isyhadu bi ana muslimun…?

“Muslim(ah) apa kamu ini??”

ingin rasanya melempar sandal orang yang mengatakan itu sambil menjawab ,”muslim beneran lah, masa jadi2an”
tapi buat apa? toh apa yang dikatakannya benar…
kalo saya berislam secara kaafah, harusnya tak perlu mencari2 celah keringanan dalam mengamalkan syariat2-Nya..
kalo saya berislam secara sungguh2, tak seharusnya saya masih enggan mengagungkan syiar2-Nya…
kalo saya berislam secara total, harusnya saya tak ragu menunjukkan identitas kemusliman saya dimanapun berada dan dengan siapapun bergaul..

tapi nyatanya, selama ini… masih saja mencari celah2 keringanan, rasionalisasi, pembenaran2 hanya karena kesombongan…

contoh sederhana, seingat saya, jujur, saya belum pernah menggunakan kata ‘ana’, ‘ane’ dsb sebagai kata ganti…
juga masih sering membela diri, “ah, kalau bisa dipermudah, ngapain dipersulit… ah, itu kan masalah perbedaan pendapat aja.. ah, ah, ah, “

katanya bangga jadi muslim, mana?

Advertisements

Belajar, te!

Hampir tiga tahun, hampir 3x bumi berorbit memutari matahari, hampir 3 x 365 x 24 x 60 x 60 detik menjalani kehidupan di kampus ini.. kampus prodeo. Cepat sekali waktu berlalu. Hmm, omong2 soal kampus dan segala warna warninya, sebelum ini memang saya cukup sombong untuk mengakui bahwa banyak yang saya dapatkan selama hampir 3 tahun tersebut, selama membersamai saudari2 tercinta… Selama ini saya juga cukup sombong untuk mengakui bahwa tarbiyah telah banyak mengubah saya… walaupun memang hasilnya masih begitu mentah.. tapi kini saya mengakui perubahan itu.
Dan semoga ia akan terus berlanjut, insyaAllah.. sampai nanti, sampai mati… kek lagunya Letto..

mmm.. ingat sesuatu. Tiba2 saya malu pada kisah ashabul ukhdud, kisah tentang pemuda yang ‘bunuh diri’ dengan cara yang cantik. Di detik2 sebelum meninggalpun dia tidak mau menyia2kan kesempatan mengajak orang kepada keimanan… Sementara di sekitar saya, peluang berda’wah itu begitu banyak. Kenapa banyak pula yang tersia2kan?
hffh…

Kok muter2 gini. Jadi, apa tujuan hidupmu, te?

