Jamu rasa Strawberry

Tak ada kata yang bisa mewakili syukur alhamdulillah atas nikmat-Nya hingga sang pagi masih setia menyapa kita.
Yuppy, postingan innocent lagi nih..

Pagi ini, seperti kebanyakan pagi2 yang lain, saya kembali mengunjungi ibu nasi uduk superbetawi favorit saya. Ya buat beli nasi uduk lah. Tapi di perjalanan kesana, mata saya tertuju pada seorang mbok2 (ibu2, Jawa) jongkok di emperan sebuah toko. Tangan si mbok ini sibuk meracik cairan2 dari botol2 di sebuah bakul (pokoknya gaya ilmuwan di laboratorium yang mengkombinasikan zat2 kimia). Yaelah, bilang aja ibu2 jualan jamu!! Hahaha.

Dari kecil saya paling tidak suka namanya jamu. Di SMA aja diejekin sama ibu kos gara2 tidak pernah mau beli jamu. Kalaupun mau paling beras kencur atau kunyit asam. Anak2 banget.. Tapi entah kali ini saya tertarik untuk nyobain lagi. Saya menghampiri si mbok itu,
“mbok, jamu”
“jamune nopo mbak?”
“pokoke sing mboten pait”
gerrr, seketika orang2 di situ ketawa semua.
“nggih pun, beras kencur campur kunir asem mawon nggih?”
“nggih” jawab saya.
“kosE nggene bu Ning nggih, mbak?”
“o, nggih buk”

Wah, si mbok ini ramah sekali. Memakai kebaya, jarit sebagai bawahan, jarit gendong yang membalut bakul, rambut digelung plus ramah. Tipikal perempuan Jawa yang sederhana..

Sampai di kos, dengan penuh semangat saya minum lah tu jamu. Seteguk kecil. @@@@@ aneee..eh. tetep tidak enak. Aduh, lebih dari 2 tahun gak ngerasain, tetep gak enak.. Ah, seandainya rasa Stroberi, pasti enak.. hmm.. kaya plesetannya teamlo yang saya plesetin lagi, “jamu mbok Darmi, rasanya stroberi..” (dengan nada iklan susu indo). hehe.. Yummy..

Satu tak kalah penting, para penjual jamu keliling tsb tanpa sadar telah menjaga warisan nenek moyang. Dan itu hanya ada di Indonesia (iklan banget). Di luar negeri emang ada rempah2?? Tapi kenyataannya, peran jamu mulai terpinggirkan. Orang2 lebih suka ke apotek daripada ke tukang jamu (termasuk saya). Orang lebih suka mengobati daripada mencegah (Ini nasehat buat diri sendiri juga). Ya, penjaja jamu tetap tinggal dalam kebersahajaan. Dan itulah yang menguatkan interaksi mereka dengan masyarakat. Hidup Jamu Gendong!!!

Wah, saya membayangkan seandainya mbok2 itu punya depot jamu se-elit starbucks. Mmm, keren!! Dan akan sangat keren lagi kalau saya bisa berubah menyukai rasa jamu..;-)

Advertisements

Bangkit dari Keterpurukan

Bukan, samasekali bukan tentang futur. Itukan bahasan yang lagi hangat2nya kemaren. Ini tentang Kick Andy. Keren kan temanya? Yo’i, kira2 itulah yang saya pikirkan ketika pertama mendengar temanya.

Ya seperti biasalah, Kick Andy ini mengundang orang2 yang hebat untuk berbagi kisah2 yang luar biasa tentunya. Coba tebak kawan, siapa yang diundang kali ini? Ayo tebak!! Ya sudah, saya beritahu. Yang diundang adalah
1. Korban pemerkosaan
ceritanya bla bla bla..
2. Korban pelecehan seksual
ceritanya ehm..ehm..
3. Punya pacar tidak bertanggung jawab akhirnya jadi unmaried single parent.
ceritanya a.i.u.e.o..
4. Istri simpanan.
ceritanya cas..cis..cus..

