yang dirindukan

makin hari tubuhnya makin tampak lemah. tapi wajahnya nampak bersih bercahaya. senyumnya mengembang.

berjuta rakyat yang telah dikenyangkannya, orang telanjang yang diberinya pakaian, orang hina dina yang telah dimuliakannya, orang lemah yang dilindunginya, semua seolah-olah akan menjadi anak-anak yatim. semua merasa terpukul mendengar ‘ayah’ mereka akan meninggalkan mereka. bahkan kaisar romawi yang amat memusuhinya mengirimkan ahli kedokteran untuknya. namun ia menolak semua obat yang diberikan kepadanya.

khalifah yang begitu masyhur itu terbaring di tempat tidurnya yang amat sederhana. kemudian masuklah maslamah bin abdul malik menanyainya, “wahai amirul mukminin, tidakkah anda akan berwasiat perihal putra putri anda? mereka banyak jumlahnya, sedangkan selama ini anda telah menelantarkannya, dan kini anda tak meninggalkan apapun kepada mereka”. ” apakah saya memiliki sesuatu yang dapat saya wasiatkan untuk mereka?”tanya amirul mukminin. “atau kamu menghendakiku memberikan harta umat kepada mereka? demi Allah, saya tidak akan memberikan hak orang lain kepada mereka. mereka boleh memilih satu diantara dua : tetap menjadi orang shalih dan niscaya akan dilindungi Allah, atau menjadi orang tidak shalih, dan saya takkan meninggalkan sesuatu pun yang akan membantu mereka berbuat maksiyat kepada Allah ” tegasnya.

ialah khalifah umar bin abdul aziz di penghujung kehidupannya.

—-@-@—-
mungkinkah masih bisa mengharapkan pemimpin seperti itu saat ini? pemerintah, dalam arti luas termasuk di dalamnya para wakil rakyat. rasanya mustahil. makin hari makin mengecewakan ulah mereka yang terhormat itu. bolos sidang; kalaupun hadir tanpa malu-malu suka terlelap, baca koran, atau berantem; tapi malah ‘malu-malu’ melaporkan kekayaannya. ah,

mimpi

setelah menyelesaikan Bidadari-bidadari Surga kemaren, rasanya ketagihan mau baca novel lagi. kali ini Orang Miskin dilarang Sekolah siap di tangan. dari dulu saya sangat tertarik dengan tema-tema sosial seperti ini. entah apakah membuntut kepada kakak saya yang emang penyuka teori-teori kiri atau karena saya sempat merasakan nuansa-nuansa itu. satu dua lembar terbaca, oke lanjut. tiga empat dan seterusnya sampai halaman 109 saya memutuskan berhenti. tidak ada yang istimewa. ceritanya mirip cerita-cerita di buku intan pariwara yang saya baca waktu SD. intinya tentang mimpi lah.

omong-omong soal mimpi, walaupun saya banyak membaca buku-buku intan pariwara, tapi saya dari kecil tidak terbiasa bermimpi. terdengar begitu menyedihkan memang. ya sudahlah, saya tidak sedih kok.

setelah di stan, diantara sahabat-sahabat yang saya sebut bala kurawa, ada dua orang sahabat saya yang mimpi-mimpinya jauh berkebalikan. dua-duanya berinisial z. Z1 bercita-cita tuinggi. beliau selalu bercerita ingin kuliah s1 dan s2 di luar negeri. pintar bahasa inggris dan mau belajar bahasa jepang. sering berkoar di depan saya untuk pantang kembali ke kampung halaman sebelum membawa kesuksesan. ingin menjadi wanita karier lah. hehe, tapi nyatanya beliau sering mudik juga ;-)… tapi, keren kok. energinya begitu hidup dan meletup-letup. mengajak saya melihat dunia dari sisi lain yang tak kalah indah.
Z2, setahun terakhir selalu bersama saya. ya iyalah, satu kelas, sering satu bangku pula. cita-citanya begitu sederhana. beliau bukan tipe wanita pengejar karier. tidak berminat juga melanjutkan kuliah. udah males mikir, ungkapnya. beliau ingin menjadi ibu rumah tangga yang mengurus suami, anak-anak, dan memegang beberapa halaqah. kalaupun bekerja di kantor, beliau ingin menjadi pegawai yang cukup mengucapkan “selamat, pagi. ada yang bisa dibantu?” mahasuci Allah..

