Catatan kamis pukul 11

jam 11, hari kamis, waktunya kuliah KSPK (Kapita Selekta Pengembangan Kepribadian). kata ketua kelas, kuliahnya hari ini 2 x pertemuan, berhubung pekan depan diliburkan. sengaja. kesempatan untuk mengambil data KTTA di daerah. tapi, omong2, anak2 pada ngambeg sama sekre karena buanyak surat survey belum keluar… (bahasanya kacau banget). Saya juga.. setahun terakhir saya amat cuek dengan hal2 akademis. tapi sekarang, jujur, saya begitu khawatir…

percuma libur kalo surat survey belum keluar. padahal pekan depan sudah dijadwalkan menghadap bu okta. temen2 satu bimbingan saya, awalnya 6 orang, sekarang tinggal 5 orang, termasuk saya. bu okta udah ga mau membimbing yang 1 lagi. ah, padahal kesalahannya sepele, menurut saya.

sementara sekarang, ke4 teman saya udah ambil data. sebagian surat survey udah dapet, sebagian ga perlu surat survey. Mereka SIA semua. Data di perusahaan swasta tidak mutlak membutuhkan surat survey. Saya akpem.. dicoba berkali2 tanpa surat survey, berkali2 pula tertolak…
hanya bisa menunggu dan berharap sekre akan lebih mengerti…

kembali ke KSPK. Omong2, saya tidak begitu tertarik dengan mata kuliah ini. karena saya tidak suka teori tentang kepribadian diajarkan secara formal didepan kelas seperti ini. kedua, karena dosen saya nonmuslim, entah mengapa.. seindah atau semuluk apapun yang beliau katakan, ga akan masuk ke otak, apalagi hati. mungkin otak dan hati saya udah menyiapkan kuda2 menolak benda2 asing masuk apalagi menyerang..

Sudahlah, geje banget tulisannya.. selamat belajar KSPK 6 sks.

Jutaan Rasa tak Terdefinisi

Ah, lagi-lagi menyampah di blog. Sampah organik semoga. Agar bumiku ini tak makin menangis. Omong-omong, selamat hari bumi..

Belakangan makin merasa takjub dengan hati. Betapa hebat pencipta-Nya. Sejenak ingat si Grenouille (bener ga nulisnya?) -nya Perfume. Ia bisa membedakan jutaan aroma yang tak mampu ternama.
Mungkin analog dengan rasa. Rasa yang muncul dari hati. Saking banyaknya, hingga tak semuanya terdefinisikan oleh kata.

Ternyata banyak sekali rasa yang diproduksi hati. bukan cuma senang, sedih, cemas, takut, cinta, harap, ingin, ragu… tapi masih banyak rasa lain. Rasa yang muncul dari potongan-potongan keseharian, fragmen-fragmen kehidupan…
Begitu luar biasa. Semua ditampung dalam segumpal darah dalam rongga dada manusia. Makin banyak rasa itu terindera, makin terasa diri ini kerdil, lemah, tak berdaya.. di hadapan Yang Besar, Yang Kuat, Yang Perkasa…

Subhanallah wal hamdulillah wa la ilaha illallah Allahu akbar…

Nama yang Baik, Buruk, dan Makruh

Kalo shakespeare mengatakan apalah arti sebuah nama, maka bagi saya beda. Nama yang kita sandang adalah harapan orangtua kita. Memberikan nama yang baik merupakan hak bagi anak.
“sesungguhnya kalian pada hari kiamat nanti akan dipanggil dengan nama-nama kalian dan nama-nama bapak kalian, maka perindahlah nama kalian” (HR Abu Dawud dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya dan perawi yang tsiqah)

Rasulullah selalu memil4 nama-nama baik untuk anak-anaknya. Bahkan umatnya diperbolehkan menamai anaknya dengan ‘Muhammad’, namun dilarang memberinya kunyah (julukan) seperti kunyah beliau, yakni Abul Qasim. Hanya Ali yang diperbolehkan untuk itu.

“sesungguhnya mereka dahulu menamai (anak-anak mereka) dengan nama-nama nabi dan orang sholeh ” (HR Muslim dari Mughirah)

Rasulullah juga selalu mengganti nama-nama yang buruk menjadi nama-nama yang baik. Misal ‘Ashiyah (pendurhaka) diganti Jamilah, Ashram (terpotong) diubah menjadi Zur’ah (tumbuh).

Nah, yang terakhir ini baru kemarin saya dengar. Yaitu tentang nama-nama yang makruh jika digunakan. Alasannya karena mengandung unsur-unsur (klaim) penyucian dan kebaikan diri.
“janganlah namai anak kamu dengan Yasar (kemudahan), Ribah (keberuntungan), Najih (berhasil), dan Aflah (berbahagia) “( HR muslim, semakna itu juga diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Abu Dawud).

ketika Amru bin Atha’ hendak menamai anak perempuannya dengan nama Barrah (sangat baik), ia ditegur Zainab binti Salmah yang pernah mendengar Rasulullah bersabda, “janganlah kalian menganggap dirimu suci, Allahlah yang lebih mengetahui siapakah diantara kalian yang menjadi ahli kebaikan”

“lalu harus kami beri nama apa?”
“namai saja Zainab”

#
Tri (tiga) Utami (utama) Nurul (cahaya) Hidayah (petunjuk)

#
maraji’: Cara Nabi Mendidik Anak, Ir. Muhammad ibnu Abdul Hafidh Suwaid

Poligami

Selama ini, sebagai muslimah, kita merasa begitu takut membicarakan poligami (ta’adud). tepatnya enggan. Bukan karena tak menyukai hukum Allah, tapi karena merasa tak siap menerima ketentuan Allah tersebut terjadi pada kita. Menyebabkan kita cenderung menghindari pembahasan itu.

Nampaknya poligami itu begitu ‘kejam’, terutama di mata perempuan. Seperti layaknya qishas, hudud, dsb juga nampak kejam. Tapi bukankah semua ketentuan-Nya adalah baik? Apakah kita bisa mengaku mencintai Allah kalo belum bisa menerima semua ketentuan-Nya tanpa reserve?

Dan satu lagi, ini yang pernah dibicarakan seorang saudari kepada saya. Selama ini, kalaupun kita membayangkan poligami, kita selalu menempatkan diri sebagai istri pertama, yang digambarkan sebagai pihak tersakiti. Kemudian membayangkan bahwa kita akan tersakiti dengan kehadiran orang lain dalam keluarga kita, dan menganggapnya sebagai pangkal ‘prahara’… Padahal tidak menutup kemungkinan bahwa kitalah yang akan menjadi yang ke-2, ke-3, bahkan ke-4 tersebut.

-ocehan ga jelas-
sabtu, 3 april 2010
00.44 a.m.