Selain ‘AKU’, Ada yang Lain

Mahasuci Allah atas apa yang Dia berikan dan atas apa yang tidak Dia berikan. Dia memberikan nikmat kepada yang dikehendaki dan tidak memberikan nikmat kepada yang dikehendaki. Dia berbuat terhadap apa yang dikehendaki-Nya…

Kalau kita menghitung-hitung pemberian Allah kepada kita, saya yakin kita tak akan mampu menyelesaikan hitungan itu. Ah mungkin ini klasik, tapi… kita semua, yang baca tulisan ini, adalah manusia, insaan –>nasiya yang artinya adalah lupa. Kita sering lupa akan nikmat yang kita terima. Yang teringat hanyalah apa-apa yang tidak kita terima, yang kita inginkan. Menginginkan sesuatu tentu boleh, tapi ketika memang sesuatu itu tidak dapat kita raih, ya sudah, Allah berkehendak lain. Dan atas apa yang tidak kita dapatkan itu pun tak akan mengurangi kesucian-Nya. Ia tetap Mahasuci.

Mahasuci Allah atas apa yang terjadi pada hidup kita. Kalau orang dulu bilang, seperti sebuah sandiwara. Tiap orang punya sandiwara sendiri-sendiri yang didalamnya ia berperan sebagai pelaku utamanya. Ya iyalah, mana mungkin saya jadi pemeran utama di sandiwara anda???

Di dalam sandiwara kita, ada orang lain juga yang berperan. Di sinilah waktunya kita belajar memahami ada saatnya hak individual kita berakhir dan hak individual mereka bermula… Bahkan dikatakan dalam haditsnya bahwa “Barangsiapa berjalan memenuhi keperluan saudaranya dan menyampaikan keinginannya, maka itu lebih besar (pahalanya) daripada iktikaf di masjid selama 10 tahun, sedangkan orang yang iktikaf satu hari untuk mencari keridhaan Allah, maka Allah akan jadikan penghalang antara ia dan neraka tiga parit yang jauhnya lebih dari dua ufuk Timur dan Barat”. ( HR.Al Baihaqi )

Mereka, orang-orang disekitar kita, diciptakan berbeda sepaket karakter dengan masalahnya masing-masing. Ada yang bermasalah dengan keluarga, harta, cinta, saudara dan a a a yang lain. Yang bermasalah dengan keluarga akan sensitif jika disinggung masalah keluarga, yang bermasalah dengan harta akan sensitif jika disinggung masalah harta, begitu juga seterusnya. Karena itu hati-hatilah menggunakan lisan kita. Bahkan menyampaikan sebuah kebenaran pun juga harus dilakukan dengan cara yang benar.

Bukankah setiap salam kita untuk mereka adalah jaminan keselamatan bagi mereka… minimal dari kezhaliman kita… termasuk jaminan keselamatan hati mereka dari kezhaliman lisan kita.

Kita hidup bersama-sama, mari jaga perasaan mereka. Jangankan dalam hidup, diujung kehidupan pun kita membutuhkan orang lain. Kalau kita sendiri, memangnya mau menguburkan jenazah sendiri….???

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s