Pribadi yang Qur’ani dan Sunnahi

Berbicara mengenai muslim yang ideal (atau boleh juga dikatakan manusia ideal, karena toh manusia ideal pasti seorang yang Islam), tentu kita harus mengembalikannya ke sumber rujukan utama yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Lalu kepribadian yang Qur’ani dan Sunnah-i itu seperti apa? “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dengan bentuk yang sebaik-baiknya” (Q.S 95:4). Dengan demikian, sosok muslim ideal adalah sosok yang sebaik-baiknya dalam berbagai aspek, hati, pikiran, dan tindakan.

Sesungguhnya urusan generasi umat ini tidak akan baik kecuali dengan meneladani kebaikan generasi awalnya. Menilik kehidupan umat terdahulu, para sahabat -yakni orang-orang yang dijamin Rasulullah sebagai generasi yang lebih mulia- adalah figur-figur yang penuh warna. Abu Bakr yang begitu lembut hatinya bak Ibrahim, Umar yang tegas seperti Musa, Utsman sang pemalu, ‘Ali yang ceria serta sahabat-sahabat lain yang luar biasa. Mereka adalah manusia-manusia biasa yang istiqamah dengan potensi kebaikan yang dimilikinya.

Ya, keistiqamahanlah yang diperlukan. Dan untuk membentuk kepribadian yang istiqamah sampai akhir hayat dirumuskanlah sepuluh muwashofat, yang berasal dari kata shofat yang artinya sifat. Ia tak sekedar capaian yang dievaluasi dalam rapor saja, tetapi terpatri dalam diri dan bukan cuma teruji di depan murabbi. Muwashofat terbentuk dari kebudayaan. Kebudayaan terbangun dari kebiasaan. Dan dalam kehidupan inilah pembuktiannya. Ustadz Salim A. Fillah dalam GueNeverDie-nya mengemas sepuluh muwashofat tersebut dalam bahasa yang agak ‘beda’. Ya, bahasa khas beliau yang selalu mengompori untuk menikah dini. Tahapan-tahapan untuk meng-kerenkan diri tersebut adalah:

Pertama, menjemput keajaiban dua kalimat. Dua kalimat apalagi selain kalimat pentauhidan dan persaksian kerasulan. Hal yang sungguh mendasar bagi seorang muslim yang ideal adalah mampu terlepas dari belenggu kejahiliyahan. Dan sangat keliru ketika mengidentifikasikan kejahiliyahan dengan keterbelakangan. Di zaman sekarang ini, berhala-berhala pun berlomba-lomba merubah wujudnya –tampil lebih elegan.

Kedua, sayang, izinkan aku menghadap Rabbku. Ibadah yang disyari’atkan Allah dibangun diatas landasan yang kekal, yaitu: tulus kepada Allah dan tauqifiyyah (tidak ada kreasi manusia di dalamnya). Rasulullah telah mencontohkan cara-cara beribadah, maka suatu amalan yang tidak sesuai dengan yang dicontohkan oleh beliau akan tertolak. Seorang muslim haru mewaspadai bid’ah. Banyak praktik-praktik di sekitar kita yang seolah bernuansa ibadah dan terasa religius namun ternyata bukan bagian dari ajaran Islam. Ibnu Mas’ud mengatakan, “beringan-ringan dengan sunnah adalah jauh lebih baik daripada berpayah-payah dalam bid’ah”.

ketiga, ketegaran akhlak. Bangunan iman seperti pohon. Ada aqidah yang menghujam, mengakar ke sumber kehidupannya. Ada ibadah yang pengaruhnya dinikmati banyak orang. Shalat mencegah perbuatan keji dan munkar. Puasa mengajarkan empati kepada sesama. Zakat mengajak untuk berbagi. Dan haji membuat kita merasa kecil di hadapan Allah. Dan buahnya adalah akhlaq. Seorang muslim ideal senantiasa membuat orang lain disekelilingnya merasa aman dari lisan dan tangannya. Rasulullah diutus ke bumi adalah untuk memperbaiki akhlak umatnya dan beliau sendiri telah mencontohkannya –ya, akhlaq Qur’ani.

