Ketika Harta Bicara (novel)

Rofil (6 tahun) telah meninggal pada kamis (24/12) lalu. Ah, kematian tentu bukan hal yang sangat mengejutkan karena tiap hari ada ribuan bahkan jutaan orang meninggal di dunia ini. Lagipula siapa Rofil? Siapa pula yang peduli? Siapa yang peduli bahwa di pojok Bintaro, disebuah rumah yang hanya terbuat dari papan-papan yang disusun, yang tak jauh dari situ berdiri dengan angkuh bangunan-bangunan yang begitu kontras, tiga manusia sedang meratapi kepergian si kecil Rofil ????? saya sendiri ‘tak peduli’

Dan inilah salah satu produk kekolotan regulasi yang dibuat pelayan-pelayan masyarakat. Ketika harta dan kekuasaan yang berbicara, maka yang tak berdayalah yang dipaksa mendengarkannya.

Rofil meninggal bukan karena tidak ada usaha dari orangtuanya untuk membawanya berobat. Sudah dua rumah sakit didatangi, Dokter tak mendiagnosa penyakitnya, tapi menyarankan Rofil dibawa ke sebuah rumah sakit terkenal di Bandung. Tak perlu saya sebutkan namanya.

Kata Dokter, Rofil kemungkinan harus di operasi radang otak. Tapi alih-alih dioperasi, dirawatpun tak jadi karena harus membayar biaya di muka sebesar 10 juta. Ya, 10 juta. Kira-kira setara dengan satu tangkai spion mobil dinas pejabat.

Bagi orang yang bekerja dengan memungut sampah, tak mungkin bisa mendapatkan uang sebegitu banyak. Kalaupun bisa, harus pulang kampung dulu. Jual apa kek atau cari pinjaman saudara. Tapi Rumah sakit minta uang dibayar di muka.

Tak ada jalan lain selain membawa Rofil pulang dalam keadaan koma setelah sebelumnya pernah keluar darah dari mulut dan hidungnya. Dan di perjalanan pulang, Rofil meninggal. Meninggalkan luka yang mendalam pada keluarganya. Kiki (9 tahun), sang kakak, pingsan seketika.
“Ibu, bikin lagi yang seperti Rofil… mana katanya Rofil sembuh? Sampai sekarang gak bangun-bangun??” Ibu Rofil menirukan kepolosan kata-kata Kiki sambil beruraian airmata.
———————————————————————————————–
Cerita seperti ini pasti sudah sangat sering kita dengar. Tak apalah. Sekedar mengasah kembali kepekaan mata dan telinga kita akan apa yang menimpa saudara-saudara kita dan apa yang dilakukan pelayan-pelayannya.

Dan memang benar kata dosen Etika Profesi saya bahwa kualitas pelayanan publik di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Apalagi dibandingkan negara-negara lain seperti Jepang, India, dan Australia. Mbak Prita sepakat. Teman-teman tentu juga.

Kepada para pelayan dan calon pelayan masyarakat di sektor manapun, mari bersama-sama kita benahi diri dan regulasi dimana kita bekerja untuk Indonesia lebih baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s