Intinya… simpulkan sendiri. Saya males. Heran, mau2nya sih mereka mengekspose diri seperti itu, membuka2 aib yang sudah tersimpan rapat2. Alloh saja sudah menjaga kemuliaan hamba-Nya dengan menutupi aibnya.. Hhh.. kemudian saya agak krik krik ketika seorang psikolog yang diundang berkata, ” .. budaya Indonesia itu adalah menutup2i kejadian2 yang bisa membuat dia stres dan menyimpannya sendiri.. “. Lah, bagus dong, Bu. Apanya yang salah? tauklah, kagak ngarti psikologi. ;-(

Oya, semua pasti sepakat bahwa kejadian tersebut bukan mutlak akibat kesalahan mereka. Saya juga tidak akan membahasnya.. hhe bisa2 nanti melakukan audit trail. Tapi memang, perjuangan mereka untuk melanjutkan hidup patut diacungi jempol. Trauma, tekanan batin, post traumatic stres disorder-katanya, keluarga tidak memberi support, belum lagi stigma negatif dari masyarakat. Bisa2 gila!! Ada yang bilang itu hukuman sosial, biar orang tidak mudah melakukan seks diluar nikah.

Yang agak saya sesalkan selanjutnya adalah kalimat Andy pada waktu pembukaan, kurang lebih seperti ini
” melahirkan seorang anak diluar nikah memang sebuah aib. Tetapi apakah kita sebagai masyarakat akan langsung menghakiminya dan memperlakukan mereka (ibu dan anak tsb -te) secara tidak baik? tentu tidak. Saya tidak melihat ini dari sudut pandang agama karena bisa2 akan mengatakan, “salah loe sendiri gak jaga diri..”.
gubrak!! sesederhana itukah Andy menafsirkan agama?

Intinya lagi, saya agak kecewa dengan Kick Andy kali ini. Hikmah yang bisa saya ambil apa??
oiya, ada. Ada hikmahnya. Kalau saya perhatikan mbak2nya itu, hanya satu yg menutup auratnya, itupun tidak sempurna.
“hai Nabi, katakanlah kepada istri2mu, anak2 perempuanmu dan istri2 orang2 mukmin, “hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu..” (33:59)

Oiya terakhir, tadi pas openingnya, semua audiens berdiri menyanyikan lagu Indonesia Raya. huwa. Temen2 yang mendapat PM dari saya pasti bisa mengira2 apa yang terjadi.. hehe.. ^^v

Bukan Rasis, melainkan Narsis

Dalam kaidah ilmu komunikasi, bahasa merupakan suatu alat perantara yang digunakan untuk menyampaikan informasi. Semua makhluk di dunia ini mempunyai bahasa sendiri2, tentu yang sesuai kelompoknya. Nah, berbicara sedikit mengenai komunikasi, intinya adalah suatu pesan yang dimaksud dapat tersampaikan dengan baik.

Bertolak pada pemahaman tersebut, saya ingin bertanya bagaimana pendapat temen2 tentang orang yang bicaranya “medhok” (aksen jawa yang sangat kentara, terutama kalau yang dari jawa timuran _pengucapan ‘d’nya manteb. ndak gitu..)? Terganggukah anda? Atau ada diantara anda yang medhok juga?

Apakah anda akan berpendapat: What’s wrong with medhok? Apakah kurang mengindonesia? Apakah kalau berbicara bahasa Indonesia harus mengganti logat menjadi logat ibu kota? dan sederet pertanyaan lain. Kalau Anda berpendapat demikian, selamat!! karena Anda bangga pada identitas kedaerahan dan tidak teracuni pola berpikir ketelevisi2an. Yaitu ketika teve seringkali (bahkan selalu) didominasi oleh gaya hidup anak muda (jakarta dan sekitarnya). Orang akan berpikir, “ow yang modern itu seperti itu”. Akan sama konteksnya ketika teve menyuguhkan iklan kecantikan, dengan serta merta orang akan bilang bahwa “cantik itu putih”.

