tulus dan ikhlash

‘tulus’ dan ‘ikhlash’. suka sekali dengan dua kata ini. suka sekali.

saya lebih dulu mengenal tulus daripada ikhlash. tulus itu., entahlah, rasanya tak bisa menggambarkannya. kecintaan kepada saudara, kawan, ataupun makhluk lain akan menghadirkan sebuah ketulusan. ketulusan akan melahirkan sikap tidak mengizinkan jika suatu kesulitan, kesedihan, atau bahaya menimpa yang dicintai. semoga keselamatan, rahmat Allah, dan berkah senantiasa tercurah untuk kalian…

ikhlash… urusan hati yang amat sulit. murni. tak boleh terkotori. “sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, tuhan semesta alam” al-An’am 162.

batas antara ikhlash dan tidak begitu tipis. bahkan, tanpa hati yang jernih, kita tidak akan menyadari bahwa niat telah terkotori. saya pun begitu takut jika ternyata dalam menulis ini ada kotoran yang membonceng… biar terlihat keren, biar dikomentari orang, atau untuk mencitrakan diri gimanaa gitu. argh…

popularitas.. siapa yang tak menginginkannya? label ‘aktivis’, wow keren sekali…
tapi, tegakah saya melihat Allah cemburu? sanggupkah saya menerima konsekuensi kecemburuanNya?

ikhlash… tidak akan enggan atau merasa terendahkan ketika melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil dan sederhana..

ikhlash… tidak akan enggan melakukan banyak pekerjaan walaupun namanya tak akan dikenal banyak orang..

ikhlash… senang jika kebaikan terealisasi di tangan saudaranya sebagaimana terlaksana di tangannya…

Mengalahkan Udzur

“dengan cacat pincangku ini, aku bertekad merebut surga”

ia Amr bin Jamuh, ipar Abdullah bin Amr bin Haram. Amr bin Jamuh ini adalah salah satu tokoh di Madinah. Telah menjadi kebiasaan bangsawan madinah menyediakan duplikat berhala di rumahnya, tak terkecuali Amr ini, dan diberi nama Manaf.

Suatu ketika putranya, Muadz bin Amr yang telah mendahuluinya masuk Islam bersama sahabatnya Muadz bin Jabal sepakat menjadikan manaf sebagai permainan. Malam hari mereka menyelinap dan membuang manaf ke tempat pembuangan hajat. Paginya, Amr marah bukan main mengetahui hal tsb. Sambil mengumpat, ia membersihkan manaf dan memberi wewangian. Kejadian ini berlanjut sampai malam2 berikutnya. Akhirnya Muadz bosan dan menaruh pedang di leher manaf sambil berkata “jika kamu betul2 memberi kebaikan, berusahalah mempertahankan dirimu”

Esoknya Amr menemukan manaf di tempat pembuangan hajat dalam kondisi diikat dengan bangkai anjing. Kemudian datanglah bangsawan muslim dan mengajaknya berdialog dan menjelaskan tentang islam.

Maka Amr menemukan dirinya. Ia membersihkan badannya dan berbaiat kepada Rasul.

Setelah menjadi seorang muslim, ia begitu dermawan. Bukan cuma harta, tapi juga jiwa raga.

Ketika panggilan berjihad di perang badar tiba, ia berketetapan hati untuk ikut berperang. Mengingat kakinya yg pincang, keempat putranya -yang juga berangkat perang- memohon ke Rasulullah untuk membatalkan maksud ayahnya. Rasul lalu menyampaikan kepada Amr bahwa ia dibebaskan dari kewajiban perang. Amr bersikeras. Akhirnya Rasul mengeluarkan perintah agar ia tetap tinggal di madinah.

kemudian datang perang uhud, amr memohon, ” ya Rasulullah, putra2ku menghalangiku bertempur. demi Allah, aku amat berharap dengan kepincanganku ini aku dapat merebut surga”
akhirnya Rasul mengizinkannya.Dan akhirnya ia mendapat apa yang diimpikannya, mati syahid.