Gambaran Futur

Futur secara bahasa adalah diam setelah giat, lemah setelah semangat. sedangkan secara istilah, ia merupakan sebuah kendala yang menimpa para aktivis da’wah. Efek terburuknya berupa ‘inqitha (terputusnya aktivitas) setelah istimrar dilaksanakan. Efek minimalnya adalah timbulnya sikap acuh, berkembangnya rasa malas, berlambat-lambat dan santai, dimana sikap tsb datang setelah sikap giat bergerak. Futur bisa pula terbukti lewat kelemahan seorang da’i dalam upayanya mengejawantahkan karakteristik juru da’wah itu sendiri. Hal ini diantara yang akan meminimkan angka produktivitas da’wah, sejurus dengan perilaku da’i yang menjalani tugas hanya pada bentuk aktivitas yang ia sukai saja, dan enggan melaksanakan aktivitas yang tidak sejalan dengan hawa nafsunya.
Yang harus kita perhatikan lagi adalah apakah futur yang dimaksud adalah dalam segi kualitas atau kuantitas? atau dua-duanya?
Gambaran pertama :
Menyebarnya skema prioritas nisbi di kalangan masyarakat yang berlawanan dengan hukum2 syari’at dalam merinci aktivitas keagamaan. Maka, sering kita mendapati seorang muslim yang berusaha memelihara diri dari percikan kotoran najis tapi tidak memelihara diri dari kotoran ghibah, banyak bersedekah tapi tidak peduli mempraktekkan transaksi ribawi, rajin bertahajud tapi sering menunda waktu shalat wajib. Mereka seperti saudara2 Yusuf, tatkala memasuki kota Mesir dan mengikat mulut2 untanya agar tidak memakan makanan yang bukan hak mereka, namun mereka menyambar makanan yang bukan milik mereka.
Gambaran kedua:
Memfokuskan perhatian pada forum perdebatan akal dalam memerangi syubhat yang dihembuskan para atheis dan sekularis. Kehebatan intelektual tanpa didukung oleh suatu gerak, bak pedang di tangan orang yang tidak suka berperang, namun selalu mengumandangkan problema kebodohan kaum muslimin dan kelemahan para ulamanya.
Gambaran ketiga:
Berlebihan dalam melakukan sesuatu yang mubah. Ibnu al-Qayyim ketika bertanya kepada gurunya Ibnu Taimiyah, maka jawab beliau, ” perkara mubah tidak dilakukan oleh orang2 yg berdedikasi tinggi”
Gambaran keempat:
Terpuruk dalam penguasaan syetan dengan keragu2an bahwa ia belum layak untuk terjun dalam amal Islami.
Gambaran kelima:
Membatunya hati menjadi tidak bergeming oleh janji dan ancaman dalam ayat2 al-Quran.
Gambaran keenam:
Segan untuk melaksanakan perbuatan baik dan ibadah. Padahal orang yang berjiwa giat akan mampu mengecap manisnya shalat, seperti perkataan Rasulullah ,” ya Bilal, arihna bish shalah”

tidur pagi?

ini bukan tentang mbah Gesang yang sudah tidak gesang lagi, tapi tentang tidur di pagi hari. Kemarin entah karena apa tiba2 seorang bapak2 bilang, “saya mah ga pernah yg namanya tidur abis shubuh”..
nge~ek.. malu..
jadi inget KCB, ibunya azzam ga mau nerima seseorang jadi menantu hanya karena ketauan pernah tidur abis shubuh.. @-@

dulu, biasanya saya selalu menyiasati abis shubuh dengan pekerjaan yang menguras tenaga, nyuci atau nyetrika.. belakangan jadi males. gara2, mungkin, sekarang waktu luang lebih banyak, malesnya nambah deh.. jadi saya menyiasati dengan makan dan nonton berita. tapi ternyata, setidaknya 5 menit, ketiduran juga di depan tipi… @.@
ternyata inilah yg bikin nyawa saya hilang selama berhari2… ditambah serangan tidur tiba2 setiap saat. sampe nyari2 di gugel adakah hubungan salmonella dengan serangan tidur tiba2 tanpa disertai kantuk. hasilnya.. ga ada korelasinya. dasar ute, yg males diri sendiri pake mengkambinghitamkan bakteri -_-“

pengen deh sesekali ngerasain kek tetangga sebelah, insomnia. tapi sesekali aja…

Tidur telah mengambil nyawa saya.. ah, pantesan hati ini jadi keras… 😦

catatan senin

Sejak dulu saya ga suka belajar kelompok ataupun ngerjain tugas kelompok. rasa2nya banyak nganggurnya, banyak yg nganggur..
kadang, ngerjain sendiri jauh lebih menyenangkan… semenyenangkan menyendiri di suatu tempat, sepi… belakangan sy jadi menyukai ketenangan… tiap kali denger suara gaduh, saya memilih menghindar..
saya juga benci liat orang berdebat.. keknya topeng sanguin saya udah lepas beneran, digantikan si phlegma yg damai…

Ayo te, kerjain tugas kelompoknya!

Ceriakan Wajah

Suatu ketika, Abu Yazid al-Busthami seorang pelopor sufi, pernah didatangi seorang lelaki dengan wajah yang kusam dan keningnya selalu berkerut. Lelaki ini mengadu, “Tuan Guru, saya rasa sepanjang hidup saya tak lepas dari beribadah kepada Allah. Orang lain sudah lelap, saya bermunajat. Istri saya belum bangun, saya sudah mengaji. Saya juga bukan pemalas yang enggan mencari rizki. Tetapi mengapa kehidupan saya selalu penuh dengan kesulitan?”

