Rasionalisasi Kesalahan

Pernahkah terjadi pada diri kita,
“harusnya aku bisa lebih dari ini”
kemudian tanpa sadar mencari-cari alasan pembenar,
“ya udah deh. Gak apa-apa. Toh juga bla bla. . .)

Dalam ungkapan Al-Qur’an, ini disebut “akhadzat hul izzatu bi -l itsmi”, dipaksa oleh keangkuhan untuk membela dosanya. Padahal kesalahan tersebut harusnya bisa diminimalisir. Inilah monster mental yang akan mengkerdilkan jiwa. Dari segi internal, seseorang akan menjadi begitu mudah memanfaatkan kesalahan dirinya. Tataran eksternalnya, ia akan mencari2 alasan untuk berdusta.

Mari kita teladani sosok Ka’ab bin Malik saat Rasulullah menanyakan alasannya mengapa tidak ikut Perang Tabuk. Jauh hari ia sudah menyiapkan alasannya (secara, kemampuan argumentasinya tidak diragukan lagi). Tapi akhirnya ia berhasil memenangkan konflik batinnya yang jauh lebih berat daripada 50 hari pemboikotan sosialnya.

Ruqyah Halangi Masuk Surga? (copas)


Akan masuk surga tujuh puluh ribu orang tanpa hisab (dihitung amalnya). Para shahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Mereka adalah orang yang tidak minta diruqyah, tidak tathayyur, tidak berobat kay (dengan menggunakan besi panas) dan bertawakal kepada Tuhannya.” (HR Bukhari Muslim)

Para ulama berbeda pendapat tentang masalah apakah meminta diruqyah membuat cacat tawakal kita? Karena orang yang sempurna ketawakalannyalah yang akan mendapatkan kelebihan yang disebutkan dalam hadits tersebut.
Imam Ahmad, Khattabi, al-Qadhi Iyadh, Nawawi, Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qayyim berpendapat bahwa meminta diruqyah bisa mencederai kesempurnaan tawakal. Sedangkan Imam Thabari, al-Maziri, Ibnu Qutaibah, Ibnu Abdil Bar, Qurthubi berpendapat bahwa orang yang meminta diruqyah tetap bisa mempunyai tawakal yang sempurna, artinya mereka masih berhak mendapatkan janji hadits tersebut. Hanya saja, setelah melihat dalil dari masing-masing pendapat, pendapat yang mengatakan bahwa meminta diruqyah bisa mencederai tawakal lebih kuat dibandingkan pendapat yang kedua.

Di sini, kita bisa menarik dua kesimpulan: Pertama, Orang yang meminta untuk diruqyah tidak bisa masuk surga tanpa hisab, tetapi masih terbuka peluang baginya untuk masuk surga dan masih harus melalui proses hisab. Kedua, Yang terhalang untuk masuk surga tanpa hisab adalah mereka yang meminta untuk diruqyah, adapun orang yang meruqyah tidak masuk dalam pembahasan hadits tersebut.

Untuk poin ini, memang terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa orang yang meruqyah pun terhalang untuk masuk surga tanpa hisab. Tetapi riwayat tersebut didhaifkan oleh para ulama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkomentar, “Riwayat tersebut lemah dan salah. Sesungguhnya orang yang meruqyah orang lain dan dirinya sendiri adalah perbuatan baik, maka bagaimana dianjurkan untuk ditinggalkan? Jibril sendiri telah meruqyah Nabi dan Nabi pun meruqyah para shahabatnya dan mengizinkan kepada mereka untuk meruqyah dengan sabdanya, “Barangsiapa yang mampu memberikan manfaat kepada saudaranya, maka lakukanlah. Dan, memberikan manfaat sangat dianjurkan.” (Lihat Majmu’ al-Fatawa 1/182).

Syekh Al-Albani juga mendhaifkan riwayat tersebut, “Riwayat ini syadz (bertentangan dengan riwayat yang kuat), hanya diriwayatkan oleh gurunya Imam Muslim yaitu Said bin Mansur.” (Lihat Tahqiq Mukhtasar al-Mundziri Lishahih Muslim Hal. 37).

Jadi, meruqyah adalah suatu kebaikan yang mendatangkan pahala dan sangat dianjurkan. Sedangkan meminta untuk diruqyah tidak menghalangi seseorang untuk meraih surga. Hanya saja dia kelak bisa masuk surga setelah melalui proses hisab seperti kebanyakan penghuni surga. Wallahua’lam bish shawaab