–¤-¤–
#teringat kegirangan saya pada peristiwa maghrib di masjid kampus beberapa saat lalu. saya kira iphaa juga masih mengingatnya. jauh beda memang#

bahagia

senang rasanya punya banyak kawan. ngomong2, berapa ya rata2 jumlah kawan kita. ehm, tapi kriteria ‘kawan’ ini masih terlalu abstrak. Temen karib, temen main, temen kenal, temen tahu??? ada yang mau mencoba nge-list? Kalau udah, kasih tahu saya ya jumlahnya berapa. *penasaran*

===> Ah, bahagia. Banyak alasan yang membuat orang bahagia.. keluarga yang bahagia, anak-anak yang lucu, sahabat yang pengertian, tubuh yang sehat, harta yang cukup… IP bagus, menang lomba, ditraktir temen… semua bikin orang bahagia. Namun demikian, sejatinya bahagia tak mutlak membutuhkan itu. Menukil QN seseorang ‘haruskah bahagia diberi nama… ?’. tidak, karena toh, Allah, adalah alasan yang cukup untuk bahagia. Dalam dan sulit.

*menarik nafas panjang, alhamdulillah.

memiliki kehilangan 1

rasa kehilangan hanya akan ada.. jika kau telah merasa memilikinya..

–¤-¤–
boleh percaya boleh tidak. sumpah, saya kangen akuntansi. padahal dulu alergi setengah mati dengan buku-buku warren reeve, stice skousen, sama beams. Hua.. apalagi yang intermediate, bikin saya hampir gila saat ujian. Sampe bertanya-tanya, kok ada sih orang kek skousen. dan sempat mengandai-andai… seandainya skousen ga bikin buku seberat hampir 2 kg itu, pasti ga akan ‘menyusahkan’ saya kek gini… Wwlwrr.

sekarang, udah ga dapet lagi matkul akuntansi…

S.a.y.a.c.i.n.t.a.a.k.u.n.t.a.n.s.i.
(nada seperti ‘sayandakpunyaapaapa’)

kemarin, hari ini, dan esok

saya pernah berada di seberang sana…

menisbatkan diri kepada hal-hal berbau sosialis..

mengorek-ngorek sejarah tentang PKI… dan saya menemukan fakta bahwa golongan ini hanya korban kehausan mbah harto. saya makin penasaran…

membaca-baca buku tentang marxisme…
tentang filsafat kebudayaan..
teori-teori post-modernisme..

hasilnya?
saya ga paham sama sekali.

tapi saya masih keukeuh dengan sosialis…

kekaguman saya pada seniman dan budayawan…

mudah trenyuhnya saya dengan fenomena-fenomena sosial masyarakat…

terpikatnya saya dengan kehidupan jalanan…

tak pedulinya saya apakah seseorang muslim atau bukan…

saya ambil posisi aman, moderat.

ah… sebuah keangkuhan yang diatasnamakan pengukuhan jati diri

kesombongan yang akhirnya menghalangi hati dari kebenaran.

kini, saya disini

bukan di sana lagi.

mengatakan t.i.d.a.k.s.u.k.a dengan perubahan yang dilakukan hizb tertentu…

hari ini saya berdiri di sini.

entah besok.

_¤_¤_

$$

standar penilaian

setiap orang, disadari atau tidak, pasti mempunyai suatu standar dalam menilai sesuatu, baik peristiwa atau perilaku orang lain. saya juga. saya bisa ill-feel kepada orang hanya karena satu alasan tertentu, yang kadang alasan ini tidak rasional dan bukan suatu hal yang dikategorikan buruk secara umum. seperti QN saya suatu ketika, ‘orang baik, maaf saya tak menyukai anda..’. yah.. susah dijelaskan.

sementara orang lain juga punya standar penilaian yang berbeda. ada yang cepet ill-feel kalau lihat akhwat cengengesan.. ada yang cepet ill-feel kalo ada akhwat yang ngomong ceplas-ceplos dsb… ya sudahlah…

¤_¤

bosen lihat tivi… kalo bukan bola ya luna maya… lihat koran juga, penuh iklan bakriel*nd.

