Atas Nama ‘Kepentingan’

Sejenak teringat obrolan dengan kakak saya ketika nonton berita tentang pedagang ayam yang demonstrasi menolak PP tentang larangan membawa masuk ayam dagangan dalam keadaan hidup-hidup. Artinya ayam dagangan sudah harus dipotong sebelum masuk lokasi pasar. PP ini diterbitkan dalam rangka meminimalisir penyebaran virus H5N1.
Para pedagang merasa dirugikan dengan kebijakan ini. Karena terang saja akan menurunkan penjualan akibat pembeli menyukai ayam yang dipotong di tempat dengan alasan masih segar.

Pemerintah itu gimana sih. Kalau bikin peraturan pikir-pikir dulu dong (udah pasti sih)… ya minimal dikonsultasikan dengan pedagang apa dampaknya… resikonya.... ” saya ngomel-ngomel.

ya elah. Kek ga tau aja. PP itu kan udah ada yang ‘mesan‘” sahut kakak saya

what??? emang siapa yang akan diuntungkan dengan PP itu?”

ya…pasti ada. mungkin saja pedagang daging sapi...”

oh Tuhan….

Kemudian pikiran saya tertuju pada materi KTTA saya. Sebagian besar Laporan Keuangan Pemda mendapat opini disclaimer dari BPK. Penyebab paling utama adalah SDM di lingkungan Pemda yang kurang. Konon katanya mendagri tidak ingin orang Pemda pintar, makanya salah satu modul Akuntansi Pemerintah Daerah yang di upload di site tidak bisa diprint. Kenapa? karena di belakang mendagri banyak yang ngantri jadi konsultan….

Belum lagi mengenai diklat dan pelatihan untuk pegawai Pemda yang diadakan di Ibu kota. Ribet, katanya. Udah gitu, Pemda yang nanggung biayanya…. ga niat banget sih Pak ngasih pelatihannya.

tapi itu isu lama… adakah sekarang masih begitu adanya?

Kemudian pikiran melayang ke PP 14 tahun 2010, ya itu… tentang pembubaran PTK. Apakah dibalik penerbitan peraturan itu juga ada ‘kepentingan’ yang bermain?
Makin skeptis dengan kebijakan pemerintah..
Selalu ada kepentingan dibalik tindakan….
Termasuk dalam menulis ini ,saya juga punya kepentingan… karena itu jangan mudah percaya dengan apa yang saya katakan…..

Advertisements

Kejawen

Wali songo… siapa yang tak mengenalnya… peran mereka dalam penyebaran Islam di Indonesia sangat besar. Dengan metode pribumisasinya, Islam menjadi mudah diterima rakyat Indonesia. Walaupun memang Islam dan budaya akhirnya menjadi agak bias dikalangan rakyat awam. Ya itu resiko. Nah sekarang lah tugas kita untuk ‘membersihkannya’….

Hal yang paling signifikan yang kita dengar tentang dakwah mereka adalah tentang memasukkan unsur-unsur Islam dalam budaya. Misal wayang, sesajen, sampai istilah-istilahnya. Katakanlah sekaten dari kata syahadatain.

Ngobrol-ngobrol masalah ini, kemarin saya menemukan sebuah fakta baru (wushh..). Yaitu kata apem (kue itu lo), berasal dari kata ‘affuwun (semoga Allah mengampuni mereka). Sampai sekarang pun orang-orang di kampung saya kalau ngadain selametan (diniatkan shadaqah semoga), selalu membuat kue apem. Saya baru menangkap maksudnya… biar orang yang meninggal diampuni dosa-dosanya.

Kemudian satu lagi iwel-iwel (makanan dari tepung ketan kalau gak salah ^^v) itu berasal dari kata wa liwalidayya. Makanan ini dibuat setiap kali ada bayi lahir. Maksudnya biar si bayi menjadi anak yang berbakti kepada kedua orangtuanya.

