baqarah 249.
tetapi mereka yang sedikit ini akhirnya dengan izin Allah pulang dengan kemenangan —> al-baqarah 251

dan inilah pelajaran tentang tsabat. satu per satu berguguran. hanya sedikit yang lolos. selapis demi selapis terkikis, habis. aus. hanya seiris yang menyerta.

yaa muqallibal qulub, tsabbit qalbi ‘ala diinika.

Advertisements

humor sufi

kakak saya suka banget baca humor sufi. beliau sepertinya ngefans sama nasruddin hojja, tokoh yang sering dibuat kartun2 atau di tulis ceritanya di buku2 pelajaran bahasa inggris, yeah maybe karena nama kakak saya juga nasrudin.. ^-~

salah satu kisah humor tersebut adalah cerita tentang Timur Lenk yang begitu terkenal kebengisannya dalam ekspedisi militer (eh, timur lenk ini apanya jengis khan sih?). suatu ketika Timur Lenk ini bertanya kepada nasruddin, ” hai orang bijak, kenapa para khalifah suka memakai gelar, seperti al-muwaffaq billah, al-mutawakkil billah, atau al-mu’tashim billah?”

“lantas kenapa?” tanya sang sufi balik

“ya kalau aku terkenal begini masuk golongan mereka, gelarku apa?”

setelah berfikir sejenak, nasruddin menjawab, ” gelar yang pantas untuk paduka adalah na’udzu billah”

—-@
hehe… semoga guyonan ini tidak makin mengurangi kesempurnaan ibadah ramadhan kita.

request skenario kematian

mati. siapa yang tidak takut akan mati…? kalaupun ia tidak takut akan proses matinya, sesungguhnya ia akan takut pada kesudahannya. dan ketakutan ini tidak berjalan sendirian. ia dibarengi harapan akan tempat kesudahan yang baik (husnu ma-ab). dua hal inilah yang akan mendorong manusia untuk mempersiapkan bekal kesana. Bersiap setiap saat. Karena hanya Rasulullah yang dimintai izin izrail sebelum dicabut nyawanya. Orang2 shalih, para wali, tidak. Apalagi kita. Bisa jadi saya akan dipanggil-Nya sebelum menyelesaikan tulisan ini. Bisa jadi.. Bisa jadi… Dan hukuman akan dilihat dari akhir hidup kita. Husn atau su’un.

“Allahumma -r zuqna husnu -l khatimah… ya Allah, rizqikan kepada kami akhir yang baik…”

‘akhir yang baik’. doa ini bisa dispesifikkan lagi, misal ketika shalat, ketika di masjid, ketika haji, ketika menyenandungkan ayat2Nya, ketika sedang belajar, ketika sedang i’tikaf dll.

mintalah, karena Dia Maha Mendengar…

catatan kemerdekaan

selama 3 tahun di STAN, 3 kalì melalui 17 agustus, baru kali ini saya gak ikut upacaranya. dua tahun kemaren biarpun gak wajib, saya ikut. nasionalisme? mungkin. percaya atau tidak, airmata saya meleleh mendengar lagu indonesia raya pas pembukaan dinamika tahun saya masuk. uwow, lebay. tapi emang rasanya heroik gimanaa gitu. atau mungkin hanya kebawa suasana haru aja… entahlah.

sekarang semangat nasionalisme saya memudar. saya udah gak peduli dengan isu2 percekcokan dengan negeri jiran (tetangga). yeah, persaudaraan aqidah tidak mengenal batas teritorial.

jadi, daripada ikut upacara bendera, mending waktunya dimanfaatkan buat kegiatan lain. mumpung bulan ramadhan, atau belajar buat ujian kompre. 😉

tidak suka orang sesuai kadar keburukannya

setiap orang pasti memiliki kebaikan di satu sisi dan keburukan di sisi lainnya, sebagaimana Allah telah mengilhamkan jalan kefasikan dan ketaqwaan sekaligus. mana yang dominan tergantung pilihan masing-masing. karena kebaikannya inilah ia dicintai dan karena keburukannya inilah ia dibenci. ya sesuai kadarnya. maka kita harus memilah-milah, tidak menyukai seseorang hanya sebesar kadar keburukannya saja. jadi gak gebyah uyah. ketika kita tidak menyukai seseorang karena dia terlalu banyak ketawa, ya udah, jangansukai dia karena ketawanya itu. bukan lantas memandang miring dia dalam segala sendi kehidupannya.

mari kita lihat bagaimana Rasulullah mencontohkan cara bermuamalah dengan shahabat ‘setengah-setengah’nya.
tersebutlah abdullah bin himar, shahabat yang suka membuat Rasullah tertawa. pernah suatu ketika ia menyuruh penjual roti untuk mengirimkan roti kepada Rasulullah. tapi dia tidak membayar roti tsb. si penjual roti sambil mengirimkan roti untuk Rasulullah sambil meminta Rasulullah membayarnya. Rasulullah telah ‘dikerjain’, tapi akhirnya beliau malah tertawa.

