Kebaikan (belum) tentu baik

Dilema. Tidak jarang niat baik seseorang malah menjadi alasan kenapa dia tidak disukai orang lain. Menjadi orang jahat, dihujat. Menjadi orang baik2, malah dibenci. So??

Bersemangat dalam kebaikan adalah kebaikan juga. Militansi dalam belajar, tentu juga kebaikan.
Jangan membayangkan orang tsb saya! O, tidak sama sekali, kawan. Tapi teman saya, sebut saja Klething Kuning (hoho, tentu bukan nama sebenarnya). Tidak ingin menggosip, cuma ingin tahu pendapat kalian. Ah, pokoknya kawan, tidak perlu seluruh Mahasiswa STAN, tiga puluh tiga mahasiswa saja seperti dia, beu.. STAN bakalan terkenal di dunia persilatan (loh) akan kepandaian mahasiswanya.

Tapi, kembali ke topik, semangatnya yg terlalu itu malah membuat teman2nya ill feel.
Penasaran?? gampang, pokoknya cirinya khas
1. selalu, always, tidak bisa tidak, duduk di bangku terdepan, center, face2face dg dosen. kaya privat gitu de..
2. miss nyahut. minimal pasti ada dua suara di kelas, dosen dan si Klething Kuning. Menyempurnakan -bahkan kadang agak memaksa- kalimat dosen pun menjadi kebiasaan.
3. ratu nanya. Tapi kenapa ya setiap kali si kLething nanya, seisi kelas langsung batuk2, berdehem, atau minimal tersenyum.
4. tugas mania. Setiap kali dosen nanya ada tugas atau tidak, dengan “lugu” dan spontan jawab “ADA”. Lagi2, kenapa kelas jadi ribut??
5. tidak jarang ruangan yg berisi 40 orang serasa jadi 2 orang, seperti guru privat dan anak didiknya. Mereka berdua mendiskusikan “bahan asing” yg tak pernah kami pahami.
6. Tapi memang tak salah, IP mantap.

Dan hari ini, para lelaki khususnya, sepertinya bersekongkol ngerjain klething kuning. Semua tempat duduk depan ditempati hingga tinggal tersisa satu bangku dipaling belakang. Terang saja, Klething Kuning ngomel2. tapi apa daya..

Lalu, bagaimana dengan saya?? Saya mah nonton aja. Tapi memang kadang ikut2an sebel kalau dia bikin “masalah”.
Jadi penasaran, perasaannya gimana ya dengan perlakuan teman2 dikelasnya??
Ah, orang ingin maju kok susah..

Advertisements

=?

Seorang ustadz pernah melontarkan sebuah pertanyaan dalam suatu majelis ilmu, “siapa yang mendapatkan pahala lebih besar antara:
1. orang yang menunggu2 adzan subuh dengan perasaan sukacita, dan ketika adzan berkumandang segera menuju masjid dengan penuh semangat; dengan,
2. Orang yang ketika adzan bangun ogah2an tapi tetap menunaikan shalat jamaah di masjid walaupun nggerundel?”
ya, spontan dalam benak saya menjawab orang pertama yang mendapat pahala lebih besar.
Tapi ternyata, ustadz tersebut bilang, “ya sama” kemudian beliau mengutip sebuah ayat, “berangkatlah kamu dalam keadaan merasa ringan atau berat..”.
Oo, iya juga ya..

Nah, lantas sekarang bolehkah saya menganalogikan keadaan diatas dengan keadaan ketika saya berangkat kuliah?
Apakah sama pahalanya ketika saya berangkat kuliah dengan semangat ’45 dengan ketika
saya “pokoke budhal”??
Pertanyaan tidak penting, hanya semata2 karena pemahaman saya yg cetek dan ketidaknyamanan akan kegiatan perkuliahan beberapa hari ini..

Hhe,, sbenernya hnya sdikit mengeluhkan kuliah. Selama 4 hari baru kuliah 3 x pertemuan.. Dan mata kuliah kosong tanpa pemberitahuan sebelumnya.. Jadi b2k2 ( bolak balik kampus kos).. Cape de..

Tang Ting Tung yang bikin Dag Dig Dug

Tiap kali laju kereta melambat dan mulai terdengar tang ting tung, saya semakin deg2an. Kenapa? Karena nanti pasti bakalan ada penumpang yang naik dan kedudukan (baca:tempat duduk) saya terancam. Terhitung sejak pertama duduk, saya sudah 2 kali merasakan penggusuran(ow) karena ada yang meminta hak duduknya. Pasalnya, saya hanya punya tiket tanpa nomer gerbong &tempat duduk, artinya tiket berdiri, bung!

