Tentang Kami, 2J Akuntansi Pemerintah

Karena kemarin ada yang posting tentang buka bersama kelasnya, jadi ikut-ikutan deh..

Jum’at, 8 Ramadhan 1430 H di Hiu No. 8 PJMI berkumpullah 19 anak manusia (hwek..) dalam rangka menjalin silaturahim dengan memanfaatkan momen berbuka, ifthar jama’i bahasa gaulnya.. Tanpa dibahas sebelumnya, tiba-tiba dapet sms undangannya. Ya, demi menjalin persatuan dan kesatuan (jargon TVRI -pake nada ya ), saya putuskan datang.. Dan sebagai kaum wanita (uhuk2), ya saya berniat membantu persiapannya. Sampai disana, krik.. krik.. yang punya kos belum pulang.. mau bikin apa nih.. sms.. balesnya “masak nasi, te.. berasnya belum beli.. ” wua, jam 5..

Akhirnya cerita punya cerita, buka puasa pending sampai jam 18.30. Mereka di telantarin..

Singkatnya.. acaranya agak gak jelas.. Habis makan bingung mau ngapain. Orang gak ada yg mengkonsep acara.. Malah ya, yang punya inisiatif ngadain acara ini tuh temen yang bukan saudara seaqidah (baca: k*f*r).. Yang beli ini itu juga dia.. Wah-wah..

eh, ada ding yang jelas. Ada kultum. Temanya tentang Birul walidayn.. Padahal lagi sensitif banget masalah ini..Hhh

Bagi temen2 2J: Tak terasa sudah satu tahun kebersamaan ini terlewati. Walaupun mungkin banyak yang merasa kelas kita ini gak kompak, susah diajak jalan dll, tapi semoga tidak mengurangi rasa persaudaraan ini. Banyak cerita kita lalui.. terkantuk2 bareng pas kuliah ekin, tertawa bareng pas kuliah pak totong, nyontek bareng pas ada tugas… pfuh..Maaf ya kalau tadi agak marah2.. abis merasa geje banget.. Waduh, belakangan ini bawaannya pengen marah mulu. Maaf buat semuanya..

Advertisements

Perlu diruQyahkah saya?

Chargerku ngambek lagi.. Gak bisa dipake. Bayangpun, 3 kali ganti henpon, 7x beli charger.. Wedeww.. Orang sekos pasti udah hafal dengan kebiasaanku minjem charger.. Woalah nduk2, kok barang2 elektronik yang jadi bermasalah ditanganku yak?!
Pas liburan kemaren juga, sehari dirumah, monitor komputer langsung bermasalah -ada yang hangus gimanaa gitu. Setelah monitor bener, mouse ngadat.. Oh tidak! Jadi ngapalin shift ctrl tab bla bla.. dan masih bnyak lagi lho cerita2 lain..

Percaya boleh, tidak percaya monggo. Katanya, salah satu tanda orang yang mendapat gangguan -sehingga perlu diruqyah- adalah rusaknya barang2 elektronik di sekitar. Kalau saya sendiri sebenarnya tidak percaya. (Loh piye to bocah iki?). Masalah rusaknya barang elektronik itu ya karena kecerobohan orangnya. Masa syaithon doyan ngrusakin barang2 kaya gitu. Cape deh..

Hehe.. Jadi inti postingan ini adalah … Jauhkan barang2 Anda dari Ute!! (Gubrak!). oho, tidak saudara, tenang! kalo barang pinjeman InsyaAlloh aman. 🙂

Lagian, kagak mau diruqyah ah, menghilangkan satu kesempatan masuk surga tanpa hisab.. 😉

Pribadi yang Qur’ani dan Sunnahi

Berbicara mengenai muslim yang ideal (atau boleh juga dikatakan manusia ideal, karena toh manusia ideal pasti seorang yang Islam), tentu kita harus mengembalikannya ke sumber rujukan utama yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Lalu kepribadian yang Qur’ani dan Sunnah-i itu seperti apa? “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dengan bentuk yang sebaik-baiknya” (Q.S 95:4). Dengan demikian, sosok muslim ideal adalah sosok yang sebaik-baiknya dalam berbagai aspek, hati, pikiran, dan tindakan.

Sesungguhnya urusan generasi umat ini tidak akan baik kecuali dengan meneladani kebaikan generasi awalnya. Menilik kehidupan umat terdahulu, para sahabat -yakni orang-orang yang dijamin Rasulullah sebagai generasi yang lebih mulia- adalah figur-figur yang penuh warna. Abu Bakr yang begitu lembut hatinya bak Ibrahim, Umar yang tegas seperti Musa, Utsman sang pemalu, ‘Ali yang ceria serta sahabat-sahabat lain yang luar biasa. Mereka adalah manusia-manusia biasa yang istiqamah dengan potensi kebaikan yang dimilikinya.