keempat, cintaku, aku menang selalu. Menang yang dimaksud di sini adalah menang melawan hawa nafsu. Manusia mempunyai dua sisi, yakni fujur dan taqwa sehingga semua orang memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan yang baik dan menghindari yang buruk sangat menuntut kesungguhan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Hakim, Rasulullah bersabda “ tidak beriman seorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam)”.

kelima, siapa takut jatuh kaya?! Standar hidup seorang mu’min berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud adalah 3 hal : istri shalihah, kendaraan yang bisa mengantar kemanapun, dan rumah yang lapang lagi damai. Tapi kita disini hanya akan membahas mengenai kaya-nya saja, bukan mengenai istri. Memiliki kemampuan usaha sendiri sangat diperlukan seorang muslim. Pribadi muslim tidak mesti miskin, malah harus kaya agar bisa mengoptimalkan ibadahnya.

keenam, Allah suka kalau kita perkasa. “seorang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah. Dan pada masing-masing keduanya tetap terdapat kebaikan(HR. Muslim). Kekuatan jasmani merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Dengan kekuatan jasmani, seorang muslim bisa melaksanakan ajaran Islam secara optimal.

ketujuh, bikin otak selalu ting! Islam menempatkan akal pada posisi yang aman. Dan dikatakan bahwa ilmu mempunyai keutamaan dibanding amal. Suatu perbuatan yang tidak didasari ilmu bisa membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Dalam Qalam-Nya, berapa kali intelektualitas seseorang dipertanyakan, “ samakah orang-orang yang mengetahui dengan yang tidak mengetahui? sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran” (QS 39:9)
Kedelapan, atur diri dan berbarislah agar dicintai! keteraturan diri brkaitan dengan keteraturan penampilan dan keteraturan menyelesaikan urusan. Fisik Rasulullah, “Dia sangat bersih” kata Ummu Ma’bad Al-Khuza’iyyah, “ wajahnya berseri-seri, ….”. Dan dalam menyelesaikan urusannya, seorang muslim dituntut untuk profesional dan bersungguh-sungguh. Demikian juga dalam da’wah. Ia butuh penataan. Bangunan itu terbentuk dari batu bata yang tersusun rapi.

Kesembilan, pedang waktu di leherku. Faktor penting lain bagi seorang muslim adalah menjaga waktunya. Ia juga bisa memprioritaskan urusan yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Sean Covey dalam 7 Habits-nya menggambarkan kegiatan padat dengan batu dan kerikil. Jika kita memasukkan kerikil terlebih dahulu, batu-batu besar takkan bisa masuk sepenuhnya. Tetapi jika masukkan batu besar lebih dahulu, kerikil akan bisa masuk ke rongga-rongga batu besar.

kesepuluh, sang bunga tak mampu menahan semerbak wanginya. ”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR Tirmidzi). Seorang muslim dituntut untuk bermanfaat bagi orang lain sehingga dimanapun dia berada dan dalam kondisi apapun, orang merasakan keberadaannya bermanfaat. Diamnya bermanfaat, bicaranya apalagi. Duduknya bermanfaat, berdirinya bermanfaat. Hidup memberi manfaat, mati pun masih meninggalkan kemanfaatan. Ah, betapa saya masih jauh darinya..

Terakhir, senjata pamungkasnya sang ustadz GueNeverDie, -dengan asesoris tanda petik, italic, bold, underline plus nanti jangan lupa pake highlighter-, “ kerenkan diri, trus nikah dini”. tuing..tuing..

(disarikan dari GueNeverDie-nya Ust. Salim A. Fillah, dan berbagai sumber lain yang dalam shahifah-shahifah yang tidak terlacak asalnya)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s