Kesyukuran atas Titik Balik

Seorang perempuan telah melahirkan bayi perempuannya dengan selamat dan sehat. Perempuan itu adalah istri Umar bin Khattab yang terkenal. Tapi dia ketakutan. Takut akan nasib yang akan menimpa bayinya. Anak perempuan pada masa itu di kalangan kaumnya adalah aib. Anak perempuan yang lahir ke dunia pasti akan dikubur hidup-hidup oleh ayahnya. Diantara kalut pikirnya, terbersit sebuah pemikiran. Ya, anak ini akan selamat. Aku akan mendandaninya seperti laki-laki, sebelum Umar pulang, selamanya. Kebetulan Umar sedang pergi ketika bayi itu lahir. Akhirnya benar, anak itu didandani layaknya laki-laki. Kemudian diajari berkelahi dan memanah sehingga dia menjadi anak yang tangkas dan berani. Umar yang tidak mengetahui bahwa ia seorang perempuan merasa senang dan bangga.

Namun akhirnya rahasia ini terbongkar juga. Suatu ketika saat Umar mengajak anaknya ini pergi berburu, si anak ingin buang air. Kemudian Umar mengantarnya. Terperanjatlah Umar mengetahui bahwa anaknya adalah seorang perempuan. Betapa sedihnya Ia membayangkan kaumnya akan mengejek dan mencelanya.

Aku harus menguburnya, fikirnya. Di panas yang terik itu, Ia menggali lubang. Anaknya heran melihat kelakuan ayahnya, dan bertanya
“Abi yang gagah perkasa, Abi yang kucintai, untuk apa Abi menggali lubang itu?”
“tidak untuk apa-apa, kamu disitu saja”
“Abi yang gagah perkasa, Abi yang kucintai, untuk apa Abi menggali lubang itu?” tanya si anak sekali lagi.
Tapi si Abi terus saja menggali dan menggali dan mukanya pun jadi kotor terkena tanah. Anaknya datang kepada Umar dan menyekanya dengan penuh kasih sayang…. Tapi hal mengharukan ini pun tak menyentuh hati Umar. Terus saja ia menggali, lalu ia menyuruh anaknya masuk ke lubang tersebut. Si anak mungkin saja berfikir Abinya ini mengajaknya bemain-main. Menuruti perintah itu, si anak masuk ke lubang. Tapi apa yang terjadi? Si ayah perlahan mengembalikan tanah galian ke lubang galian. Si anak menjerit ketakutan tapi si Abi terus saja menutup lubang galian tersebut.

“Abi, sakit Abi…………”

Tak ada rasa iba. Tak ada rasa sedih mendengar teriakan anaknya. Ia terus menimbun lubang tersebut walau anaknya terus menjerit hingga tak terdengar lagi suara. Anak itu mati terkubur hidup-hidup.

*******************

Membaca kisah ini, mutlak semua akan setuju mengatakan bahwa Umar adalah orang yang kejam, tak berperasaan. Mustahil ia punya rasa kasih sayang. Ya, benar, waktu itu, waktu Ia masih berada pada masa kejahiliyahannya. Waktu ia belum mengenal Islam.

Tapi apa yang terjadi setelah ia masuk Islam? Ia menjadi sosok perkasa tapi berperasaan begitu lembut. Berbalik derajat setengah lingkaran. Umar menangis. Umar menangis. Ia menangis tatkala mendengar ayat-ayat peringatan dari Allah. Ia juga tak kuasa menahan air matanya tatkala mendapati kekasihnya, Rasulullah, berbaring diatas tikar yang sangat kasar, berbantal pelepah kurma keras, yang sebagian tubuhnya berada diatas tanah. Ia mengatakan,” bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuhmu. Padahal engkau ini Nabi Allah dan kekasihNya. Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Sedangkan kaisar (Romawi) duduk di singgasana emas dan berbantalkan sutera”

Ya itulah Umar… “Singa di Padang Pasir” yang menangis….

************************

Membayangkan kisah Umar memaksa saya mengingat kembali masa lalu saya. Jahiliyah di masa keislaman. Tentu tidak sedahsyat kisah Umar. Tapi itulah yang mendorong saya untuk tak henti-hentinya bersyukur atas nikmat Iman dan Islam ini.