dua-duanya keren yak. eh, sebenarnya masih banyak bala kurawa lain yang keren. tapi untuk saat ini itudulu ya.:-)

sementara, mimpi saya apa? abstrak. ah, untung dosen kspk tidak memberi tugas bikin life mapping…:-)

bidadari-bidadari surga -tere liye

saat ada ular pemangsa yang mengancam sarangnya, saat ada hewan buas lain yang mengincar anak-anaknya, induk kukang akan habis-habisan mempertahankan sarang. sampai mati. dan ketika ia sekarat, ia akan mengambil cairan di ketiak kiri dan kanan kemudian menggabungkannya. ini akan menjadi racun mematikan yang membunuh binatang buas yang memangsanya. iya, agar anak-anaknya selamat ia rela mati dengan pemangsanya.

gambaran tersebut sangat mewakili karakter Laisa dalam novel ini. keren. keren banget. energi pengorbanan seorang kakak yang luar biasa… ia benar-benar menunaikan janjinya. janji untuk menjaga adik-adiknya. janji agar mereka tetap sekolah. janji bahwa yang boleh malu itu hanya kakak, bukan adik-adiknya. hhf, sukses membuat saya termehek-mehek. apakah semua sulung melakukan hal tersebut untuk adik-adiknya? *tanya serius

tiba di kalimat ini, saya berhenti. – Kak laisa tidak pernah berubah. ia selalu ingin mendengar apa yang dikerjakannya (adik-adiknya)-. ehm, entahlah, terus terang saya iri sekali dengan dalimunte, ikanuri, wibisana, dan yashinta. hhh… sudahlah.

satu lagi pelajaran yang saya dapatkan, yaitu tentang urusan pelik dalam hubungan kakak-adik, yakni ‘melintas’ (tahu maksud saya?). rumit memang. tak hanya karena ini agak negatif dalam pandangan kebiasaan/adat dalam masyarakat. tapi lebih rumit dari itu.

tanpa tanda jasa – tv one

banyak orang di luar sana yang kurang beruntung , tidak berkesempatan belajar atau bersekolah… salah satu contohnya adalah anak2 di pulau burung, daerah tanah bumbu, kalimantan selatan. satu2nya sekolah yang ada adalah sekolah dasar yang hanya bisa ditempuh dengan menyeberang ke pulau tsb… yang hanya memiliki seorang pengajar tanpa bayaran sepeserpun… fakta seperti ini tentu sudah banyak kita dengar, bukan hanya di tanah bumbu, tetapi juga daerah2 lain, terutama pelosok2. emm, mereka keren ya…

oh iya, selamat hari anak… ! ^^

#hheh, menoleh ke sudut ruangan. tiga modul uks masih tertumpuk rapi. @ ayo belajar, teee…! @@

mendoakan orang kafir

Postingan ini masih ada hubungannya dengan postingan sebelumnya yaitu tentang interaksi dengan orang kafir. Kafir, kedengaran kata ini kasar sekali. ehm, tetapi bukankah Allah juga menggunakan kata ini untuk menyebut orang yang tidak beriman kepada-Nya. Menurut ustadz saya di ma’had, kata ‘kafir’ ini lebih sopan daripada kata ‘non-muslim’ karena menggunakan bahasa Allah. Selain itu menurut beliau kita dapat pahala ketika menggunakan kata ini karena sudah menyebut tiga huruf dalam Al-Qur’an yaitu kaf, fa’, dan ra’ apalagi kalau jama’ kaf, fa, ra, wawu, nun. Udah berapa tuh pahalanya. Yah, berarti nilai rasa saya yang harus sedikit digeser. Oke, ‘kafir’ tidak kasar.

Postingan ini saya buat karena terinspirasi oleh interaksi saya beberapa bulan belakangan ini dengan dosen pembimbing saya yang -ya itu. Tidak perlu saya sebut nama beliau. Terus terang, kami (saya dan teman2 sedosbing) bermasalah cukup berat dengan beliau sampai akhirnya beliau benar2 tidak mau baca lagi KTTA kami. Ya sudahlah… saya tak hendak membahasnya.