$ = lambang dolar.. sbg tanda tulisan saya geje, ga penting, dan sedikit curhat.

the pianist

the pianist…
film ini digarap oleh sutradara yahudi, polans romanski. didalamnya dipaparkan mengenai holocaust yang dilakukan nazi jerman pada tahun 40-an. digambarkan pada waktu itu yahudi benar2 diintimidasi… diusir dari kota dan disuruh menempati distrik yang normalnya tidak cukup menampung jumlah mereka… disuruh mengenakan tanda bintang david di lengan kanan… dilarang masuk ke tempat ini itu… di lempar dari gedung.. ditembak seenaknya… dipekerjakan paksa.. disiksa.. dilindas mobil… hingga mayat2 bergelimpangan di jalan… pokoknya diperlakukan seperti binatang (lebih kejam malah).

saya rada-rada muak liat film ini.. dasar sutradara! benar kata adik kelas saya ketika ia memutuskan ‘berkiprah’ di dunia pers kampus, bahwa dengan media kita bisa menguasai dunia.

maaf ya, bukan mereview film.

FYI. si sutradara film ini pada tahun 1977 ditangkap pemerintah swiss karena ketahuan berhubungan seks dengan anak berusia 13 tahun.
silakan mengambil kesimpulan sendiri.

omong-omong, katanya di tugu jogja ada simbol yahudi juga ya? heran…

konsekuensi penghambaan

Yusuf Qardhawi : prinsip kedua tentang hukum halal dan haram adalah penghalalan dan pengharaman hanyalah wewenang Allah. Manusia tidak berhak membantah atau melanggar. Itu adalah hak rububiyah Allah sekaligus konsekuensi penghambaan kepada-Nya. Meskipun demikian, sebagai wujud dari rahmat-Nya, maka dijadikan halal dan haram itu karena alasan yang masuk akal, jelas, dan kuat demi kemaslahatan manusia itu sendiri. artinya, yang dihalalkan Allah pasti baik dan yang diharamkan pasti buruk.

“apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah” QS Al- Hasyr 7

Dalam kaidah ushuul fiqh : pola ‘larangan’ (an-nahyu) itu menyebabkan (sesuatu hal) itu dihukumi sebagai hal yang haram. otomatis kaidah ini juga berlaku untuk pola ‘perintah’. dalam ayat diatas kata ‘terimalah’ berpola perintah, dan ‘tinggalkanlah’ berpola larangan.

( apakah kata ‘hendaknya’ itu juga termasuk pola ‘perintah’ yang artinya dihukumi wajib?)

Kalau memang suatu perkara itu dihukumi wajib atau suatu perkara itu dilarang, maka manusia memang harus melakukannya atau meninggalkannya tanpa reserve, meskipun tidak tahu manfaat dan mudharatnya. Dahulu, orang Islam hanya memahami alasan pengharaman babi karena kotor dan menjijikkan. Seiring perkembangan zaman, ilmu pengetahuan berhasil mengungkap bahwa dalam daging babi terdapat cacing pita. Nah, berubah dong alasan pengharamannya? karena perkembangan zaman lagi, bukan tidak mungkin daging ini bisa dibersihkan dari cacing. Nah, apakah serta merta babi jadi halal? enggak kan?

kesimpulannya, syariat diturunkan untuk menguji ketaatan hamba.. dan tidak selamanya hamba harus mengetahui manfaat atau mudharatnya.