Ya, keistiqamahanlah yang diperlukan. Dan untuk membentuk kepribadian yang istiqamah sampai akhir hayat dirumuskanlah sepuluh muwashofat, yang berasal dari kata shofat yang artinya sifat. Ia tak sekedar capaian yang dievaluasi dalam rapor saja, tetapi terpatri dalam diri dan bukan cuma teruji di depan murabbi. Muwashofat terbentuk dari kebudayaan. Kebudayaan terbangun dari kebiasaan. Dan dalam kehidupan inilah pembuktiannya. Ustadz Salim A. Fillah dalam GueNeverDie-nya mengemas sepuluh muwashofat tersebut dalam bahasa yang agak ‘beda’. Ya, bahasa khas beliau yang selalu mengompori untuk menikah dini. Tahapan-tahapan untuk meng-kerenkan diri tersebut adalah:

Pertama, menjemput keajaiban dua kalimat. Dua kalimat apalagi selain kalimat pentauhidan dan persaksian kerasulan. Hal yang sungguh mendasar bagi seorang muslim yang ideal adalah mampu terlepas dari belenggu kejahiliyahan. Dan sangat keliru ketika mengidentifikasikan kejahiliyahan dengan keterbelakangan. Di zaman sekarang ini, berhala-berhala pun berlomba-lomba merubah wujudnya –tampil lebih elegan.

Kedua, sayang, izinkan aku menghadap Rabbku. Ibadah yang disyari’atkan Allah dibangun diatas landasan yang kekal, yaitu: tulus kepada Allah dan tauqifiyyah (tidak ada kreasi manusia di dalamnya). Rasulullah telah mencontohkan cara-cara beribadah, maka suatu amalan yang tidak sesuai dengan yang dicontohkan oleh beliau akan tertolak. Seorang muslim haru mewaspadai bid’ah. Banyak praktik-praktik di sekitar kita yang seolah bernuansa ibadah dan terasa religius namun ternyata bukan bagian dari ajaran Islam. Ibnu Mas’ud mengatakan, “beringan-ringan dengan sunnah adalah jauh lebih baik daripada berpayah-payah dalam bid’ah”.

ketiga, ketegaran akhlak. Bangunan iman seperti pohon. Ada aqidah yang menghujam, mengakar ke sumber kehidupannya. Ada ibadah yang pengaruhnya dinikmati banyak orang. Shalat mencegah perbuatan keji dan munkar. Puasa mengajarkan empati kepada sesama. Zakat mengajak untuk berbagi. Dan haji membuat kita merasa kecil di hadapan Allah. Dan buahnya adalah akhlaq. Seorang muslim ideal senantiasa membuat orang lain disekelilingnya merasa aman dari lisan dan tangannya. Rasulullah diutus ke bumi adalah untuk memperbaiki akhlak umatnya dan beliau sendiri telah mencontohkannya –ya, akhlaq Qur’ani.

keempat, cintaku, aku menang selalu. Menang yang dimaksud di sini adalah menang melawan hawa nafsu. Manusia mempunyai dua sisi, yakni fujur dan taqwa sehingga semua orang memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan yang baik dan menghindari yang buruk sangat menuntut kesungguhan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Hakim, Rasulullah bersabda “ tidak beriman seorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam)”.

kelima, siapa takut jatuh kaya?! Standar hidup seorang mu’min berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud adalah 3 hal : istri shalihah, kendaraan yang bisa mengantar kemanapun, dan rumah yang lapang lagi damai. Tapi kita disini hanya akan membahas mengenai kaya-nya saja, bukan mengenai istri. Memiliki kemampuan usaha sendiri sangat diperlukan seorang muslim. Pribadi muslim tidak mesti miskin, malah harus kaya agar bisa mengoptimalkan ibadahnya.

keenam, Allah suka kalau kita perkasa. “seorang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah. Dan pada masing-masing keduanya tetap terdapat kebaikan(HR. Muslim). Kekuatan jasmani merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Dengan kekuatan jasmani, seorang muslim bisa melaksanakan ajaran Islam secara optimal.

ketujuh, bikin otak selalu ting! Islam menempatkan akal pada posisi yang aman. Dan dikatakan bahwa ilmu mempunyai keutamaan dibanding amal. Suatu perbuatan yang tidak didasari ilmu bisa membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Dalam Qalam-Nya, berapa kali intelektualitas seseorang dipertanyakan, “ samakah orang-orang yang mengetahui dengan yang tidak mengetahui? sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran” (QS 39:9)
Kedelapan, atur diri dan berbarislah agar dicintai! keteraturan diri brkaitan dengan keteraturan penampilan dan keteraturan menyelesaikan urusan. Fisik Rasulullah, “Dia sangat bersih” kata Ummu Ma’bad Al-Khuza’iyyah, “ wajahnya berseri-seri, ….”. Dan dalam menyelesaikan urusannya, seorang muslim dituntut untuk profesional dan bersungguh-sungguh. Demikian juga dalam da’wah. Ia butuh penataan. Bangunan itu terbentuk dari batu bata yang tersusun rapi.

