Kaya Kere Munggah Bale


Eling-eling kowe biyen dodol sego kering
bareng saiki dadi wong kondhang
kowe njur lali karo kahanan

Eling-eling kowe biyen dodol sego kucing
bareng saiki dadi wong gedhe
kowe kaya kere munggah bale

————
seorang dosen pernah menanyai kami -mahasiswanya- apakah sebelum di STAN pernah kuliah atau minimal diterima di univ lain. Tentu bisa ditebak jawabannya. Hampir semua mahasiswa di kelas pernah masuk univ & tidak tanggung2 jurusannya yg notabene favorit. Mendengar itu, dosen menghela nafas panjang & menyatakan penyesalan beliau. Malah saking gemasnya, beliau bilang, “Apa sih yang kalian cari di STAN? Kekayaan? Kalau memang itu, lebih baik kalian segera siapkan koper dan angkat kaki dari sini!!”.

Ya Allah pak.. sepertinya Anda kecewa sekali. Kecewa karena mengetahui lahan yang kami “incar” adalah lahan basah. Takut niat kami buruk. Takut kami akan meminta kompensasi atas pengorbanan kami meninggalkan “dunia” kami. Kecewa menyaksikan kami menanggalkan almamater kemahasiswaan dan mengganti dengan baju safari pegawai negeri. Memang tidak bisa dipungkiri, dalam kaidah manajemen keuangan pun disebutkan, high risk high return. High risk disini mungkin bisa menggambarkan pengorbanan yang besar. Semakin besar orang berkorban, semakin besar tuntutan pengembaliannya.

Di sisi lain, menjadi orang kaya tentu tidak salah. Orang baik yang kaya akan lebih banyak membawa manfaat daripada orang baik yang fakir. Tapi yang perlu dipertanyakan, apakah orang miskin yang baik akan tetap baik ketika menjadi kaya??

Hhh, perjalanan terus menanjak. Dan ketika sudah berada dipuncak, tidak banyak yang akan ingat bahwa mereka pernah berada di bawah..

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri. tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah2 dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yg telah menimpanya.” ( Q.S 7:12)

Advertisements

NgeLmu nyantrik

Dunia semakin tua. Semakin pikun. Lupa. Lupa akan sejarah masa lalu. Lupa akan keras perjuangannya dulu. Sekarang, tinggal ongkang-ongkang menikmati masa tuanya tanpa menyadari bahaya yg setiap saat siap menerkamnya.
——————–
Guru. Dalam tradisi kereta basa jawa sering disebut dengan diGUgu lan ditiRU. Terjemah bebasnya, semua perkataan maupun perbuatan seorang guru mestinya diteladani muridnya. Melihat begitu pentingnya peran guru tsb semestinya menempatkan guru pada posisi penting di hati muridnya.
Dalam tradisi ta’lim mutta’alim, disebutkan jika seseorang ingin ilmunya berkah, maka disarankan memberikan ‘hadiah fathihah’ untuk sang guru. Terlepas apakah tradisi tsb bid’ah dsb, yang ingin ditekankan adalah betapa wajib seorang murid memuliakan gurunya.

Tapi kawan, akhir2 ini malah saya banyak menemui hal2 yg tidak mencerminkan penghormatan seorang murid kepada gurunya (khusus kasus ini, mahasiswa kepada dosennya). Hubungan mahasiswa-dosen hambar, hanya sebatas formalitas menyampaikan- menerima, menyuruh- mengerjakan. Dan hubungan itu berakhir seiring berakhirnya kewajiban sks-nya. Padahal, orang bijak bilang -kita pun juga tahu- bahwa tidak akan pernah ada ‘mantan’ dosen.

Deskripsi riil, jika kita sekarang tingkat 2, berapa nama dosen tingkat 1 kita yang kita ingat? Pernahkah kita silaturahim ke rumah dosen? Sudah pernahkah kita mencium tangan beliau? Ah, jangankan seperti itu. Untuk berhenti membicarakan dosen2 kita saja susah. eh, dosen A killer banget, dosen B ngasih nilai pukul rata, dosen C ngoreksi ujian pake penggaris, bla bla. Belum lagi keluhan2 kita ketika setiap saat jadwal berubah, dosen tidak bisa datang, atau malah karena dosen on time.

Mereka dosen, kawan -bukan lembaga ikatan dinas- sehingga hubungan bisa berakhir setelah ikatan dinas selesai.

Udah zalim, bodoh puLa

“sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, & gunung2; maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan menghianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, ” (QS 33:72)

Dr Wahbah az-Zuhaili dalam at-Tafsir al-Munir menjelaskan bahwa amanah yg dimaksud adalah ketaatan dalam menjalankan kewajiban syar’i, seperti sholat, puasa dll serta kemudian menjaga harta, penglihatan, lisan, batin, tangan, kaki dsb.

Amanah keagamaan diatas -yg dibebankan kepada manusia atas diri mereka sendiri- begitu berat.. ya, karena kita adalah manusia yg amat zalim dan bodoh.. -apalagi ditambah amanah kekuasaan..
(kpda saudara/i ku yg baru menerima amanah -smangat ya!)

ya Allah, kami tahu bahwa kami tidak akan bisa luput dari kelalaian. maka dari itu ya Allah, biarkan alarm pengingat itu tetap berbunyi -dihati.

Maaf -jika Anda adalah orang tersebut

Ada saran buat mengendalikan mulut yg banyak bicara; candaan yg berlebihan; tawa yg terlalu; dan tingkah yang terlalu ekspresif?

Sudah banyak hal buruk terjadi gara2 itu. Orang lain pun jadi tak nyaman karenanya. Mungkin Anda salah satunya. Maaf, bagi Anda yang pernah merasa terganggu -baik penglihatan maupun pendengaran- oleh tingkah saya.

curhat, sifat:tidak penting

Jogging track itu rasanya menyempit. Sangat sempit. Seperti cuma 2-3 cm. Berat, tapi bisa juga senyum kulemparkan. Jdar!!! Jangankan berbalas, lirikan pun tak kudapat. Hanya ada ekspresi kusut itu.

Kenapa masih terasa seperti ini. Harapan bahwa ruang dan waktu mampu mengatasi semuanya -musnah. Padahal itu jalan terakhir, setelah semua dilakukan. Berusaha mengambil hati, bahkan sampai memalukan diri sendiri. Sia-sia.

Hwaaakh.. Adakah kesalahan yang tak termaafkan?