— Nah, kembali ke medhok–

Biasanya orang itu bicara medhok karena spontanitas atau karena terbawa kebiasaan. Dan memang tidak mudah meninggalkan kebiasaan. Tapi ada juga orang yang memang bersikekeuh tidak mau menghilangkan medhoknya. Ya karena alasan bahwa itu identitas. Sebenarnya kalau mereka mau sedikit terbuka, mereka akan tahu bahwa adakalanya aksen itu bisa menyebabkan ketidaknyamanan. Bahkan teman saya pernah bilang kalau telinganya seolah2 tergelitik mendengar orang bicara medhok. Nah di sinilah kita akan sedikit belajar mengesampingkan ego pribadi. Kalau diantara sesama jawa, oke-lah. Tapi kalau tidak? Apalagi kalau di forum resmi. Coba bayangkan kalau Putri Indonesia saat mengikuti ajang Miss Universe, bahasa inggrisnya medhok.

Tanya kenapa

Sang pengisi rongga dada tak pernah mau anteng. Ianya seperti kurs mata uang, fluktuatif. Ketika harga naik, untung didapat; ketika harga turun, rugi menanti. Itulah kaidah pasti. Tidak pernah ada sebab yang jelas. Begitulah kadar iman. Tanpa permisi si semangat ngeloyor pergi. Jangan tanya kenapa! Karena jawabannya tak lebih dari dua kata, “pengen aja”. Jawaban gemblung.

Futur, mengalir kemanapun, muaranya tetap satu, kemalasan. Dan ramuan yang sudah teruji menetralkannya adalah cukup mengingat. Mengingat sorot2 mata penuh harap ketika mengantar kepergianku. Ah, tak sanggup melihat sorot2 itu meredup. Qurrota a’yun, menyejukkan bola mata, tak pernah tertinggal di setiap lantunannya yang dipersembahkan untukku, anaknya. Pantaskah semua itu kubalas dengan dengan sikap egoisku? Kemalasan inikah yang akan kupersembahkan bagi mereka? Terlalu.

Semua itu hanyalah pengingat. Dan manusia, diingatkan berkali2pun akan tetap ada yang namanya lupa. Toh tak ada manusia yang benar2 terbebas dari futur.

Kemudian terakhir, pelengkap ramuan adalah mempersembahkan senyum terbaik untuk orang2 disekitar. karena pada hakikatnya ianya adalah hadiah untuk diri sendiri.

abcd, sifat: sangat tidak penting

Ini salah
Itu tidak betul
Ngomong salah
diem gak bener

Darah yg mengalir sama malah menjadi hambatan komunikasi. pake kacamata minus plus silinder-pun, mata tak bisa menangkap gelombang audio. sebaliknya, telinga Pat Kai pun tak akan merasakan efek2 visual. artinya apa? gak nyambung!!

-oh pak dosen OBM, saya menyesal dulu tidak mau disuruh mempraktekkan cara “Mengurai Benang Kusut”. waktu itu engkau meminta 3 orang membelit2kan tangan, saling membelakangi. kemudian engkau suruh mereka memutar2 hingga mendapatkan keadaan tangan yang nyaman. Saya menyesal waktu itu tidak belajar…
sekarang maukah engkau mengajari saya lagi bagaimana mengurai benang kusut ini, wahai pak dosen??-
[kacau x Oon]: modus NYALA

maaf, sekali lagi ini sangat tidak penting. Membaca dapat menyebabkan kontraindikasi mata melotot dan jidat mengernyit.

Angin itu berhembus sampai sini, Ponorogo-Bintaro

Perasaan bahagia menyeruak tatkala mendengar bahwa insyaAlloh beliau akan menikah dalam waktu dekat.
Ah, akhirnya..
Beliau bilang, setelah 3 tahun akhirnya lampu merah telah berganti kuning dan kemungkinan, hijau akan menyala. What??
Ternyata benar bisik2 yang saya dengar selama ini. Hampir tak percaya.. Apa boleh buat, 3 tahun telah terlampaui.. dan kini.. semoga ini jalan terbaiknya.

Sejenak ke bahasan lain.. Kemudian ditanya mengapa selama 3 tahun tersebut tidak direstui, beliau bilang apa?? Zziinggh.. angin feodalisme menggelitik. Ternyata, si akhwat adalah keturunan ‘santri’, putrane mbah Yai, pemilik sebuah Pondok Pesantren. Keluarga si akhwat tidak menyetujuinya menikah dengan orang yang bukan dari kalangan keluarga pesantren yang ‘ngaji’. Ya Alloh… Dan kedua, karena seorang hafizhah layaknya mendapat suami yang hafizh juga.