referensi:
Yusuf Qardhawi, Halal dan Haram dalam Islam
Mochamad Ilyas, Lc., MA. , Diktat ringkasan Ushul Fiqh

arkaanush shalah

Menurut 3 Imam (4, selain Hanifah), ‘rukun’ itu sama dengan ‘fardhu’, kecuali dalam ibadah haji.
Rukun-rukun shalat:
1. Niat
(menurut Hanifah, niat bukan merupakan rukun, tetapi penyempurna).
-Niat yang tidak dilakukan bersamaan dengan perbuatan hanya pada ibadah puasa.
-Menzhahirkan niat dilakukan untuk memperkhusyu’ saja.
menurut syafi’i, lebih baik dilafadzkan.
-Kalau yang dilafadzkan tidak sesuai dengan di hati, yang diperhitungkan adalah hati. (misal karena kesalahan melafadz niat)
bahkan ketika akad nikah pun, jika meniatkan mahar untuk membayar utang, maka selamanya akan dianggap pezina (karena pernikahan tidak sah)

2. Takbiratul ihram
Artinya mengharamkan perbuatan yang tadinya boleh, dan yang menghalalkan lagi adalah salam.

3. Berdiri bagi yang mampu, pada shalat fardlu.
-shalat diatas kasur tidak sah, karena tidak mampu menyangga. (kalau beralas yang empuk? untuk pejabat?!!! -,-“)

4. Membaca surah al-fatihah
Menurut Hanifah bukan rukun, analog dengan ‘niat’.
Jika shalat berjamaah : menurut Syafi’i, makmum mutlak wajib membaca al-fatihah.
Menurut Maliki, ketika bacaan sirr >> makmum wajib membaca al-fatihah, ketika jahr >> tidak wajib

5. ruku’
Cukup ketika menundukkan punggung. Posisi terbaik menurut hadits adalah tangan ruku’; arah pandangan mata ke kaki berpijak; jka diletakkan papan dipunggung, rata (tidak miring).

6. i’tidal
Seluruh persendian tidak pada posisi bengkok.

7. Sujud
-Saat dimana paling disukai Allah. filosofinya : meletakkan anggota tubuh paling baik (kepala) di tempat yang rendah —>>> menghinakan diri di hadapan Allah.
Haram bersujud kepada selain Allah —>>> haram menghinakan diri kepada selain Allah
-Bagi wanita, telapak tangan tidak boleh terhalang mukena.
-Pada sujud terakhir disunahkan berdo’a

8. Duduk iftirasy diantara 2 sujud

9. Duduk tasyahud akhir
Posisi tawaruk. kalau berdesak-desakan disunahkan posisi iftirasy.

10. Tasyahud akhir

11. Shalawat atas nabi

12. Salam yang pertama

13. Tertib

Tambahan:
a. Tiga arah pandangan :
-ke kaki berpijak : waktu ruku’
-ke jari menunjuk : waktu … jari menunjuk
-ke tempat sujud : selain 2 diatas
-ke arah pandang lain : sah tapi makruh

Shalat boleh tidak menghadap kiblat (mendapat rukhshah) pada keadaan:
shalat sidratul khauf (keadaan sangat takut)
shalat sunnah dalam perjalanan diperbolehkan (perjalanan wajib, sunnah, mubah)
(perjalanan wajib : perjalanan ketika mau melaksanaka haji
perjalanan sunnah : berkunjung ke makam Rasul, dsb
perjalanan mubah : untuk berniaga dsb
perjalanan makruh : perjalanan istri yang tidak diizinkan suaminya
perjalanan haram : untuk kemaksiyatan)

Kalau sambil jalan kaki, pada 4 keadaan harus menghadap kiblat yaitu takbir, ruku’, sujud, duduk
Kalau naik kendaraan, mengarah kemana kendaraan mengarah. (hati-hati kalau naik kereta sering menghadap ke belakang)

b. 7 anggota sujud : 2 lutut, 2 telapak tangan, 2 pasang ujung jari kaki, kening. (Ahmad >> ditambah hidung)

c. Menurut imam syafi’i, menggerakkan jari telunjuk itu makruh, karena menghilangkan kekhusyu’an orang di sebelahnya. tetapi ada 13 hadits mengenai ‘menggerakkan jari’ ini.

d. Syuthrah, meningkatkan kekhusyu’an, hukumnya sunnah.
diletakkan di depan kita shalat……….. sebagai batas orang boleh lewat. sajadah termasuk syuthrah?