Perdebatan diantara saya dan kawan2 terjadi manakala salah satu kawan saya sebelum menghadap beliau mengucapkan ,”semoga beliau hari ini baik dan mendapat hidayah-Nya”.

Sebenarnya bolehkah kita mendoakan orang kafir? Berdasarkan materi yang saya baca di internet mengatakan bahwa mendoakan orang kafir agar mendapat rahmat dan ampunan adalah diharamkan.
Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik itu adalah kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, itu adalah penghuni neraka Jahannam. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah di-ikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun”
[At-Taubah : 113-114]

Eit, tapi tunggu dulu, dalam ayat di atas, yang tidak boleh adalah mendoakan orang kafir yang sudah jelas bagi menjadi penghuni neraka. Artinya orang kafir yang sudah meninggal. Sedangkan mendoakan orang kafir yang masih hidup diperbolehkan. Seperti yang dilakukan Rasulullah untuk paman beliau.

Rasulullah juga pernah berdoa untuk Umar bin Khaththab tatkala ia masih belum beriman.
Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ’anhu bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu ’alaih wa sallam berdoa: “Ya Allah, muliakanlah Islam dengan sebab kecintaan dua lelaki kepadaMu, yaitu dengan sebab ‘Amr bin Hisyam (Abu Jahl) atau dengan sebab ‘Umar bin Khaththab.” (Sunan At-Tirmidzi 12/141). Dan ternyata ‘Umar yang ‘terpilih’.

Jadi bisa diambil kesimpulan bahwa Islam tidak melarang mutlak doa untuk orang kafir. Hal itu diperbolehkan dengan syarat : Yang didoakan masih hidup dan hanya berisi satu permintaan agar orang tersebut mendapat hidayah.

referensi : disini

Ya Allah, berikanlah petunjuk-Mu kepada beliau.

sedikit tentang samara -pesenan mbak peni

Sebuah perjalanan membina keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah…. kalimat dahsyat tersebut yang mengawali talkshow ahad kemarin. hmm, saya tak hendak membuat laporan rinci mengenai isi talkshow. tetapi, ada beberapa hal yang diceritakan bapak dan ibu chris (selaku pembicara) yang masih terngiang-ngiang di telinga saya…

“ada atau tidak suami saya, saya anggap tidak ada!” ucap bu chris. Spontan bengonglah saya. Ternyata maksud beliau adalah bahwa seorang istri harus mandiri, bukan hanya dari sisi finansial, tetapi juga dalam hal-hal lain. Jangan sampai karena kemanjaan seorang istri membuat karier suami jadi terhambat. Sebentar-sebentar ‘ mas, anterin ke sana dong, ke sini dong, ke situ dong“. rasanya ‘enggak banget’ ketika seorang istri telat datang ke majelis ta’lim hanya karena lama menunggu suami untuk mengantarkan. Sebisa mungkin jangan sibukkan suami dengan urusan rumah tangga. Genteng bocor? Coba urus sendiri. Gak perlu harus suami yang melakukan. Itu dari perspektif istri. Tapi bukan berarti bahwa suami juga kemudian tak tahu menahu urusan rumah tangga. Seperti yang diceritakan bu chris mengenai pak chris yang menyisakan senyumnya saat mendengarkan cerita-cerita dari bu chris mesti mata sudah tak sanggup dibuka. Dan bu chris hanya bisa menangis. bukan karena sedih, tapi terharu… terharu akan kesungguh-sungguhan suaminya ingin mendengarkan cerita2nya dalam sisa2 tenaganya. Hal ini juga terangkum dalam perkataan ustadz ika ” jangan pernah menuntut hak, tapi lakukan kewajiban! karena jika kedua pihak saling melakukan kewajiban, maka otomatis hak-hak juga akan terpenuhi”.