Ya, karena beberapa pertimbangan, saya memutuskan balik ke kampus hari ini. Konsekuensinya, sendirian. Padahal biasanya beli tiketnya nitip temen. saya paling males berlama2 di stasiun, hasilnya ya ini, tiket berdiri. Lagian sayang kalau harus berpaling dari si Putih yang diberi nama seperti sungai di Blitar ini. Sayang duitnya. Hohoho. (Dasar! Bilang aja gak punya duit!! )Karena itu juga kali ya mengapa dalam rumah tangga istrilah yang memegang keuangan. Lebih hati2 mengeluarkan uang, kalau tidak mau disebut pelit. Tapi di STAN kok perempuannya dikit ya.

kembali ke tang ting tung..
Setelah merasakan kehidupan nomaden (wualah), di tang ting tung ke sekian, datang seorang bapak memakai topi bertuliskan sebuah merk stasiun TV swasta di Jakarta. Nah benar, yang saya tempati sesuai dengan nomer di tiket beliau. Ketika saya siap2 mau mengungsi (lagi), bapak itu bilang, “gakpapa mbak, di situ ja dulu” kemudian pergi meninggalkan saya yang hanya melongo. Dan ternyata si bapak duduk di bawah dekat pintu. ow, jadi gak enak..

Deg2an masih berlanjut. kira2 si bapak kesini lagi tidak ya meminta haknya??

Wong Ndeso (kaping pisan)

Sehari, dua hari, tiga hari saya lalui di kampung, ya kampung dalam arti sebenarnya. Tidak perlu malu karena saya tahu banyak mahasiswa STAN yang berasal dari kampung juga (kecuali yang tidak). Ya, dan beberapa hari ke depan saya akan banyak menulis tentang kampung saya.
Secara geografis, letak desa saya cukup jauh dari ibukota kabupaten, Ponorogo, sekitar 30 km. Bisa dibayangkan bagaimana keadaan desa saya yang jauh dari akses teknologi. Di lihat dari hal tersebut, apa yang tergambar di benak teman-teman mengenai masyarakatnya? Betul. Ndeso. Seperti Saya..hhe.

Saya ingat, ketika itu saya berkunjung ke kerabat yg (maaf), tempatnya lebih ndeso. Kerabat tersebut punya anak yg usianya sekitar 7 tahunan. Ketika mau saya ajak main, e dia malah lari bersembunyi di balik lengan ibunya dan mengintip malu-malu. “Lho pye to? ki lo ana mbak tri, sing sekolahe neng kutho jakarta kae.. kok malah ndelik”. waduh, saya tidak tahu bagaimana gambaran saya di benak adik tadi. Sehebat apakah wong (saka) kutha dalam bayangannya sehingga ia begitu malu bermain dengan wong (saka) kutha? Dek dek.. mbak kan aslinya juga ndeso dan sekarang juga masih, ndeso.

Jangan heran, di zaman sekarang masih banyak anak-anak yang sama sekali belum tersentuh hiruk pikuk modernisasi zaman. Bahkan orangtuapun seakan tak acuh. Di masyarakat saya saja, masih banyak orangtua yang tidak peka akan tuntutan zaman dan masih cenderung konservatif dalam mendidik anak-anaknya. Anak-anak diajari dan dibentuk sesuai harapan orangtuanya. Anak yang baik adalah jika duduk tangannya selalu ngapurancang dan jika di perintah orangtua, sendiko dhawuh.. Hal-hal yang diluar harapan dianggap penyimpangan dalam konteks budaya setempat. Katakanlah ketika orangtua memarahi anaknya karena “dianggap” bersalah dan anak itu membantah, maka dianggap tidak sopan tanpa mengizinkan si anak membela diri. “Di kandhani wong tuwa ki ra entuk njawab”. Ah, bagaimana sikap kritis bisa tumbuh…
Wong ndeso.. Wong ndeso..

sekarang cuacanya…

Wah, hari ini mendung ya?? Ya udah deh, berarti gak usah dikerjain ga papa.
Eits, tapi kenapa mesti ga usah dikerjain??
iya juga ya, kenapa mesti tergantung cuaca? Padahal kan tidak selamanya kita berada di cuaca yang cerah (ya iyyalaaah). Jangan dibiasakan ya, nak!! Bagaimanapun cuacanya, apapun makanannya, minumnya teh botol s***o (Loh??). ya memang sih, cuaca yang cerah membawa energi yang lebih bagi kita, tapi kita tidak boleh tergantung hanya dari energi yang ada diluar kita. Gali, keruk, eksploitasi pertambangan sumber energi dari dalam diri kita!
jadi kesimpulannya, jangan tergantung pada motivasi dari orang lain atau lingkungan sekitar!!!