Kesembilan, pedang waktu di leherku. Faktor penting lain bagi seorang muslim adalah menjaga waktunya. Ia juga bisa memprioritaskan urusan yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Sean Covey dalam 7 Habits-nya menggambarkan kegiatan padat dengan batu dan kerikil. Jika kita memasukkan kerikil terlebih dahulu, batu-batu besar takkan bisa masuk sepenuhnya. Tetapi jika masukkan batu besar lebih dahulu, kerikil akan bisa masuk ke rongga-rongga batu besar.

kesepuluh, sang bunga tak mampu menahan semerbak wanginya. ”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR Tirmidzi). Seorang muslim dituntut untuk bermanfaat bagi orang lain sehingga dimanapun dia berada dan dalam kondisi apapun, orang merasakan keberadaannya bermanfaat. Diamnya bermanfaat, bicaranya apalagi. Duduknya bermanfaat, berdirinya bermanfaat. Hidup memberi manfaat, mati pun masih meninggalkan kemanfaatan. Ah, betapa saya masih jauh darinya..

Terakhir, senjata pamungkasnya sang ustadz GueNeverDie, -dengan asesoris tanda petik, italic, bold, underline plus nanti jangan lupa pake highlighter-, “ kerenkan diri, trus nikah dini”. tuing..tuing..

(disarikan dari GueNeverDie-nya Ust. Salim A. Fillah, dan berbagai sumber lain yang dalam shahifah-shahifah yang tidak terlacak asalnya)

Satu kesulitan vs dua (atau lebih) kemudahan; dibalik peristiwa Situgintung

PERHATIAN: Ini hanya tulisan amatir mengenai musibah Situgintung, tidak didasarkan penelitian dan analisis yang mendalam.

Peristiwa jebolnya tanggul Situgintung, Ciputat, Tangerang pada Jum’at dini hari, 27 Maret 2009 pasti menyisakan kepedihan yang mendalam bagi para korban. Mulai dari yang kehilangan harta, saudara, sampai bahkan asa. Tetapi bukankah Dia lah Sang Maha Bijak. Tidak ada sesuatupun yang diciptakan sia-sia. Tidak ada peristiwa tanpa hikmah dibaliknya. Dan dari peristiwa-peristiwa itulah kita bisa belajar banyak hal. KauniyahNya pun berbicara.

Di sela-sela TFM1, Sabtu 0108’09 kemarin, saya menyempatkan diri menengok bekas Situ (danau) yang sekarang sudah mengering. Bahkan sengaja turun kesana (cekungannya). Di situ terdapat berbagai tanaman tumbuh subur. Dan di seberang sana juga nampak seseorang yang mengangkuti air dengan pikulan di pundaknya, dari sebuah sumur kecil di dasar cekungan- ke lereng yang sudah dibuat sengkedan. Selalu, menyenangkan sekali melihat orang bekerja di alam. Tetapi bukan itu poinnya, melainkan betapa Alloh membuktikan perkataanNya. Sisa-sisa akibat musibah tersebut malah menjadi ladang pemberi rizqi bagi orang-orang sekitarnya.
Dari Abu Hurairah berkata Rasululloh -shollu alaih- bersabda: “Orang yang Alloh inginkan kebaikan atasnya, maka akan diberinya musibah” ( hadits rowahu Bukhori).

Dan kebaikan yang Alloh berikan pun tak tanggung-tanggung, satu musibah di bersamai dua atau lebih kemudahan. Dalam Q.S Al-Insyiroh:5-6 : Fa inna ma’a l-usri yusron, Inna ma’a l-usri yusron. artinya karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Kenapa ayat ini sampai diulang 2x, padahal artinya sama? Tidak, tidak sama. Di situ lah keterbatasan bhs Indonesia tidak bisa menggambarkan maksud yang sebenarnya.
Dalam kaidah tata bahasa Arab (kalau salah, mohon dibenarkan) di jelaskan seperti ini (redaksi sesuai ingatan saya): suatu jumlah (kalimat) yang didalamnya terdapat dua kalimah (kata) yang berurutan dan diulang di jumlah selanjutnya, maka; kalimah pertama di kedua jumlah menyatakan satu maksud, dalam hal ini al-usri yaitu kesulitan, artinya hanya ada satu al-usri (kesulitan). Kemudian kalimah kedua di kedua jumlah menyatakan dua hal yang berbeda, dalam hal ini artinya terdapat yusron yang berbeda, kemudahan yang berbeda (ada yang menafsirkan dua, ada yang lebih).
subhanalloh..
Indah sekali..
“Maka kepada perkataan apakah selain al-Qur’an kamu akan beriman?” (Q.S. …)