Fiqhus Shalat
disampaikan Ust Saman
pertengahan tahun 2008

#ngumpulin catatan-catatan ma’had yang tercecer yang hampir sudah tak berbentuk#

sumpah pocong = mubahalah ?

Tak sengaja lewat depan rumahmu… eh, lewat depan teve ding, sekilas terdengar bahwa Ariel dan Luna Maya diminta oleh xxx (lupa) untuk melakukan sumpah pocong untuk membuktikan bahwa mereka tidak bersalah (perasaan hukum di Indonesia tidak mengenal pembuktian tidak bersalah deh_apa sih istilahnya, lupa). Kasusnya gak perlu saya ulang di sini. Sumpah pocong dilakukan dengan memocongi orang yang bersumpah (tapi tidak persis seperti ketika mengkafani jenazah), kemudian orang tsb diminta bersumpah tentang sesuatu. Jika ia berbohong, maka ia akan mendapat laknat dari Allah, katanya.

Di kalangan masyarakat, banyak yang menganggap sumpah ini adalah ajaran Islam, padahal tidak. ini hanyalah tradisi yang kemudian dikait-kaitkan dengan konsep mubahalah dalam Islam.

Diriwayatkan ketika Rasulullah mengajak seorang uskup Najran dan pendeta Nasrani untuk masuk Islam, tapi mereka mengatakan, “ kami sudah lebih dahulu muslim daripada kamu”
Jawab Rasul, “ kalian bohong. Tiga hal yang menghalangi kalian dari Islam, yakni perkataan kalian ‘Allah mengambil anak’, sujud kalian kepada salib, dan makanan kalian adalah babi”
Mereka berkata, “siapakah ayahnya Isa?!”
Lalu turunlah ayat dibawah ini.

sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya,” jadilah!” seorang manusia, maka jadilah. (Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu. Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya), “marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian mari kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang berdusta” (QS Ali-Imran 59-61)

Kemudian Rasul mengajak mereka bermubahalah. Sebagian mereka mengatakan kepada sebagian yang lain, “jika kalian melakukan maka bukit ini akan menjadi perapian yang membakar kalian. Maka sesungguhnya Muhammad adalah nabi yang diutus, dan sesungguhnya kalian telah tahu bahwa ia datang kepada kalian dengan sesuatu yang dirinci tentang Isa”
Kemudian bertanya kepada Rasul,” apa yang kamu tawarkan kepada kami selain (bermubahalah)?”
Jawab Rasul, “ masuk Islam, jizyah, atau perang”. Maka mereka memilih membayar jizyah dan kembali ke negeri mereka. (Al Mausuah Al Fiqhiyah juz II hal 13128-13129).

Sebagaimana kisah diatas dapat diketahui mubahalah dilakukan oleh dua orang yang berselisih yang masing-masing berdoa kepada Allah dengan sungguh-sungguh agar Allah menjatuhkan laknat kepada pihak yang zhalim atau dusta. Tetapi tidak seharusnya seorang muslim segera menerima tantangan mubahalah dari sesama saudaranya yang muslim. Bahkan Rasulullah hanya melakukan sekali dalam hidupnya. Artinya mubahalah bukanlah perkara yang bisa dianggap mudah. Dan alangkah baiknya jika dua pihak yang berselisih ini menyelesaikan perkara mereka dengan cara lain yang lebih baik. Sebagaimana yang diriwayatkan Muslim dari Abu Hurairah, “ janganlah kalian saling hasad, saling bersaing dalam penawaran barang, saling membenci, membelakangi, dan janganlah sebagian dari kalian menjual diatas penjualan sebagian lainnya dan jadilah kalian hamba-hamba yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak menzhaliminya, tidak merendahkannya, tidak menghinakannya. Dan sesungguhnya takwa itu disini (beliau mengisyaratkan pada dadanya sebanyak 3 kali)”.

*dari berbagai sumber