Tanya kenapa

Sang pengisi rongga dada tak pernah mau anteng. Ianya seperti kurs mata uang, fluktuatif. Ketika harga naik, untung didapat; ketika harga turun, rugi menanti. Itulah kaidah pasti. Tidak pernah ada sebab yang jelas. Begitulah kadar iman. Tanpa permisi si semangat ngeloyor pergi. Jangan tanya kenapa! Karena jawabannya tak lebih dari dua kata, “pengen aja”. Jawaban gemblung.

Futur, mengalir kemanapun, muaranya tetap satu, kemalasan. Dan ramuan yang sudah teruji menetralkannya adalah cukup mengingat. Mengingat sorot2 mata penuh harap ketika mengantar kepergianku. Ah, tak sanggup melihat sorot2 itu meredup. Qurrota a’yun, menyejukkan bola mata, tak pernah tertinggal di setiap lantunannya yang dipersembahkan untukku, anaknya. Pantaskah semua itu kubalas dengan dengan sikap egoisku? Kemalasan inikah yang akan kupersembahkan bagi mereka? Terlalu.

Semua itu hanyalah pengingat. Dan manusia, diingatkan berkali2pun akan tetap ada yang namanya lupa. Toh tak ada manusia yang benar2 terbebas dari futur.

Kemudian terakhir, pelengkap ramuan adalah mempersembahkan senyum terbaik untuk orang2 disekitar. karena pada hakikatnya ianya adalah hadiah untuk diri sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s