“Perbaiki penampilanmu dan ubahlah roman mukamu. Rasulullah adalah penduduk dunia yang miskin, tapi wajah beliau tak pernah keruh dan selalu ceria. Sebab kata Rasulullah, salah satu penghuni neraka adalah orang yang bermuka masam yang menyebabkan orang menaruh curiga padanya”

“Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan”

catatan Selasa 4 Mei

Adzan zhuhur berkumandang, mengajak langkah kaki berhenti tepat di depan sebuah mushola kecil.Apa nama tempat ini, saya tak tahu. Mushola kecil, hijau (belakangan jadi menyukai warna ini), bersih, wangi… sungguh menyenangkan seandainya bisa berlama-lama di sini.
Seorang kakek sedang menekuri sujudnya, shalat rawatib. Kiranya benar, memang suara beliau yang barusan memanggil-manggil para hamba untuk segera menemui Rabbnya, terdengar parau karena usia.
Beberapa menit kemudian, datang seorang kakek lagi. Setelah selesai dua rakaat sunnahnya, datang 3 orang lagi nenek-nenek, dan seorang kakek. Jadi jumlahnya di mushola itu tujuh orang, tiga kakek-kakek, tiga nenek-nenek, dan saya.
Ah, ternyata… sering sekali menjumpai kejadian seperti ini. Di kampung saya, di tempat kos saya waktu SMA, di sini, dan mungkin di banyak tempat lain juga. Kemana orang-orang muda? Apakah mereka merasa yakin masih diberi umur panjang… dan kemudian ‘merencanakan’ untuk bertaubat nanti, kalau sudah tua???

*masih menunggu Pak Sampang untuk wawancara, yang konon katanya beliau adalah Pengurus Barang tahun 2009, sekarang di mutasi ke Kecamatan Jambon.
12.29 @ DPU

Catatan Sabtu 1 Mei

Tanah Abang, dalam bahasa Jawa jadi Siti Jenar, penuh sesak. Antrian di depan loket kereta Tanah Abang-Kediri hampir membentuk huruf S. Hampir semua orang yang ngantri ngomel-ngomel. Pasalnya hampir 1 jam mereka berdiri. Selidik punya selidik, ternyata komputer yang yang digunakan untuk melayani penjualan tiket mendadak rusak.
makanya gak usah pake komputer, manual aja lebih cepet...” maki seorang pengantri.
Ah, Bapak… bagaimana bisa berkoordinasi dengan cepat dengan stasiun lain, tempat duduk mana aja yang udah diisi, yang kosong dsb…. kalau alat koordinasinya mati.

Teriakan bapak-bapak ini tak pelak membuat seorang petugas dibalik kaca loket marah. Ia menimpali, tak kalah kasar, ” bapak pikir ini keinginan kami? Bapak capek, kami tak kalah capek… bla.. bla…”
Perang mulut terus berlanjut, malah hampir diakhiri dengan adu fisik. Untung ditenangkan Bapak Keamanan (entah namanya apa).
Mmmm…

Pikiran ini kemudian melayang kepada acara-acara di Kampus. Masih level mahasiswa, yang notabene berpendidikan. Logikanya mereka lebih mudah diberi pengertian ketika mendadak ada masalah pada acara yang mereka ikuti. Walaupun demikian, minimal pasti akan ada kepanikan yang melanda panitia (khususnya bidang Acara). Ya tergantung kesiapan panitia sih, diperlukan Plan A, B, bahkan sampai Z. Dan juga tergantung karakter panitia. Kok karakter? Iya. Sebabnya, tidak semua orang bisa berfikir dingin ketika tiba-tiba dihadapkan dengan masalah.
Ya, yang selama ini kita hadapi masih di level kampus. Sedangkan dunia luar sana… belum terbayangkan. Ah, memang benar, sungguh disayangkan ketika kesempatan untuk mendapatkan pelajaran ‘lebih’ di kampus disia-siakan.