Oh,.. Aromanya begitu nyinyir, menusuk hingga rongga hati terdalam.

Beberapa hal yang saya sesalkan disini, pertama mereka menjalani ikatan tidak jelas selama 3 tahun. Padahal si ikhwan adalah seorang aktivis kampus yang ‘melek’ agama. Bahkan tidak jarang menjadi ‘imam’ dalam kegiatan2 keagamaan. Dan si akhwat, kerasnya peraturan pesantren tak membuatnya mampu ‘menjaga diri’..
Kedua, angin feodalisme masih sangat kuat berhembus, ternyata di kalangan pesantren. Seperti tulisan seorang sahabat yang menyatakan kekecewaannya akan tradisi yang ada di Pesantren. Ah, apa yang harus saya katakan.. Hierarki kekuasaan di Pesantren memang absolut. Orang yang harus paling dihormati adalah keluarga Mbah Yai. Lalu, apakah keturunan mbah yai harus menikah dengan keturunan mbah yai juga?? Atau minimal ‘nyantri’?
Mengapa orang mau menikah dipersulit? Bukannya Alloh saja melarang meminta mahar yang tinggi jika itu menyulitkan? Lha ini?

Sedikit tentang Genjer-Genjer

Genjer-genjer neng ledokan pating keleler 2x
Emake thole teka-teka mbubuti genjer
Oleh satenong mungkur sedot sing toleh-toleh
Genjer-genjer saiki wis digawa mulih

Genjer-genjer esuk-esuk digawa neng pasar 2x
Dijejer-jejer diunting pada didasar 2x
Emake jebeng tuku genjer wadahi e-tas
Genjer-genjer saiki arep diolah

Genjer-genjer mlebu kendil wedange umob 2x
Setengah mateng dientas di gawe iwak 2x
Sega sak piring sambel pecel ndok ngamben
Genjer-genjer dipangan musuhe sega

Lagu Genjer2 diciptakan Muhammad Arief, seorang seniman asal Banyuwangi. Beliau terinspirasi oleh kondisi Banyuwangi sekitar th ’42an pada masa pendudukan Jepang yg mengalami kemiskinan luar biasa karena sumber pangan diambil Jepang. Padahal sebelumnya disana surplus pangan. Akhirnya rakyat memasak tanaman genjer (sejenis gulma sawah_ sepertinya) untuk dimakan.

Kemudian setelah kemerdekaan, M Arief bergabung dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) yang dekat dengan PKI. Kemudian lagu Genjer2 menjadi populer pada waktu itu. Entah apa yang salah dengan Genjer2 sbg produk budaya… Setelah PKI dan anak2 cucunya dihancurkan oleh ORBA, Genjer2 pun juga di bumihanguskan. Padahal kan itu hanya lagu yang menggambarkan kehidupan masyarakat pada masa Jepang berkuasa.
Apa karena lagu itu digemari kalangan komunis???

Kemudian setelah itu harian KAMI (singktnnya lupa) memelesetkan menjadi Jendral-Jendral

Jendral-jendral nyang ibukota pating keleler
Emake Gerwani teko2 nyuliki Jendral
Oleh sak truk, musthi sedot sing toleh2
Jendral saiki wis dicekeli

Jendral-jendral pada disiksa
dijejer ditaleni dipelosoro
Emake Gerwani teko kabeh melu ngersoyo
Jendral-jendral maju terus dipateni

Sepertinya karena pemelesetan itu, alasan ORBA membumihanguskan lagu ini makin kuat. Pada perkembangannya, SIAPAPUN yang tetap menyanyikan lagu ini akan ditangkap aparat keamanan dengan tuduhan komunis.

[dari berbagai sumber, terutama kakak saya yg sangat menyukai lagu genjer2 ini kemudian memprovokasi saya, sehingga jadi tertarik untuk ingin tahu]