Poligami

Selama ini, sebagai muslimah, kita merasa begitu takut membicarakan poligami (ta’adud). tepatnya enggan. Bukan karena tak menyukai hukum Allah, tapi karena merasa tak siap menerima ketentuan Allah tersebut terjadi pada kita. Menyebabkan kita cenderung menghindari pembahasan itu.

Nampaknya poligami itu begitu ‘kejam’, terutama di mata perempuan. Seperti layaknya qishas, hudud, dsb juga nampak kejam. Tapi bukankah semua ketentuan-Nya adalah baik? Apakah kita bisa mengaku mencintai Allah kalo belum bisa menerima semua ketentuan-Nya tanpa reserve?

Dan satu lagi, ini yang pernah dibicarakan seorang saudari kepada saya. Selama ini, kalaupun kita membayangkan poligami, kita selalu menempatkan diri sebagai istri pertama, yang digambarkan sebagai pihak tersakiti. Kemudian membayangkan bahwa kita akan tersakiti dengan kehadiran orang lain dalam keluarga kita, dan menganggapnya sebagai pangkal ‘prahara’… Padahal tidak menutup kemungkinan bahwa kitalah yang akan menjadi yang ke-2, ke-3, bahkan ke-4 tersebut.

-ocehan ga jelas-
sabtu, 3 april 2010
00.44 a.m.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s