Advertisements

Apa Artinya Cinta -bukan judul film

Uhibbukifillah, mudah sekali diucapkan
apa artinya?
Apa arti mencintai manusia karena-Nya?
Bukankah cinta itu…
Pengorbanan, pengertian dan
ketulusan?
Lalu kenapa.. Tak ada kepekaan ketika suasana hati sedang berubah…
Tak ada dukungan ketika asa mulai goyah…
Ah, maafkan saya kawan
Kenyataannya diri ini belum paham
arti mencintaimu karena-Nya…

Ketika Harta Bicara (novel)

Rofil (6 tahun) telah meninggal pada kamis (24/12) lalu. Ah, kematian tentu bukan hal yang sangat mengejutkan karena tiap hari ada ribuan bahkan jutaan orang meninggal di dunia ini. Lagipula siapa Rofil? Siapa pula yang peduli? Siapa yang peduli bahwa di pojok Bintaro, disebuah rumah yang hanya terbuat dari papan-papan yang disusun, yang tak jauh dari situ berdiri dengan angkuh bangunan-bangunan yang begitu kontras, tiga manusia sedang meratapi kepergian si kecil Rofil ????? saya sendiri ‘tak peduli’

Dan inilah salah satu produk kekolotan regulasi yang dibuat pelayan-pelayan masyarakat. Ketika harta dan kekuasaan yang berbicara, maka yang tak berdayalah yang dipaksa mendengarkannya.

Rofil meninggal bukan karena tidak ada usaha dari orangtuanya untuk membawanya berobat. Sudah dua rumah sakit didatangi, Dokter tak mendiagnosa penyakitnya, tapi menyarankan Rofil dibawa ke sebuah rumah sakit terkenal di Bandung. Tak perlu saya sebutkan namanya.

Kata Dokter, Rofil kemungkinan harus di operasi radang otak. Tapi alih-alih dioperasi, dirawatpun tak jadi karena harus membayar biaya di muka sebesar 10 juta. Ya, 10 juta. Kira-kira setara dengan satu tangkai spion mobil dinas pejabat.

Bagi orang yang bekerja dengan memungut sampah, tak mungkin bisa mendapatkan uang sebegitu banyak. Kalaupun bisa, harus pulang kampung dulu. Jual apa kek atau cari pinjaman saudara. Tapi Rumah sakit minta uang dibayar di muka.

Tak ada jalan lain selain membawa Rofil pulang dalam keadaan koma setelah sebelumnya pernah keluar darah dari mulut dan hidungnya. Dan di perjalanan pulang, Rofil meninggal. Meninggalkan luka yang mendalam pada keluarganya. Kiki (9 tahun), sang kakak, pingsan seketika.
“Ibu, bikin lagi yang seperti Rofil… mana katanya Rofil sembuh? Sampai sekarang gak bangun-bangun??” Ibu Rofil menirukan kepolosan kata-kata Kiki sambil beruraian airmata.
———————————————————————————————–
Cerita seperti ini pasti sudah sangat sering kita dengar. Tak apalah. Sekedar mengasah kembali kepekaan mata dan telinga kita akan apa yang menimpa saudara-saudara kita dan apa yang dilakukan pelayan-pelayannya.

Dan memang benar kata dosen Etika Profesi saya bahwa kualitas pelayanan publik di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Apalagi dibandingkan negara-negara lain seperti Jepang, India, dan Australia. Mbak Prita sepakat. Teman-teman tentu juga.

Kepada para pelayan dan calon pelayan masyarakat di sektor manapun, mari bersama-sama kita benahi diri dan regulasi dimana kita bekerja untuk Indonesia lebih baik.

Atur napas bisa bikin pinter

Awalnya tidak bermaksud nulis tentang ini.. ini gara2 mau nulis yg lain tapi mentok, mati gaya.. Akhirnya berpikir keras bagaimana biar otak kanan ini bisa bekerja optimal.. Temen2 juga tahu kalo urusan verbal dan seni itu tanggung jawabnya otak kanan. Padahal kan otak kiri saya yg mendominasi..

Ya, akhirnya coba nanya ke mbah gugel.. Ternyata e ternyata.. Konon katanya,

otak manusia bekerja bergantian kiri kanan tiap 15-30 menit. dan ternyata kita bisa mengatur ‘saat ini kita mau pake yg mana’…
katanya.. kan otak kanan itu bekerja mengendalikan anggota tubuh bagian kiri, dan otak kiri sebaliknya.

misal kita mau quiz advance, kan banyakan logika tuh, beberapa menit sebelumnya bernafaslah pake lubang hidung kanan… tutup lubang hidung kiri…. biar otak kiri tersuplai oksigen dg baik. demikian juga kalo pas mau bikin puisi, bernafaslah dengan lubang hidung kiri… tutup lubang hidung kanan…

sekarang, saya mau belajar advance sambil bikin tulisan. apakah saya harus menutup hidung kiri dan kanan saya sekaligus?
haha… gakpentingdotcom.

Tentangnya

Wajah perempuan itu jauh terlihat lebih tua dari umurnya. Tangannya juga terasa tak halus lagi. Kulitnya mulai melegam. Tubuhnya kurus kering.
” iki lho nduk, klambiku kabeh dadi kegedhen” ungkapnya tiba-tiba.
ah, cepat-cepat kubalikkan badan menyembunyikan bulir yang tak kuasa kutahan.. Sama tak kuasanya aku melanjutkan cerita ini.
-kota reyog, 23 Desember 2009-