Norak? Biarin Aja

KERE MUNGGAH BALE

Nok barekwati
saiki uripmu saya mukti
nyandang nganggo ra ngucewani
mergo saiki wis dadi penyanyi

Nok barekwati
Gayamu jan kaya selebriti
Mulo saiki kowe lali
Karo aku sing dadekke penyanyi

Eling-eling kowe biyen dodol sego kering
Bareng saiki dadi wong kondhang
Kowe njur lali karo kahanan

Eling-eling kowe biyen dodol sego kucing
Bareng saiki dadi wong gedhe
Kowe kaya kere munggah bale

Nok barekwati senadyan saiki kowe lali
Nanging tetep tak dongakake
Muga-muga balia dadi kere

Nok barekwati biyen omahmu ra bejaji
Sasat ra bisa nggo bakar trasi
Neng saiki wis apik kaya loji

Nok barekwati kowe saiki cidro ing janji
Janjimu biyen ra bakal lali
Karo aku sing dadekke penyanyi
——

eits.. lirik apaan tu?? hehe.. iseng2 aja nulis liriknya Cak Diqin yang selalu mengiringi tulisan “1 message received” di layar handphone saya.

Tiap orang yang denger biasanya akan mengernyitkan alis.. “he?? apa itu?”.

Yuph.. Saya memang menyukai berbagai jenis musik, mulai dari dangdut, campursari, pop, sampai nasyid.. Pokoknya yang gak berisik banget. Dan yang pasti, liriknya gak cemen.. Biarin dah mau orang bilang norak, sorak, dorak atau apapunrak.

Bukankah Islam tidak membunuh fitrah manusia yang menyukai keindahan? tetapi mengatur dan mengarahkan ke hal yang positif dan di ridloi Allah. So, tidak ada yang salah kan kalau menyukai musik atau lagu yang dianggap membawa manfaat walaupun sekedar untuk menghibur?
Kaidah yang berlaku dalam Islam adalah segala sesuatu pada dasarnya boleh kecuali ada dalil yang melarang. Ibnu Hazm berkata, ” semua hadits yang menerangkan haramnya nyanyian adalah batil dan palsu”
Hal yang menyebabkan nyanyian dilarang adalah jika menjurus kepada kemaksiyatan atau jika MELALAIKAN.

Jadi, bagi temen2 yang hobi lagu2 yang citranya kurang begitu positif di kalangan elite intelektual borjual aktual faktual, nyantai aja.. Innamal a’malu bin niyyat. ^^

Kami, Mereka, dan Kita

Jum’at sore, 21 Ramadhan 1430 H di Lapak Prihatin Sarmili diselemggarakan acara wisuda Kader Sanitasi Sekolah Lapangan dilanjutkan dengan buka bersama. Acara tsb merupakan kelanjutan dari acara sebelumnya (lihat tulisan saya sebelumnya : “TANYA SAYA!!! … “- tidak bisa ngelink, pake hp) yang mengukuhkan kelulusan peserta (kader sebutannya) Sekolah Lapangan . Pelatihannya sendiri telah dilaksanakan mulai Juli s.d. September oleh Yayasan WatSan.
Ketir-ketir rasanya mengingat penyelenggara kegiatan tsb adalah eks-organisasi di bawah sebuah Yayasan Kristen yang kemudian menjadi independen berganti nama. Ya, kembali kita diingatkan oleh sebuah ayat dalam QS 2:120 bahwa orang2 Yahudi dan Nasrani tidak akan senang hingga umat Islam mengikuti mereka.

Tetapi tidak bisa dipungkiri memang bahwa peran mereka cukup besar dalam membantu warga lapak, di saat saudara sesama muslimnya malah tak peduli dengan mereka. Fakta sejarah, Imam Qurthubi berkata bahwa Ibnu Ishaq berkata, “kabilah2 Quraisy telah berkumpul dirumah Abdullah bin Jad’an, kemudian mereka sepakat untuk tidak akan lagi menemukan orang terzhalimi di kota Mekkah…” . Kesepakatan ini disebut Hifdul Fudhul. Dalam hal ini Rasulullah bersabda, ” sungguh aku telah menyaksikan rumah Abdullah bin Jad’an sebuah perjanjian yang lebih aku sukai daripada unta merah…”.

Kalau memang kesepakatan juga bisa diterapkan sekarang ini, menurut saudara2, kesepakatan macam apa yang bisa kita buat??