Ow.. jadi gitu. Saya baru tahu. Bahkan Ibu saya pun juga baru tahu walaupun beliau dari dulu juga melakukan tradisi ini. Wah, memang pola fikir Ibu saya sederhana. Menerima apa yang diwariskan orangtua dan lakukan! Gak usah banyak nanya!!!

Tipikal perempuan Jawa, sepertinya saya juga…

(kabuur… sebelum ada perempuan jawa yang ga terima)

sedikit tentang PNS (walaupun belum jadi PNS)

Tahun ini kakak saya lolos tes CPNS. Salah satu persyaratan administrasi selanjutnya adalah SKCK.
Kakak (K) : “pak, saya mau bikin SKCK”
Petugas polisi (P) :”buat apa, mas?”
K :”persyaratan bagi yang lolos CPNS….”
P :”kemarin bayarnya berapa, mas?”
Gleggg!!!! Enak aja!!!

***

Tetangga saya kemarin syukuran besar-besaran. Anaknya baru diterima jadi PNS di POLRI. Ia bangga telah mengeluarkan 80 juta untuk itu. Orang-orangpun ikut bangga. Ibu-ibu pada membicarakan itu tanpa ada nada negative. Saya : ooo… (manthuk2 ga jelas). Mereka tidak tahu apa itu korupsi atau memang sudah terjadi pergeseran dari sesuatu yang tidak benar menjadi sesuatu yang bisa dibenarkan? Jadi ingat Etika Profesi. Salah satu diantara Rasionalisasi tindakan tidak etis adalah ‘ everybody does it’… mungkin bahasa yunaninya ‘membudaya’. (wah, gw bisa dimarahin pakar budaya nih kalo ketauan mengatakan korupsi itu budaya)

***

Siapa bilang PNS bukan pekerjaan prestise?
Nyatanya masih bejibun yang daftar USM STAN. Nyatanya sekarang penghasilan PNS Kemenkeu berapa. Berapa coba? Dan nyatanya, Bu Sri gak jadi dicopot (loh, gak nyambung)

Nyatanya sebuah Partai Dakwah Tertentu justru menggiatkan para kadernya untuk menjadi PNS walaupun Imam Syahid menyerukan kadernya untuk tidak menjadi pegawai negeri… ;D

Nyatanya…. masih banyak yang mau bayar puluhan hingga ratusan juta biar jadi PNS, terutama di daerah-daerah. Kalau cara masuknya saja sudah tidak benar, saya tidak bisa yakin mereka akan bekerja dengan benar pula. Itu dari segi kinerja, belum dari segi penghasilan. Kalau mengandalkan gaji ‘saja’, berapa tahun waktu yang diperlukan untuk mencapai break event point??? Ayo hitung!!!
Nyatanya….
nyatanya…
Nyatanya… kau menduakan ku...
jalan hidup kita berbeda… aku hanyalah punk rock jalanan….yang tak punya harta berlimpah…
(loh… ngaco)

mahasiswa?

Ada apa dengan mereka… para mahasiswa itu… kaum yang notabene intelektual… dan satu lagi, MUSLIM.

Kericuhan (saya tak mau menyebutnya aksi) itu dipicu oleh penyerangan di markas HMI di Makassar. Hal itu memancing mahasiswa menyerang balik polisi. Tak kalah, di daerah lain pun melakukan aksi serupa dengan menamakan itu AKSI SOLIDARITAS. hhuh, apa2an sih. di Pekanbaru, Ambon, Cianjur, bahkan di Cikini, Jakarta, dilakukan malem2. Benar2 melanggar aturan aksi…

Saudara2 mereka diinjak2 zionis saja, mereka adem ayem…
lhah ini?

APA SIH YANG MEREKA INGINKAN SEBENARNYA?

