sedikit tentang samara -pesenan mbak peni

Sebuah perjalanan membina keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah…. kalimat dahsyat tersebut yang mengawali talkshow ahad kemarin. hmm, saya tak hendak membuat laporan rinci mengenai isi talkshow. tetapi, ada beberapa hal yang diceritakan bapak dan ibu chris (selaku pembicara) yang masih terngiang-ngiang di telinga saya…

“ada atau tidak suami saya, saya anggap tidak ada!” ucap bu chris. Spontan bengonglah saya. Ternyata maksud beliau adalah bahwa seorang istri harus mandiri, bukan hanya dari sisi finansial, tetapi juga dalam hal-hal lain. Jangan sampai karena kemanjaan seorang istri membuat karier suami jadi terhambat. Sebentar-sebentar ‘ mas, anterin ke sana dong, ke sini dong, ke situ dong“. rasanya ‘enggak banget’ ketika seorang istri telat datang ke majelis ta’lim hanya karena lama menunggu suami untuk mengantarkan. Sebisa mungkin jangan sibukkan suami dengan urusan rumah tangga. Genteng bocor? Coba urus sendiri. Gak perlu harus suami yang melakukan. Itu dari perspektif istri. Tapi bukan berarti bahwa suami juga kemudian tak tahu menahu urusan rumah tangga. Seperti yang diceritakan bu chris mengenai pak chris yang menyisakan senyumnya saat mendengarkan cerita-cerita dari bu chris mesti mata sudah tak sanggup dibuka. Dan bu chris hanya bisa menangis. bukan karena sedih, tapi terharu… terharu akan kesungguh-sungguhan suaminya ingin mendengarkan cerita2nya dalam sisa2 tenaganya. Hal ini juga terangkum dalam perkataan ustadz ika ” jangan pernah menuntut hak, tapi lakukan kewajiban! karena jika kedua pihak saling melakukan kewajiban, maka otomatis hak-hak juga akan terpenuhi”.

Hal yang mesti dipahami adalah bahwa ketika dua orang telah berkomitmen dalam sebuah perjanjian yang teguh (mitsaqan ghalizha), artinya mereka telah siap mengucapkan selamat datang kepada masalah… Keluarga samara bukan berarti keluarga yang lepas dari masalah dan konflik. Pun yang terjadi dalam keluarga Bapak Chris ini… Diceritakan suatu ramadhan pernah terjadi konflik dalam keluarga beliau. Pak Chris yang lebih suka menutup konflik, memilih menghindar dengan beri’tikaf di masjid. Menjelang sahur, sambil berusaha mengalahkan gengsinya, akhirnya beliau memutuskan untuk pelang ke rumah. Di tengah perjalanan beliau betemu dengan bu chris yang membawa makanan hendak diantarkan ke masjid tempat pak chris. dan ya sudah…. masih dengan mulut terdiam, beliau berdua kembali pulang…. (lucu aja membayangkan hal ini)

apa lagi ya…. oh iya. pesan lain yang disampaikan bu chris diantaranya adalah anggap anak2 di lingkungan kita seperti anak kita sendiri. karena ya dengan mereka lah anak2 kita akan bergaul. Apa yang anak2 itu lakukan akan ditiru oleh anak2 kita. jangan salah, anak2 itu lebih bersosialisasi ketimbang orang tuanya… ya kan ya kan…?

duh, maaf agak gak jelas. terus terang saya bingung mau nulis apa ketika mbak kucingkumanis tiba2 request minta dibikinin postingan ini karena beliau kemarin tidak berkesempatan mengikuti talkshow dari awal sampai akhir. ya maklumlah, saya kan belum punya kapasitas menulis tentang ini. ya tapi, mudah2an bermanfaat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s