Sayangnya, abdullah suka minum khamr. sudah berkali-kali minum, berkali-kali dihadapkan kepada Rasulullah, dan berkali-kali dicambuk. hingga suatu ketika seorang shahabat menghujatnya, “betapa sering dia didatangkan dalam keadaan mabuk”
“jangan menghujatnya. sejauh yang aku tahu, dia mencintai Allah dan RasulNya. hanya karena tidak bisa mengendalikan nafsunya, dia sering minum khamr” jawab Rasulullah (dari shahih bukhari, redaksi sesuai ingatan saya)

Pakta Toilet Gd I

saya cukup terhenyak ketika dalam penyusunan pakta kemarin disebutkan “menghubungi ortu minimal 1x per pekan”…

jadi, gini ceritanya.. saya dan seorang kawan sepakat membuat pakta ramadhan, kesepakatan2 yg harus kami lakukan selama bulan ramadhan. karena kami menyusun paktanya di toilet, makanya kami namakan Pakta Toilet Gedung I Lt 2. kedengerannya jelek banget, ya? ga papa.. substance over form.

oh iya, kembali ke terhenyak tadi. setelah klausul menghubungi ortu minimal 1x per pekan- itu disebutkan, protes lah saya… “jangan dong… terlalu sering..”. temen saya terhenyak balik. “apa?”. setelah itu saya tiba2 merasa seperti anak yang paling gak berbakti kepada orangtua. T.T.

padahal, sungguh, saya begitu mencintai dan menghormati mereka… tapi kadang emang saya bingung kalo mw nelpon.. mau ngomongin apa ya… biasanya bapak yang nelpon. itupun kira2 sebulan sekali. ya ampun, te… maafkan anakmu ini, bapak ibuk.. yang tak mampu mengurai kata cinta walaupun mungkin sekedar rengekan tentang kaos kaki – kaos kaki yang kehilangan pasangan.

mungkin aku bukan pujangga yang pandai merangkai kata
ku tak slalu kirimkan bunga untuk ungkapkan hatiku
ku ingin kau tahu semua isi hatiku
ku tak akan pernah cegah hati ini hingga dunia tak bermentari

satu yg ku pinta yakini diriku
hati ini milikmu
semua yang ku lakukan untukmu lebih dari semua kata cinta untukmu

eh, baris terakhir dianggap gak ada aja.

(eh, apakah ini postingan geje? soalnya salah satu klausul pakta menyebutkan -tidak membuat status, QN, atau postingan apapun yang geje-)

perjalanan dan momen

satu hal yang tidak saya sukai dari perjalanan adalah terbuangnya waktu. terutama jika perjalanan tsb memakan waktu lama. misal karena macet. wah, stres puol. perjalanan lama juga dirasakan ketika mudik. butuh waktu 20 jam perjalanan dari kost sampai rumah. tapi, untuk perjalanan yg ini ga bikin stres kok (ya iyalah, mudik gitu…). tapi waktunya agak sayang juga. apalagi saya bukan tipe orang yg sangat bisa memanfaatkan momen di perjalanan untuk membaca dsb. mumet je. jadi lebih suka ngeliatin jalanan, yg sebenarnya ya begitu-begitu saja.

makanya sebenarnya tidak dianjurkan ada tradisi mudik menjelang lebaran. mengingat mudik ini biasa dilakukan di hari-hari akhir bulan ramadhan. padahal sebagaimana kita tahu, pada saat itu benar2 pahala diobral. tapi ya mau bagaimana lagi,… mungkin masing-masing orang punya cara tersendiri menyiasati agar momen luar biasa tsb tidak disia-siakan.

bicara masalah perjalanan panjang agak disayangkan, saya ingat guru sejarah saya waktu SMP. berapa ya usia beliau sekarang… ehm, udah senior. sejak jaman paman saya SMP, beliau udah jadi guru disana. sampai sekarang, keponakan saya SMP, anaknya paman saya tadi, juga masih diajar sama bapak tsb. seperti kata ‘orang tua’, dadi guru ki awet enom.

eh, kembali ke topik perjalanan. jadi, bapak guru saya tsb tiap ngajar nglaju dari rumah beliau yang di madiun (tapi udah deket magetan). sementara SMP tempat beliau ngajar itu di ujung selatan ponorogo (udah deket ke trenggalek). entah berapa km. jauuuh beud.
pas kemarin saya mudik, saya ketemu beliau.
saya : lho, pak, jenengan masih ngajar di sini? saya kira udah mutasi?