Hal yang mesti dipahami adalah bahwa ketika dua orang telah berkomitmen dalam sebuah perjanjian yang teguh (mitsaqan ghalizha), artinya mereka telah siap mengucapkan selamat datang kepada masalah… Keluarga samara bukan berarti keluarga yang lepas dari masalah dan konflik. Pun yang terjadi dalam keluarga Bapak Chris ini… Diceritakan suatu ramadhan pernah terjadi konflik dalam keluarga beliau. Pak Chris yang lebih suka menutup konflik, memilih menghindar dengan beri’tikaf di masjid. Menjelang sahur, sambil berusaha mengalahkan gengsinya, akhirnya beliau memutuskan untuk pelang ke rumah. Di tengah perjalanan beliau betemu dengan bu chris yang membawa makanan hendak diantarkan ke masjid tempat pak chris. dan ya sudah…. masih dengan mulut terdiam, beliau berdua kembali pulang…. (lucu aja membayangkan hal ini)

apa lagi ya…. oh iya. pesan lain yang disampaikan bu chris diantaranya adalah anggap anak2 di lingkungan kita seperti anak kita sendiri. karena ya dengan mereka lah anak2 kita akan bergaul. Apa yang anak2 itu lakukan akan ditiru oleh anak2 kita. jangan salah, anak2 itu lebih bersosialisasi ketimbang orang tuanya… ya kan ya kan…?

duh, maaf agak gak jelas. terus terang saya bingung mau nulis apa ketika mbak kucingkumanis tiba2 request minta dibikinin postingan ini karena beliau kemarin tidak berkesempatan mengikuti talkshow dari awal sampai akhir. ya maklumlah, saya kan belum punya kapasitas menulis tentang ini. ya tapi, mudah2an bermanfaat.

maaf

entahlah… kenapa sebagian orang menangkap kata2 yang keluar dari mulut apa adanya, zhahiriyah, menelan bulat2 semuanya. padahal, ga semua yang loe denger itu bener. ga semua yang dikatakan orang itu mencerminkan isi hatinya. mulut seolah mencela, tapi kadang hati mengagumi.

ktta punya cerita

ktta. entahlah… ada sebagian yang menganggapnya seolah momok yang mengerikan, ada yang sampe ill feel mendengarnya disebut sampai makan tak nyenyak tidur tak kenyang, ada yang biasa2 aja, bikin – ditandatangani -selesai. ya sudah, emang seperti itu.

eh, ngomong2, saya lagi mau ketemu dosen penilai, ibu susi zulvina.. pertama kali tahu nama dosen penilai, saya langsung sms vina (ini zulfina pake f, tapi dipanggil pake v.. hhe, ngaruh yak?).. apa komentar vina coba? -sujud syukur sana, te… karena berurusan dengan nama keberuntungan itu-… nge~ek..

kenapa dosen penilai saya bernama susi? karena nama beliau berawalan -s. trus? jadi, penentuan dosen penilai kali ini adalah berdasarkan abjad… teman2 satu kelompok penilaian saya namanya tri – semua.

sudah ya. saya sudah dapet tanda tangan beliau barusan. tinggal minta tanda tangan bu okta. laporan selesai.

belajar

ini tentang belajar. dulu, ketika SMA ada kegiatan praktik di laboratorium untuk beberapa mata pelajaran, seperti kimia, biologi, fisika, dan komputer. biasanya pagi saya dapat teori, sorenya atau besok sorenya praktik. yang pasti, praktik baru dilakukan setelah dapet teori. karena udah tahu teorinya duluan, tidak jarang saya memanipulasi hasil praktik agar seolah2 sesuai dengan yang seharusnya… dasar ute!! efeknya, ilmu yg saya peroleh tidak bertahan lama. jadi cepet lupa…
entah ini nyambung atau tidak.. kemudian saya berkesimpulan bahwa harusnya saya belajar praktik dulu baru kemudian belajar teorinya.

selanjutnya saya menganalogikan dengan kehidupan di dunia ini. kalo pepatah jaman SD mengatakan ‘experience is the best teacher’, maka saya lumayan sependapat. mungkin ada yang akan menyangkal dengan mengatakan rujukan itu ya dari Al-Qur’an dan hadits.. pengalaman kok dijadikan rujukan dalam menyikapi masalah… oke, saya setuju. cuma, suatu pelajaran akan benar2 terasa ketika kita sudah mengalaminya… dan tentu tetap merujuk pada Al-Qur’an dan hadits.

