catatan menteng

udah hampir jam 9 malam. jalanan kalimongso sepi. sayup-sayup terdengar tayangan bola. tadi anak-anak juga pada heboh ‘spanyol-spanyol’ gitu. ah, i don’t care.

–¤-¤–
setelah beberapa kali berunding, akhirnya diputuskan hari ini akan dilaksanakan ‘pemotretan’ buat buku angkatan. Sekitar 14.30 sampailah rombongan kami sekelas di taman menteng, setelah sebelumnya nyasar di lapangan banteng. ah, taman. saya tidak terlalu tertarik. sampai menjelang maghrib sesi pemotretan baru selesai.

selepas shalat, kami bergegas pulang. pasti macet, batin saya. daripada waktu perjalanan sia-sia, mending dimanfaatkan buat tidur…. tepat ketika saya terbangun, waktu menunjukkan jam 20.22. waw, belum nyampe juga. anak-anak rame banget. ternyata dari tadi mereka nyanyi-nyanyi bareng, mulai dari lagu baru yg saya tak banyak tahu, hingga lagu kawakan seperti tenda biru, noktah merah perkawinan, gambang suling, sewu kutho dsb. kok lagu-lagu djadoel malah saya tahu yak @.@ …
Djaman doeloe saya suka banget momen-momen kek gini, ketawa ketiwi bareng, nyanyi-nyanyi bareng. tapi sekarang, biasa aja, malah rada-rada tersenyum kecut. seperti kata d**n, sekedar cheer up, bukan tautan hati. tp saya menghargai mereka. saya emang tipe-tipe orang yang sangat toleran. saya tak melakukan, tapi juga tak mau melarang jika ada orang yang melakukan kek gitu.. nyanyi-nyanyi bareng atau semacamnya. padahal ada ulama yang begitu keras mengharamkan nyanyian. tetapi yang saya yakini sampai saat ini adalah nyanyian itu boleh, asal tidak mendekatkan kepada maksiyat dan/atau melenakan.

ngomong-ngomong soal nyanyian, diantara temen2 yg nyanyi2 tadi ada seorang temen yang mendalami ilmu tarekat (mirip2 tasawuf). di taman tadi saya sempat ngobrol2 dengannya sambil dia sedikit gerak-gerak sambil mendendangkan asma-asma Allah dan Rasulullah. saya tanya polos ” kamu berdzikir sambil berputar2 gitu?”
“iya. seperti yg dilakukan ahmad dani itu” jawabnya
“kek orang ga sadar gitu?”
“bahkan dalam shalatpun, yang ada hanya cinta”
“entahlah, otak saya tak menjangkaunya”

jadi inget apa yang disampaikan ustadz rasikh tentang bid’ah idhafiyah, bid’ah yang sebenarnya disyariatkan perbuatannya (yakni dzikrullah), tapi ditambahi (sambil menari berputar-putar). wallahu a’lam.

ah, udah malem, belum nyampe juga ke kampus. tiba-tiba membayangkan seandainya nanti ditempatkan di jakarta. jam segini mungkin baru nyampe kos/kontrakan… waktu shalat masih di perjalanan… hff, gimana ngaturnya yak…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s