beliau : uangel lho, nduk. mau gimana lha untuk memenuhi beban 24 jam…

memang, denger-denger, berdasarkan permendiknas, ditetapkan bahwa guru yang telah memperolah sertifikat pendidik mempunyai tanggungan beban mengajar minimal 24 jam tatap muka per minggu. nah, ini yang menyulitkan. kalo bapak guru saya tsb pindah, susah nyari sekolah dimana beliau dapet jatah minimal 24 jam. kalo batas ini ga terpenuhi, gak dapet tunjangan profesi yang besarnya sama dengan gaji pokok. apalagi beliau mengajar mata pelajaran sejarah yg setiap pertemuan hanya 2 jam.
yah, semoga beliau tetap diberi kesehatan dan kesabaran.

ayo, jadi kapan temen-temen mudik?

memang rumit

waktu kecil, saya punya 2 teman bermain. selisih umur kami tak lebih dari 1 tahun, ya sepantaran lah kata orang jawa. layaknya persahabatan orang dewasa (jyah), persahabatan kami pun tak lepas dari masalah, terutama karena cemburu. jika saya lagi main sama A, si B cemburu. ketika A lagi jalan2 sama B, saya yg cemburu.

mmm, kadang kita baru menyadari bahwa kita menyayangi seorang teman setelah dia terlihat begitu dekat dengan orang lain. cemburu. makanya saya agak kurang suka bepergian bertiga. pasti salah satu jadi dicuekin. Rasulullah pun melarang kita berbisik empat mata dan membiarkan orang ketiga.
“jika kalian sedang bertiga, maka janganlah dua orang berbisik tanpa seorang yang lain, sehingga kalian membaur dalam pergaulan manusia, sebab yang demikian itu akan membuatnya sedih” (HR Bukhari, Fathul Baari : 11/83). ini juga berlaku ketika sedang berempat, dan tiga orang mengabaikan yang keempat.

kembali pada masalah cemburu. cemburu itu manusiawi dan memang diperlukan. karena ya tadi, kadang kita baru sadar bahwa kita menyayangi seseorang setelah cemburu. dan baru sadar bahwa selama ini kurang memperhatikannya sehingga ia jadi lebih dekat dengan orang lain. tapi, saya mesti berterima kasih kepada imamsol yang telah memosting tentang belajar mencintai. yup, saya mencintai temen2 saya, tak peduli apakah mereka juga mencintai saya atau tidak. karena saya mencintai, bukan minta dicintai.

haha… ternyata hubungan antarwanita itu begitu rumit. (dan kami tertawa bersama-sama… )

-dipersembahkan untuk temen2 kos-

ahad

bismillah…
kalo gak salah, pak salim dalam bukunya, gue never die, pernah menyebutkan tentang salah satu belenggu aqidah yaitu kesombongan intelektual. belenggu ini hanya akan bisa dilepaskan oleh kesaksian bahwa Allah lah satu-satunya tuhan dan rasulullah adalah utusan-Nya. dahsyat sekali. sungguh pun ketika selama ini kita tak pernah merasa sombong, maka sebenarnya kita telah sombong. otak ini begitu egois membiarkan kesombongannya telah menutupi hati dari kebenaran. padahal apa yang bisa dibanggakan dari otak manusia? ayolah… hanya ada beda tipis antara pengukuhan jati diri dan keangkuhan…

aqidah, jika ia bersih maka kokohlah segalanya.. jika tidak, maka sebaliknya, bisa hancurlah segalanya. itulah mengapa saya begitu begitu menyukai QS al-ikhlash.
katakanlah, ” Dia-lah Allah, Yang Mahaesa
hanya Allah-lah tempat bergantung
Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan
dan tidak ada satupun yang menyamai-Nya”

nama surat ini al-ikhlash. padahal tidak ada kata ikhlash atau khalasha didalamnya. tapi -maaf menurut saya-, konsep ikhlash ada dalam surah ini. khalasha = murni —> Allah, hanya Dia tempat bergantung, satu-satunya.

dalam sebuah hadits juga disebutkan yang intinya (redaksi sesuai ingatan saya) tentang tiga hal yang menyelamatkan, yakni : bertaqwa kepada Allah dalam keadaan sepi dan ramai, berkata benar dalam keadaan senang dan sedih, dan berhemat dalam kondisi kaya atau miskin. sedangkan tiga hal yang membinasakan yakni : hawa nafsu yang diikuti, kesalahan atau kebathilan yang diikuti, dan ujub (membanggakan diri). keenam hal ini terkait dengan aqidah.

ehm, agak gak nyambung ya dari awal sampai akhir? maaf, kata2 saya tak bisa menerjemahkan pikiran saya. otak saya yang ruwet kali ya ;-). yups, semoga bermanfaat ^^