mendoakan orang kafir

Postingan ini masih ada hubungannya dengan postingan sebelumnya yaitu tentang interaksi dengan orang kafir. Kafir, kedengaran kata ini kasar sekali. ehm, tetapi bukankah Allah juga menggunakan kata ini untuk menyebut orang yang tidak beriman kepada-Nya. Menurut ustadz saya di ma’had, kata ‘kafir’ ini lebih sopan daripada kata ‘non-muslim’ karena menggunakan bahasa Allah. Selain itu menurut beliau kita dapat pahala ketika menggunakan kata ini karena sudah menyebut tiga huruf dalam Al-Qur’an yaitu kaf, fa’, dan ra’ apalagi kalau jama’ kaf, fa, ra, wawu, nun. Udah berapa tuh pahalanya. Yah, berarti nilai rasa saya yang harus sedikit digeser. Oke, ‘kafir’ tidak kasar.

Postingan ini saya buat karena terinspirasi oleh interaksi saya beberapa bulan belakangan ini dengan dosen pembimbing saya yang -ya itu. Tidak perlu saya sebut nama beliau. Terus terang, kami (saya dan teman2 sedosbing) bermasalah cukup berat dengan beliau sampai akhirnya beliau benar2 tidak mau baca lagi KTTA kami. Ya sudahlah… saya tak hendak membahasnya.

Perdebatan diantara saya dan kawan2 terjadi manakala salah satu kawan saya sebelum menghadap beliau mengucapkan ,”semoga beliau hari ini baik dan mendapat hidayah-Nya”.

Sebenarnya bolehkah kita mendoakan orang kafir? Berdasarkan materi yang saya baca di internet mengatakan bahwa mendoakan orang kafir agar mendapat rahmat dan ampunan adalah diharamkan.
Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik itu adalah kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, itu adalah penghuni neraka Jahannam. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah di-ikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun”
[At-Taubah : 113-114]

Eit, tapi tunggu dulu, dalam ayat di atas, yang tidak boleh adalah mendoakan orang kafir yang sudah jelas bagi menjadi penghuni neraka. Artinya orang kafir yang sudah meninggal. Sedangkan mendoakan orang kafir yang masih hidup diperbolehkan. Seperti yang dilakukan Rasulullah untuk paman beliau.

Rasulullah juga pernah berdoa untuk Umar bin Khaththab tatkala ia masih belum beriman.
Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ’anhu bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu ’alaih wa sallam berdoa: “Ya Allah, muliakanlah Islam dengan sebab kecintaan dua lelaki kepadaMu, yaitu dengan sebab ‘Amr bin Hisyam (Abu Jahl) atau dengan sebab ‘Umar bin Khaththab.” (Sunan At-Tirmidzi 12/141). Dan ternyata ‘Umar yang ‘terpilih’.

Jadi bisa diambil kesimpulan bahwa Islam tidak melarang mutlak doa untuk orang kafir. Hal itu diperbolehkan dengan syarat : Yang didoakan masih hidup dan hanya berisi satu permintaan agar orang tersebut mendapat hidayah.

referensi : disini

Ya Allah, berikanlah petunjuk-Mu kepada beliau.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s