Satu kesulitan vs dua (atau lebih) kemudahan; dibalik peristiwa Situgintung

PERHATIAN: Ini hanya tulisan amatir mengenai musibah Situgintung, tidak didasarkan penelitian dan analisis yang mendalam.

Peristiwa jebolnya tanggul Situgintung, Ciputat, Tangerang pada Jum’at dini hari, 27 Maret 2009 pasti menyisakan kepedihan yang mendalam bagi para korban. Mulai dari yang kehilangan harta, saudara, sampai bahkan asa. Tetapi bukankah Dia lah Sang Maha Bijak. Tidak ada sesuatupun yang diciptakan sia-sia. Tidak ada peristiwa tanpa hikmah dibaliknya. Dan dari peristiwa-peristiwa itulah kita bisa belajar banyak hal. KauniyahNya pun berbicara.

Di sela-sela TFM1, Sabtu 0108’09 kemarin, saya menyempatkan diri menengok bekas Situ (danau) yang sekarang sudah mengering. Bahkan sengaja turun kesana (cekungannya). Di situ terdapat berbagai tanaman tumbuh subur. Dan di seberang sana juga nampak seseorang yang mengangkuti air dengan pikulan di pundaknya, dari sebuah sumur kecil di dasar cekungan- ke lereng yang sudah dibuat sengkedan. Selalu, menyenangkan sekali melihat orang bekerja di alam. Tetapi bukan itu poinnya, melainkan betapa Alloh membuktikan perkataanNya. Sisa-sisa akibat musibah tersebut malah menjadi ladang pemberi rizqi bagi orang-orang sekitarnya.
Dari Abu Hurairah berkata Rasululloh -shollu alaih- bersabda: “Orang yang Alloh inginkan kebaikan atasnya, maka akan diberinya musibah” ( hadits rowahu Bukhori).

Dan kebaikan yang Alloh berikan pun tak tanggung-tanggung, satu musibah di bersamai dua atau lebih kemudahan. Dalam Q.S Al-Insyiroh:5-6 : Fa inna ma’a l-usri yusron, Inna ma’a l-usri yusron. artinya karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Kenapa ayat ini sampai diulang 2x, padahal artinya sama? Tidak, tidak sama. Di situ lah keterbatasan bhs Indonesia tidak bisa menggambarkan maksud yang sebenarnya.
Dalam kaidah tata bahasa Arab (kalau salah, mohon dibenarkan) di jelaskan seperti ini (redaksi sesuai ingatan saya): suatu jumlah (kalimat) yang didalamnya terdapat dua kalimah (kata) yang berurutan dan diulang di jumlah selanjutnya, maka; kalimah pertama di kedua jumlah menyatakan satu maksud, dalam hal ini al-usri yaitu kesulitan, artinya hanya ada satu al-usri (kesulitan). Kemudian kalimah kedua di kedua jumlah menyatakan dua hal yang berbeda, dalam hal ini artinya terdapat yusron yang berbeda, kemudahan yang berbeda (ada yang menafsirkan dua, ada yang lebih).
subhanalloh..
Indah sekali..
“Maka kepada perkataan apakah selain al-Qur’an kamu akan beriman?” (Q.S. …)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s