katakanlah suatu ketika kita sedang berjalan keluar dari sebuah pusat perbelanjaan. beberapa meter kita berjalan, tiba2 mall tsb meledak. bagaimana perasaan kita setelah itu? kaget, shock? pasti. tapi selain itu otomatis kita berujar ‘seandainya terlambat sedikit saja.. pasti.. pasti.. ternyata Allah masih melindungi saya’. dan mungkin beberapa detik atau menit atau jam atau hari atau tahun kemudian kita ingat/menemui ayat dalam al-Qur’an yang berbunyi ” tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah”.. yah, kalau Allah tidak berkehendak, apapun tidak bisa terjadi..

nah, pasti feel-nya akan benar2 beda… “owh…”

jadi, jangan kemudian menghakimi orang yang banyak menggunakan pengalaman hidupnya itu orang yang xxx (apa ya istilahnya?) karena tidak langsung merujuk pada nash-nash dalil. bukankah memang kita diperintahkan untuk memperhatikan setiap kejadian di bumi ini untuk dijadikan pelajaran…?

duh, maaf ya kalo jaka sembung gak nyambung.

* terinspirasi oleh tulisan seseorang dan kata2 seseorang -yang lain… (kalo penangkapan saya salah, maaf ya, mbak… )

dan lagi, ini bukan untuk digeneralisir untuk semua metode ‘pembelajaran’…

lubang di hati (edited)

ku buka mata dan ku lihat dunia
tlah ku terima anugerah cinta-Nya
tak pernah aku menyesali yang ku punya
tapi ku sadari ada lubang dalam hati

ku cari sesuatu yang mampu mengisi lubang ini
ku menanti jawaban apa yang dikatakan oleh hati

apakah itu Kamu, apakah itu dia
kucari tanpa henti
apakah itu cinta apakah itu cita
yang mampu melengkapi lubang di dalam hati

ku mengira hanya dialah obatnya
tapi kusadari bukan itu yang ku cari
kuteruskan perjalanan panjang yang begitu melelahkan
dan ku yakin Kau tak ingin aku berhenti

-¤–¤-
keren euy…
suka banget lirik bikinan mas sabrang mowo damar panuluh ini…
setiap kata didalamnya penuh makna…
dalam dan tinggi.

mari kita lihat :
“kubuka mata dan kulihat dunia, tlah kutemukan anugerah cinta-Nya”
==> menyadari betapa besar nikmat yang diberikan Allah sebagai tanda cinta-Nya untuk kita.

“tak pernah aku menyesali yang kupunya”
==> intinya, syukur…

“tapi kusadari ada lubang dalam hati”
==> lubang di hati ini menurut saya artinya bahwa hati itu membutuhkan suatu tempat untuk bersandar… atau mungkin si hati ini sedang sakit… yang benar mana ya?

“ku menanti jawaban apa yang dikatakan oleh hati”
==> seperti dalam sebuah hadits ” bertanyalah pada hatimu. kebajikan adalah apa yg menjadikan tenang jiwa dan hati, dan dosa adalah apa yg menggelisahkan jiwa dan menimbulkan keraguan dalam hati, meskipun orang2 mengiyakanmu”(hadits hasan riwayat imam ahmad bin hambal)

“apakah itu Kamu, apakah itu dia
yang selama ini kucari tanpa henti”
==> upaya pencarian kebenaran…?

“apakah itu cinta apakah itu cita
yang mampu melengkapi lubang di dalam hati”
==> idem lah kira2

“kumengira hanya dialah obatnya
tapi kusadari bukan itu yg kucari”
==> sempat tertipu oleh kebenaran semu…?

“kuteruskan perjalanan panjang yg begitu melelahkan
dan ku yakin Kau tak ingin aku berhenti”
==> /sabarlah saudaraku tuk menggapai cita, jalan yg kau tempuh sangat panjang, tak sekedar bongkah batu karang/ hanya karena 1 alasan, Allah.

wuah, ngasal dotkom. dikoreksi atau ditambahin dong…