Resistansi Kebenaran

Angkuh atau yang lebih dikenal dengan sombong atau arogan merupakan ego yang sangat mendasar dalam sifat manusia. Sifat ini sudah ada bahkan sebelum Adam diturunkan ke bumi. Iblis karena kesombongannya -mengakui bahwa Adam lebih baik darinya – membuatnya harus dikeluarkan dari surga, dan mendapatkan stempel pertama penghuni neraka. Naudzubillah.. betapa besar konsekuensi yang harus ditanggung oleh sebuah keangkuhan.

Walid ibn al-Mughirah, seorang tokoh kaum Quraisy di Mekah adalah pemimpin yang berpendirian teguh. Akalnya mengarahkannya ke beberapa bentuk kebenaran, diantaranya menyadari khamr tak pantas diminum pria terhormat. Ketika kaum Quraisy merekonstruksi ka’bah, dia berkata ” hai kaum Quraisy, jangan menyertakan dana ke dalam pembangunan Ka’bah ini kecuali dana yang baik2. Janganlah memasukkan dana hasil prostitusi, perzinaan, dan kezaliman kepada orang lain ke dalam pembangunan ini” (Al-Bidaayah wan Nihaayah, II:30).
Pertama kali mendapat penjelasan dari Abu Bakr mengenai Al-Qur’an, ayahanda sang Pedang Allah yang selalu terhunus ini berkata, ” sungguh menakjubkan apa yang dikatakan Muhammad, itu bukan syair, bukan sihir ataupun ocehan orang gila. Apa yang diucapkannya itu benar2 firman Allah “.
Kaum Quraisypun panas mendengarnya dan bertanya ke Walid, “apa kau akan masuk Islam?”
“aku akan memikirkannya” walid kembali ragu.
Beberapa hari kemudian, Walid berkata, “Tidaklah Al-Qur’an ini melainkan sihir yang dipelajarinya dari orang lain” (Ad-Durul Mantsur VI:282). Sifat sombongnya telah menghalanginya dari Cahaya Islam.

Beberapa orang yang saya kenal sebagai penganut paham Sosialisme telah menempatkan dirinya sebagai Liberalis dalam agamanya sendiri, Islam. Hingga disini saya jadi tidak yakin apakah dia Sosialis atau Liberalis. Sepertinya sama saja. Mereka menjadi penengah yang arogan, mengklaim diri netral dengan pluralisme dan liberalisme, namun di lain pihak menyerang orang lain yang ingin beragama dengan benar dan menganggap muslim yang ‘truly moslem’ tidak toleran terhadap keanekaragaman iman.
Keangkuhan intelektualnya membuatnya seolah2 ‘menahan diri’ untuk benar2 kaffah dalam berislam. Bahkan meragukan syariat2 Islam, ya hanya dengan standar logika mereka. Ini tidak logis, itu zaman dulu, sekarang harusnya… kata2 yang paling sering diucapkan. Debat dengan mereka hanya bikin kaki gatal pengen nendang2…
Ironis, orang2 ini notabene belajar di Institusi Islam. Harusnya.. harusnya.. mereka lebih banyak memahami dan menjiwai Islam serta mengaplikasikan dalam kehidupan. Tetapi nyatanya, mereka malah lebih bangga mengenakan atribut dan bacaan2 di luar Islam, mulai memasang gambar Che Guevara, buku2 tentang Marxisme, tentang PKI,.. dsb. Lagi2, sikap sombong menghalangi manusia dari kebenaran. Semoga kita semua dijauhkan dari ketinggian hati yang membuat telinga yang bisa mendengar tapi seperti tuli, mata yang melihat tetapi seolah2 buta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s