Selain ‘AKU’, Ada yang Lain

Mahasuci Allah atas apa yang Dia berikan dan atas apa yang tidak Dia berikan. Dia memberikan nikmat kepada yang dikehendaki dan tidak memberikan nikmat kepada yang dikehendaki. Dia berbuat terhadap apa yang dikehendaki-Nya…

Kalau kita menghitung-hitung pemberian Allah kepada kita, saya yakin kita tak akan mampu menyelesaikan hitungan itu. Ah mungkin ini klasik, tapi… kita semua, yang baca tulisan ini, adalah manusia, insaan –>nasiya yang artinya adalah lupa. Kita sering lupa akan nikmat yang kita terima. Yang teringat hanyalah apa-apa yang tidak kita terima, yang kita inginkan. Menginginkan sesuatu tentu boleh, tapi ketika memang sesuatu itu tidak dapat kita raih, ya sudah, Allah berkehendak lain. Dan atas apa yang tidak kita dapatkan itu pun tak akan mengurangi kesucian-Nya. Ia tetap Mahasuci.

Mahasuci Allah atas apa yang terjadi pada hidup kita. Kalau orang dulu bilang, seperti sebuah sandiwara. Tiap orang punya sandiwara sendiri-sendiri yang didalamnya ia berperan sebagai pelaku utamanya. Ya iyalah, mana mungkin saya jadi pemeran utama di sandiwara anda???

Di dalam sandiwara kita, ada orang lain juga yang berperan. Di sinilah waktunya kita belajar memahami ada saatnya hak individual kita berakhir dan hak individual mereka bermula… Bahkan dikatakan dalam haditsnya bahwa “Barangsiapa berjalan memenuhi keperluan saudaranya dan menyampaikan keinginannya, maka itu lebih besar (pahalanya) daripada iktikaf di masjid selama 10 tahun, sedangkan orang yang iktikaf satu hari untuk mencari keridhaan Allah, maka Allah akan jadikan penghalang antara ia dan neraka tiga parit yang jauhnya lebih dari dua ufuk Timur dan Barat”. ( HR.Al Baihaqi )

Mereka, orang-orang disekitar kita, diciptakan berbeda sepaket karakter dengan masalahnya masing-masing. Ada yang bermasalah dengan keluarga, harta, cinta, saudara dan a a a yang lain. Yang bermasalah dengan keluarga akan sensitif jika disinggung masalah keluarga, yang bermasalah dengan harta akan sensitif jika disinggung masalah harta, begitu juga seterusnya. Karena itu hati-hatilah menggunakan lisan kita. Bahkan menyampaikan sebuah kebenaran pun juga harus dilakukan dengan cara yang benar.

Bukankah setiap salam kita untuk mereka adalah jaminan keselamatan bagi mereka… minimal dari kezhaliman kita… termasuk jaminan keselamatan hati mereka dari kezhaliman lisan kita.

Kita hidup bersama-sama, mari jaga perasaan mereka. Jangankan dalam hidup, diujung kehidupan pun kita membutuhkan orang lain. Kalau kita sendiri, memangnya mau menguburkan jenazah sendiri….???

Gado-gado Bu Mitro

Seperti ujian2 sebelumnya, ujian kali ini juga membuat saya jadi orang rumahan (kostan). Aktivitas sebagai anak baik2 pun mulus dilakoni…
Hubungan dengan anak2 kos pun makin akrab… Yang biasanya jarang ketemu -semua sibuk dengan urusan masing-, jadi punya lebih banyak waktu bersama… becanda ngalor ngidul.. mulai bahas materi ujian.. sampai angkutan.

Jadi tak asing lagi dengan acara teve.. Ternyata walaupun udah 2,5 tahun hidup di pinggiran kota Jakarta, masih merasa orang2 di layar kotak itu makhluk asing.. jauuuhhh dari kehidupanku…

Orang2 itu hidup di dunia mana ya?

-ocehan gak jelas ketika mau belajar HAKN-

nb. jangan tanyakan korelasi judul dengan tulisan…!