Gambaran Futur

Futur secara bahasa adalah diam setelah giat, lemah setelah semangat. sedangkan secara istilah, ia merupakan sebuah kendala yang menimpa para aktivis da’wah. Efek terburuknya berupa ‘inqitha (terputusnya aktivitas) setelah istimrar dilaksanakan. Efek minimalnya adalah timbulnya sikap acuh, berkembangnya rasa malas, berlambat-lambat dan santai, dimana sikap tsb datang setelah sikap giat bergerak. Futur bisa pula terbukti lewat kelemahan seorang da’i dalam upayanya mengejawantahkan karakteristik juru da’wah itu sendiri. Hal ini diantara yang akan meminimkan angka produktivitas da’wah, sejurus dengan perilaku da’i yang menjalani tugas hanya pada bentuk aktivitas yang ia sukai saja, dan enggan melaksanakan aktivitas yang tidak sejalan dengan hawa nafsunya.
Yang harus kita perhatikan lagi adalah apakah futur yang dimaksud adalah dalam segi kualitas atau kuantitas? atau dua-duanya?
Gambaran pertama :
Menyebarnya skema prioritas nisbi di kalangan masyarakat yang berlawanan dengan hukum2 syari’at dalam merinci aktivitas keagamaan. Maka, sering kita mendapati seorang muslim yang berusaha memelihara diri dari percikan kotoran najis tapi tidak memelihara diri dari kotoran ghibah, banyak bersedekah tapi tidak peduli mempraktekkan transaksi ribawi, rajin bertahajud tapi sering menunda waktu shalat wajib. Mereka seperti saudara2 Yusuf, tatkala memasuki kota Mesir dan mengikat mulut2 untanya agar tidak memakan makanan yang bukan hak mereka, namun mereka menyambar makanan yang bukan milik mereka.
Gambaran kedua:
Memfokuskan perhatian pada forum perdebatan akal dalam memerangi syubhat yang dihembuskan para atheis dan sekularis. Kehebatan intelektual tanpa didukung oleh suatu gerak, bak pedang di tangan orang yang tidak suka berperang, namun selalu mengumandangkan problema kebodohan kaum muslimin dan kelemahan para ulamanya.
Gambaran ketiga:
Berlebihan dalam melakukan sesuatu yang mubah. Ibnu al-Qayyim ketika bertanya kepada gurunya Ibnu Taimiyah, maka jawab beliau, ” perkara mubah tidak dilakukan oleh orang2 yg berdedikasi tinggi”
Gambaran keempat:
Terpuruk dalam penguasaan syetan dengan keragu2an bahwa ia belum layak untuk terjun dalam amal Islami.
Gambaran kelima:
Membatunya hati menjadi tidak bergeming oleh janji dan ancaman dalam ayat2 al-Quran.
Gambaran keenam:
Segan untuk melaksanakan perbuatan baik dan ibadah. Padahal orang yang berjiwa giat akan mampu mengecap manisnya shalat, seperti perkataan Rasulullah ,” ya Bilal, arihna bish shalah”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s